Senin, 18 Juli 2011

Penerimaan Tak Butuh Angka dan Matematika


Tulisan ini hadiah ulang tahun untuk diriku sendiri, di usia 35, tanggal 31 Juli nanti.


Kau bertahan hidup karena kau diterima ketika hadir di dunia ini. Tangan yang berhati-hati dengan wajah-wajah yang tersenyum membungkusmu dalam selimut yang hangat. Memandikan, memberimu susu setiap tiga jam, melayanimu setiap kau berteriak memberitahu popokmu basah. Seandainya kau katakan bahwa orang tuamu meninggalkanmu di sebuah kardus di depan pintu sebuah panti asuhan, pada akhirnya ada tangan-tangan yang menyambut dan menerimamu. Mereka memberimu makan, memberimu kehidupan.

Sebelum kau tahu arti menerima dirimu sendiri, kau telah mengenal rasa sebuah penerimaan. Membungkusmu dengan rasa aman, hingga suatu hari mereka melepasmu untuk berjalan sendiri. Memutuskan sendiri. Belajar setiap saat untuk menerima dirimu sendiri, lebih dari apapun.

Penerimaanmu pada dirimu sendiri selayaknya sudah kau pelihara. Sebenarnya ia semudah engkau memeluk pundakmu sendiri dengan kedua lenganmu. Selembut tepukanmu pada bahumu ketika kau perlu. Seringan engkau menggerakkan sisir yang membelai kulit kepalamu. Sehangat telapak tangan yang memijat tengkukmu yang tegang dan lelah.

Penerimaan itu mudah, sebelum kau sendiri yang membuatnya jadi rumit. Kau buat hidupmu penuh matematika. Kau ukur dirimu dengan angka-angka. Umurmu pun hanya kau pandang sebagai angka berkaki yang mengejarmu saat kau berlari menggapai angka-angka lainnya. Kau nilai setiap jengkalmu dengan hanya apa yang terlihat mata. Kau percayai itu semua sebagai kebenaran.

Padahal penerimaan tak butuh angka dan matematika. Namun penerimaan mampu meletupkan kebahagiaan yang tak pernah habis kau bagikan. Ketika kau lembut menerima dirimu sendiri, tak ingin kau sakiti ia walau seujung rambut pun. Tak terbersit keinginan untuk menodai batinnya yang halus dan peka. Damai menarikmu mendekat. Kemarahan enggan mendekat. Andai pun seseorang berteriak 'anjing' padamu, kau tertawa tak peduli, karena kau tahu tak ada ekor menempel di belakangmu.*) Itulah dahsyatnya penerimaanmu pada dirimu sendiri.

Kekurangan dan kelebihanmu bukan lagi jadi soalmu. Dirimu kompleks dan dahsyat. Matematika tak mampu menjelaskan rumusan terjadinya engkau yang sekarang ada. Yang jadi soalmu hanya bagaimana engkau menggunakan tanganmu untuk mengalirkan keberuntungan pada yang lain, sebagaimana engkau telah beruntung selalu ada seseorang yang menerimamu, yakni dirimu sendiri.


Dalam bus dari Lippo Karawaci menuju Citra Raya, 18 Juli 2011.

*)
Andai pun seseorang berteriak 'anjing' padamu, kau tertawa tak peduli, karena kau tahu tak ada ekor menempel di belakangmu. ~ Mengutip dhammatalk Ajahn Brahmavamso.

0 komentar:

Poskan Komentar