Rabu, 20 Juli 2011

Tentang Pangan Yang Mengusik Angan


Beberapa hari lalu di Harian Kompas, saya lihat foto seorang anak Afrika duduk lesu di dalam sebuah baskom. Hitam legam, dengan tangan-tangan tak berdaging dan dada kurus yang menunjukkan barisan tulang iga di atas perut yang sedikit buncit. Saya yang sedang tak ingin memikirkan kesedihan semacam itu membalik cepat halaman koran menghindari perasaan miris yang seketika muncul. Saya teringat pada judul buku Prie GS, seorang budayawan, yang berjudul: Hidup Bukan Hanya Urusan Perut. Kalimat itu jelas tak berlaku bagi anak itu. Bagi dia, hidup seluruhnya adalah urusan perut.

Foto itu teringat kembali ketika saya menyusuri Foodmart Gourmet, swalayan yang sebagian besar barang dagangannya adalah makanan, setelah mengantar kue yang saya titipkan di toko itu. Berbagai buah, sayuran, makanan kaleng, roti, bahan-bahan makanan memenuhi seluruh rak toko dengan display yang menarik. Selama ini tidak saya sadari, berlimpahnya bahan makanan yang saya lihat sehari-hari menampilkan kemeriahan alam yang sebenarnya semakin lama semakin goyah. Varietas tanaman semakin menyempit jenisnya. Lahan-lahan pertanian tidak didayagunakan dan didukung seoptimal mungkin.

Dari yang saya baca di National Geographic, jagung manis, selada, bit, kubis, semangka, kacang polong, lobak, labu, tomat, mentimun, digambarkan merosot ratusan varietasnya dalam kurun waktu 80 tahun. Varietas jagung manis yang terhitung ada 307 banyaknya pada tahun 1903 hanya tinggal 12 varietas di tahun 1983. Selada yang banyaknya 497 varietas, menurun menjadi hanya 36 varietas dalam kurun waktu yang sama. Dari ratusan, punah hanya menjadi belasan atau puluhan varietas saja, berarti kira-kira punah sekitar 90% dari jumlah semula. Bergantung pada jenis pangan yang sedikit adalah suatu kondisi yang beresiko tinggi, karena iklim dan wabah penyakit tanaman dapat memusnahkan bahan pangan secara besar-besaran serta mengakibatkan kekurangan pangan atau bahkan kelaparan yang meluas. Para ilmuwan di bidang ini berusaha memelihara dan menemukan kembali varietas bahan pangan, meneliti dan melestarikan bibit-bibit tanaman pangan, demi mengatasi ancaman kekurangan pangan di masa yang akan datang. Saya tak kenal seseorang seperti mereka, memahami pekerjaan mereka, dan hanya sesekali terharu merenungkan betapa luar biasanya manfaat upaya mereka bagi bahtera pangan umat manusia.

Betapa sedikitnya orang seperti mereka dibandingkan penduduk dunia seperti saya, yang hanya tahu membeli makanan, menikmati makanan, terheran-heran melihat jagung manis berbiji hitam dan ungu di toko bahan pangan, berjenis-jenis kentang organik di supermarket, dan bahkan kadang-kadang tidak menghargai bahan pangan yang terbuang. Saya pernah mengabaikan hampir setengah karung terigu (yang sebagiannya kemudian rusak) ketika saya memutuskan berhenti membuat roti untuk cafe kakak saya, yang mana itu hanya satu contoh di antara banyak contoh lainnya.

Bercocok tanam tak pernah terlintas dalam daftar keinginan saya yang berjibun banyaknya. Akankah saya memulai? Saya tidak tahu. Sama sekali tidak punya gagasan tentang apa yang bisa saya mulai, selain mengurangi sampah makanan yang terbuang dan mengurangi nafsu. Mengatur pola makan dengan mengurangi konsumsi produk hewani dan memperbanyak nabati. Syukur, selama dua tahun terakhir ini, saya dan suami mulai berusaha mengurangi konsumsi daging dan unggas, atas alasan kesehatan dan kepedulian pada hewan ternak dan lingkungan. Seandainya saya punya anak, saya ingin mendidiknya sejak dini untuk menghargai apa yang dia makan sebagai bagian dari kebutuhan yang bahkan tak dapat dinikmati oleh sebagian umat manusia secara layak. Lebih jauh lagi khayalan saya pagi ini, semoga dia akan jadi bagian dari penghasil dan pelestari bahan pangan di negeri ini.

Gambar diambil dari: http://www.asaljangan.com/wp-content/uploads/2010/07/Healthy_Food.jpg


0 komentar:

Poskan Komentar