
Sejak pertama kali membaca Balada Ching-Ching, kumpulan cerpen karya Maggie Tiojakin, saya merasa menemukan karya yang beda dengan penulis Indonesia lainnya. Cerita-ceritanya menyusup perlahan menyentuh kepekaan saya, membuat saya berkali-kali terpesona, betapa sepotong cerita pendek bertema keseharian hidup dengan rangkaian kalimat sederhana bisa menggugah empati saya pada tokohnya. Seperti adegan suatu film, ia menyuguhkan realita keseharian hidup orang biasa tanpa menghakimi. Saya baca berulang kali cerita-cerita pendeknya, yang kemudian saya sadari membuat saya jadi ingin lebih menghargai keseharian saya sendiri yang sarat dengan kecemasan, kejenuhan, dan kekurangan di sana-sini. Sejak itu, saya selalu menunggu-nunggu karya Maggie Tiojakin berikutnya.
Kelahiran novelnya yang pertama: Winter Dreams, membuat saya excited seolah-olah saya ambil bagian dalam proses penulisannya. Sebelum novel itu di tangan saya, rasa penasaran saya menggelitik setiap kali melihat gambar cover-nya yang menimbulkan pertanyaan. Mengapa bergambar burung yang hinggap di tepi gedung? Mengapa langit dan sekitarnya bernuansa kuning kecoklatan seperti itu? Ketika saya mulai membacanya, saya tak dapat berhenti tertarik pada tokoh utamanya: Nicky F. Rompa.
Awal cerita menggambarkan hubungan sang tokoh, Nicky F. Rompa, lelaki berusia 20-an, dengan keluarganya di Jakarta. Lalu, ia meninggalkan bangku kuliahnya dan berangkat ke Boston, Mass. Di sana ia tinggal dengan keluarga Tante Riesma. Interaksinya dengan keluarga barunya, sepupunya (Leah), teman sebaya, pacarnya, dan majikannya dalam lingkungan yang multikultural diceritakan dengan lugas. Rangkaian adegannya mengajak saya mengikuti dan menikmati setiap pengalaman baru Nicky dengan antusias tanpa ingin tergesa-gesa mempertanyakan makna setiap bagiannya dalam hidup Nicky.
Kesehariannya sejak berbagi apartemen dengan Dev Akhtar, seorang pria asal Pakistan, dan kekasihnya, Natalie Black, seorang asisten editor keturunan Yahudi, melibatkan imajinasi saya dalam rangkaian cerita yang sarat dengan persahabatan, cinta, dan bagaimana mereka berbagi pengalaman hidup dalam dialog dan interaksi menarik.
"Kau punya tujuan tertentu di sini?" tanya Natalie.
"Nothing," jawabku. "And everything."
"That's exactly where our dreams lie," kata Dev.
Di Amerika, Nicky mulai membangun mimpi. Artin Ruci, warga keturunan Albania yang memimpin kelas Creative Writing yang diikuti Nicky, adalah bagian dari penggugah mimpinya yang hidup perlahan tanpa ia tahu akhir dari mimpi itu. Di kelas itu pula ia mengenal Esme, seorang wanita Meksiko yang sepuluh tahun lebih tua darinya, yang kemudian menjadi bagian dari geliat hidupnya di Amerika. Pekerjaannya sebagai sopir limousine memberi warna tersendiri dalam hidup Nicky sebagai seorang imigran ilegal di Amerika.
Cinta dan emosi antar kekasih tidak tampil glamor dengan kata-kata berbunga dan adegan romantis, juga tanpa kecengengan yang mendikte tanggapan pembaca. Ia menyusup lambat-lambat, meningkatkan simpati perlahan, kemudian meletupkan empati yang membuat saya tak dapat melepaskan kepedulian saya pada Nicky.
Maggie Tiojakin adalah penulis yang berani mendorong pembaca untuk menginterpretasi cerita dengan kebebasan sepenuhnya. Ia menyuguhkan adegan yang mewakili 50% jembatan penghantar pesan dan menyerahkan 50% lagi kepada pembaca untuk memaknai setiap pesan dalam kaitannya dengan hidup kita sendiri. Seperti yang saya ingat Maggie Tiojakin pernah bilang dalam suatu wawancara saat launching novel ini, bahwa membaca adalah pengalaman yang sangat personal; saat itu terjadi interaksi personal antara penulis dan pikiran pembaca.
Setelah membaca Winter Dreams, spontan saya tertarik untuk mempertanyakan fase hidup saya sendiri, dimulai sejak menjelang usia 20-an, hingga sekarang. Saya jadi paham apa yang dikatakan orang, bahwa seperti itulah 'kerja' dari suatu karya yang jujur: ia tak memberi jawaban, tetapi menggugah pertanyaan.
Saya semakin setia menunggu karya Maggie Tiojakin berikutnya.
Sepakat Ver, novel yg ga biasa ya *jempol buat Maggie*
BalasHapusOrin, iya. Baca novel ini terasa beda dg novel-novel penulis Indonesia lainnya. Khasnya Maggie ya :)
BalasHapusoooh mantap yah novel ini?
BalasHapustertarik deeh :)
anw..salam kenal
Hai, Helvry! Salam kenal juga ya :) Ya, betul..., Winter Dreams novel yang bagus. Enjoy! :))
BalasHapus