
Walaupun dengan segan, saya katakan bahwa saya sering.
Yang paling sering terjadi adalah iri yang mengalir halus dari dalam benak saya kepada perempuan sebaya yang terlihat serba bisa dan mandiri, punya karir yang bagus, pekerjaan yang ia cintai, dan kemapanan dari income-nya sendiri sehingga ia siap menjadi seorang tulang punggung keluarga seandainya diperlukan.
Ada jenis rasa iri lain yang terasa positif dan sah, adalah kepada penulis perempuan yang produktif dan karyanya dibaca banyak orang; bagian dari lamunan saya di siang hari bolong ketika berkutat di dapur, sambil tangan saya sibuk menyiapkan kue-kue untuk diantar ke toko.
Rasa iri ini mendorong saya menyodorkan alasan-alasan mengapa hidup saya tidak sesukses yang saya inginkan dan sukses menurut umum. Kemudian, saya akan menyalahkan terapi-terapi untuk kehamilan yang telah menyita konsentrasi kerja, menyusutkan tabungan yang seharusnya dapat menjadi modal usaha, membuat saya merasa terhalang secara fisik karena tak boleh capek.
Saya juga akan menyalahkan cara saya memilih bidang kuliah saya belasan tahun yang lalu.
Saya juga pernah menyalahkan karir di kantor yang tidak sesuai dengan harapan.
Dulu, saya kira rasa iri itu hanya muncul dalam benak dan kita selalu dapat mengendalikan diri sehingga tidak membenci dan tidak senang ketika orang lain mengalami kesulitan.
Kini, setelah saya belajar Abhidhamma dan mengamati diri sendiri, ternyata saya semakin mengenali akar dari sebuah rasa iri, yakni: kebencian. Kebencian itu bisa timbul secara kasar dalam bentuk kemarahan dan dendam, bisa pula dalam wujud yang halus: hadir sebagai rasa iri, bercampur dengan keserakahan--ingin memiliki ini dan itu.
Melihat kenyataan tentang kondisi batin kita yang sering memunculkan keserakahan dan kebencian, adalah suatu hal yang pahit sekaligus manis.
Pahit, karena tentunya tidak menyenangkan mengakui bahwa kita yang ingin terlihat baik ini punya keserakahan dan kebencian yang berseliweran setiap waktu.
Manis, karena buah dari penyadaran selalu manis. Ia akan menghadirkan perspektif baru.
Kemarin dan hari ini, kembali saya terbelit rasa iri. Mendadak saya merasa tua karena baru memulai sesuatu yang saya sukai di usia sekarang. Saya berkutat di dapur dengan lebih banyak berdiam diri, melamun kembali tentang pilihan-pilihan yang membawa saya terlambat menyadari minat saya yang sebenarnya. Basi, tapi kerap saya ulang-ulang dalam pikiran.
Lelah dan merasa kurang fit, saya tidur siang, membawa-bawa pikiran tentang hari-hari yang sudah lewat…
Karena sejak weekend lalu saya belajar bersama 4 orang lain di bawah bimbingan Maggie Tiojakin dalam creative writing class yang diadakan Fiksi Lotus, saya banyak berpikir tentang pembentukan karakter dalam fiksi. Siapapun karakter itu, apakah ia tokoh fiktif protagonis ataupun antagonis, kita berusaha membuat mereka believable dengan adanya motif/latar belakang dalam setiap tindakan mereka.
Bangun tidur sore ini, tak disangka pemikiran tentang rancangan tokoh-tokoh fiktif itu membawa saya pada kejernihan pikiran.
Letupan di hati sore ini: bahwa everyone has their own story. Setiap orang punya cerita hidup mereka sendiri. And I love my own story. Dan saya menyukai cerita hidup saya sendiri.
Sore ini, saya bukan sekadar menyadari, tapi saya merasakan bahwa setiap pengalaman adalah unik. Setiap pribadi membawa pengalaman yang berbeda. Dan setiap pengalaman yang walaupun sama, akan diolah secara berbeda oleh masing-masing, tergantung bagaimana ia mengolah diri dan sudut pandangnya.
Kembali saya mensyukuri setiap detail perjalanan bersama suami saya, sejak mengenalnya 14 tahun yang lalu. Bersama-sama up and down dalam proses berobat untuk punya anak, tanpa saya sadari selama ini punya sisi manis yang tak akan dapat dimengerti orang lain selain kami berdua. Setiap ketegangan, kerepotan, kekecewaan, semangat, rasa bersalah, perasaan diterima, saling menghibur, bercinta spontan ataupun karena jadwal masa subur—ternyata telah merajut lembaran hidup yang unik, membentuk cinta yang semakin sulit diungkap dengan berapapun banyaknya kalimat.
Tiba-tiba saya kembali menyukai setiap pertemuan dengan siapapun dalam hidup ini. Orang tua, kakak-kakak saya, keponakan, guru, sahabat, pembantu rumah tangga, tukang kelapa langganan….
Spontan saya menyukai mereka semua. Saya jadi ingin selalu menerima mereka apa adanya, karena mereka memperkaya pengalaman saya sedikit ataupun banyak.
Saya jadi mensyukuri penderitaan yang pernah ada, karena telah menuntun saya pada buku-buku yang bagus dan mengenal Dhamma class setiap Jumat, guru dan teman-teman yang saya temui, dan merasa jatuh cinta lagi pada mereka.
Mendadak saya tak pernah menyesali apapun juga yang saya lakukan. Mendadak saya merasakan betapa konyolnya kita ketika ingin dikagumi. Saya ingin, seandainya bisa, mulai hari ini dan seterusnya saya tak ingin berpikir apakah sikap dan tindakan saya bisa memberi kepuasan pada setiap orang secara merata. Tak ingin siapapun menyetir nurani saya, menentukan cukup atau kurang, sukses atau gagal, keren atau tidak keren, populer atau tidak populer.
Hari ini, saya merasakan setiap pribadi adalah unik. Saya ingin menerima mereka apa adanya. Menghargai bahwa setiap orang punya latar belakang yang tidak kita mengerti, sehingga kita tak berhak menghakimi siapapun. Selain itu, tak ada gunanya iri pada siapapun juga, karena masing-masing punya kekayaan hidup mereka sendiri yang tak dapat dibandingkan satu dengan lainnya.
Hari ini, saya mencintai sejarah hidup saya sendiri. Saya tak ingin menggenggamnya. Saya hanya ingin menghargai siapapun dan apapun yang hadir di hadapan saya.
Everyone has their own story, I love to see theirs, and I love mine.
Hai Ver, such a nice post. Senang bisa 'berjumpa' lagi disini ^-^
BalasHapusHai, Rin! Thanks udah main2 ke sini :)) Seneng banget bisa kenalan. Keep in touch ya! :))
BalasHapusinspiratiff
BalasHapusHelvry, makasih ya :) Komentarmu menimbulkan semangatku utk nulis :)
BalasHapussama-sama mbak :)
BalasHapussaya juga kadang merasa minder kalau membandingkan diri dengan teman-teman yang sudah ini..itu..
mungkin kita pada dasarnya kembali untuk bersyukur yah mbak
salam