Gambar diambil dari: http://thewitcontinuum.files.wordpress.com/2010/01/the_space_between_us_by_mscrys_kyou.jpgKubayangkan kita berjalan bersisian di suatu pagi. Kau tak perlu menggandeng tanganku. Tak perlu pula merangkulku. Biarkan kedua tangan kita bergerak bebas dan ringan. Tanpa beban. Seriang dan sebebas langkah dua sahabat yang mengejar kepak sayap kupu-kupu. Saling bercerita tentang masa lalu dan masa depan.
Tanganmu bergerak-gerak penuh semangat, menceritakan mimpimu. Mimpi masa kecilmu, dan mimpimu saat ini. Impianmu adalah impianmu; impianku adalah impianku sendiri –tak harus menjadi mimpi kita bersama. Tangan kita menunjuk bagian langit yang berbeda. Tetapi, kilau mata dan pundak kita yang sesekali bersentuhan, membuat kita saling mengerti betapa pentingnya impian itu untuk kita masing-masing.
Kemudian kita mulai membahas langkah yang perlu. Kupastikan, caramu akan banyak berbeda dengan caraku. Akhirnya, kita pasti bertengkar tentang siapa yang benar. Jika kau marah karena umpatanku, matamu akan memandangku tajam. Mulutmu memberengut setelah balas mengumpat berkali-kali. Begitu bermenit-menit lamanya, sampai kita puas dan diam.
Kemudian pundak kita akan berjauhan. Menahan diri untuk tak saling bercakap. Tapi, langkah kita tetap ringan. Tanpa beban, karena amarah yang kita muntahkan itu segera terhempas dan menguap pergi, hingga tak sempat membuat kita muak. Tak menunggu hingga matahari terbenam, perlahan pundak kita mendekat lagi. Kembali mengejar kepak sayap kupu-kupu. Bercerita kembali tentang masa lalu dan masa depan.
Pada akhirnya, kau tak harus sepakat dengan caraku, demikian sebaliknya. Tetapi, kita telah berjanji untuk saling memberi ruang. Sepanjang kita menghormati nilai-nilai yang kita sepakati bersama untuk tak ingkar dari nurani, kubiarkan kau dengan caramu, dan kaubiarkan aku dengan caraku. Bercerita lagi, bertengkar lagi. Bercerita lagi, bertengkar lagi. Demikian seterusnya.
Sejuta pertengkaran itu hanya akan semakin membebaskan kita dari belenggu. Sejuta dialog adalah kompas bagi kita. Sejuta langkah ringan itu hanya akan membuat kita saling mencintai tanpa rasa saling berkorban. “Jangan berkorban,” begitu selalu kataku padamu. “Pengorbanan hanya akan menjadikan kita sepasang manusia yang saling menyayangi tetapi tak bahagia.”
Kubayangkan, saat rambut kita memutih dan bergerak tertatih, kita tetap mengejar kepak sayap kupu-kupu. Saling bercerita tentang masa lalu dan masa depan. Menunjuk bagian langit yang berbeda. Tetapi, hati kita tahu, bahagia itu ada. Kita selalu tahu, sahabat adalah kamu dan sahabat adalah aku. Bukan tercipta dari gandengan tangan. Tetapi, lahir dari ruang kebebasan di antara dua pundak yang sesekali bersentuhan.
Tangerang, 5 Januari 2011
Pengorbanan hanya akan menjadikan kita sepasang manusia yang saling menyayangi tetapi tak bahagia -------> aaahhh..... suka ma kalimat ini
BalasHapusYup :)) Ruang dan kebebasan berekspresi menurut gue adalah landasan persahabatan yang langgeng.
BalasHapus