Jumat, 17 September 2010

Kehidupan

Hari ini, saya sadari bahwa kehidupan saya hanyalah proses. Saya dikatakan hidup, karena saya memiliki 5 bagian yang selalu berubah dan bergerak. Lima bagian itu adalah: jasmani, perasaan, penyerapan atas setiap pengalaman, bentuk-bentuk batin yang netral, baik dan buruk, serta pikiran/kesadaran.

Lima bagian itulah yang membentuk hidup saya, sehingga saya dikatakan terdiri dari batin dan jasmani. Jutaan sel hidup pada jasmani saya setiap saat lahir, tumbuh, berkembang, dan mati. Jika sel-sel dalam tubuh saya berhenti prosesnya, saya dikatakan telah mati. Selain itu, saya disebut mahluk yang tidak sekadar hidup secara jasmani, karena memiliki keempat aktifitas rohaniah tersebut di atas.

Tanpa saya sadari, jasmani saya selalu berubah. Tumbuh, berkembang, dan kemudian mengarah pada kelapukan. Bukan hanya melintasi waktu bertahun-tahun, tetapi sebenarnya proses tumbuh-kembang-pelapukan itu terjadi setiap detik, setiap se-per-sekian detik. Saya seperti sebuah bohlam yang berpijar, terlihat menyala kontinyu padahal nyalanya terbentuk dari percikan-percikan yang terjadi satu per satu.

Ketika saya bayi, proses lahir, tumbuh, dan berkembang terlihat jauh lebih dominan dibandingkan proses pelapukan. Tentunya, jika saya hidup semakin lama, yang disebut bahwa saya semakin tua, proses pelapukan itu lebih banyak terjadi dalam jasmani saya dibandingkan dengan proses lahir, tumbuh, dan berkembang. Proses pelapukan itu pun sudah mulai terlihat jelas saat ini pada diri saya. Rambut putih semakin banyak. Kerut-merut di kulit wajah dan leher mulai terlihat. Tak sekencang dulu, tak sesegar dulu. Walau sekeras apapun seandainya saya menambahkan krim perawatan wajah dan makanan bergizi tinggi, ia hanya akan menolong kulit saya lebih lambat terlihat menua. Tetapi, pelapukan itu sesungguhnya selalu terjadi dan tak dapat dihindari.

Karena tak melihat realitas itu, saya sering mematut wajah di cermin. Mengagumi bagian wajah yang saya anggap menarik. Lupa bahwa saya sedang mengalami pelapukan yang tanpa henti. Bukan hanya pada jasmani, tetapi juga lupa bahwa kekaguman saya itu hanya bersifat sementara. Karena belum sampai semenit kemudian, saya mulai tak puas terhadap cacat dan noda pada kulit saya. Saya mulai tak puas dengan bentuk badan dan model rambut saya. Kurang ini, kurang itu. Harusnya begini, harusnya begitu.

Tanpa saya sadari, saat itu saya menderita oleh rasa tak puas itu. Saya mulai memikirkan rencana-rencana untuk mengurangi penderitaan itu. Saya mulai berpikir harus begini dan begitu untuk memperbaiki penampilan saya. Mulai berpikir bahwa saya butuh baju-baju yang bagus dengan warna menarik supaya terlihat cantik dan muda. Saya menjadi ingat bahwa saya harus rutin olah raga di pusat kebugaran supaya segar dan lebih muda, seperti artikel yang saya baca di koran pagi ini.

Keinginan demi keinginan. Rencana demi rencana. Tujuan demi tujuan. Hanya itu yang mendorong saya untuk terus hidup dan mempertahankan hidup. Padahal, untuk memenuhi itu semua, saya harus menahan diri mengalami berbagai batasan, menghadapi orang-orang yang tidak saya sukai, menahan sakit asal bisa lebih cantik dan sehat, mencari berbagai hiburan supaya terhindar dari kebosanan, kesepian, dan kemurungan. Selain itu juga seringkali kecewa karena cita-cita yang tak tercapai, keinginan yang tak terpenuhi, harus berpisah dengan orang yang saya sukai/cintai.

Hari ini saya sadari, rupanya inilah yang disebut hidup. Berubah dan berubah. Lahir, tumbuh, berkembang dan lapuk. Tak ada jasmani yang persis sama dengan yang kemarin dan tadi pagi. Tak ada pikiran yang tetap, selalu berubah, selalu bergerak. Pikiran atau gagasan yang pernah saya anggap cerdas dan saya banggakan, ternyata juga berlalu. Seringkali digantikan dengan pikiran yang bergandengan dengan perasaan malu dan kecewa. Pikiran yang disertai perasaan malu dan kecewa, juga ternyata berlalu. Kadang-kadang juga timbul pikiran untuk berbuat baik, walau seringkali juga disertai dengan keinginan supaya disukai dan dihargai.

Ah, rupanya hidup tak pernah tetap. Tak dapat dipegang. Rasa puas dan tak puas berganti-ganti. Rasa senang dan sedih bertukaran waktu. Kecewa dan bangga tak pernah sama. Saya tak dapat mengendalikan supaya keinginan saya dapat terwujud setiap kali saya inginkan. Yang dapat saya lakukan hanyalah melaksanakan proses-proses supaya keinginan itu bisa terlaksana. Jika kepanasan, saya hanya bisa nyalakan pendingin atau tak banyak bergerak supaya panas itu tak terlalu menyengat. Jika kedinginan, saya hanya bisa menarik selimut lebih rapat atau berdekatan dengan sumber panas. Tetapi, pikiran saya tetap tak dapat meminta panas dan dingin itu reda. Pikiran saya tak dapat menghentikan rasa sakit saat itu juga. Pikiran saya tak dapat menahan saya untuk tidak timbulnya keinginan. Saya bukan pikiran saya. Saya bukan pengendali jasmani saya. Pikiran saya bergerak terus, namun tak melapuk seperti jasmani yang melapuk dan mati, karena ia tak butuh makanan materi untuk tetap hidup. Saya bayangkan, ia terus bergerak tanpa henti.

Saya jadi melihat kehidupan ini sebenarnya arena ‘berbahaya’. Sedikit-sedikit, timbul pikiran serakah pada saya, ingin ini, ingin itu yang sebenarnya tak saya butuhkan. Sedikit-sedikit, menilai orang lain dan memberinya cap: ‘baik’, ‘kejam’, ‘nakal’, ‘cantik/tampan’, ‘cerdas’, ‘bodoh’. Kadang-kadang, terprovokasi pula oleh sikap orang lain, sehingga membuat saya jadi marah, kesal, bahkan benci, entah pada orangnya atau pada keadaan. Ah, memang berbahaya.

Padahal, bukankah sudah saya sadari tadi, bahwa 5 bagian kehidupan saya itu adalah proses? Jasmani yang berproses. Perasaan yang berproses. Pencerapan pengalaman yang berproses. Bentuk-bentuk batin yang berproses. Pikiran yang berproses. Tak pernah sama dan serupa.

Berarti, bukankah saya hanyalah perwujudan dari jalannya proses tanpa henti? Misal, jika saya katakan: “Lima menit lalu saya marah. Siapakah yang marah? Saya? Bukankah ‘saya’ yang sekarang berkata-kata ini telah berbeda dengan saya pada 5 menit yang lalu? Jasmani dan batin saya sudah berubah. Seperti air sungai yang mengalir, tak pernah ada kondisi yang persis sama. Gerakan air yang berbeda, kumpulan yang berbeda, komposisi yang selalu berbeda, melewati kerikil yang berbeda, batu-batu yang terkikis, pasir yang hanyut…. Semua berubah.

Lalu, di manakah inti diri saya? Adakah inti yang kekal yang tidak ikut berproses dalam diri saya? Misal, jika saya berhenti berpikir, merasa, menyerap pengalaman, dan melakukan sesuatu dengan batin, apakah keberadaan saya hilang? Atau, di manakah ‘saya’ di antara saat-saat saya tidak berpikir, merasa, menyerap pengalaman, dan tanpa ada tindakan batin? Apakah saya menjadi ada dan tiada berganti-ganti?

Jika demikian, siapa yang bernama Vera? Ternyata tak ada.
Vera hanyalah label, konsep mengenai suatu proses kehidupan yang sedang berjalan.

Proses itu sendiri bergerak dan berubah tanpa henti. Bergerak dan terjebak dalam rasa tak puas yang kerap muncul. Tak ada inti, tak ada saya.

Tak ada ‘aku’.

Saat aku membela kepentinganku dengan caci-maki, siapa yang aku bela?
Saat aku mencari kenyamanan di atas penderitaan mahluk lain, siapa yang aku senangkan?
Saat aku mengagumi diriku, siapa yang aku agungkan?
Saat aku menilai setiap orang dari kelebihan dan kekurangan yang nampak di mataku, siapa yang aku cela?


Tangerang, 17 September 2010

2 komentar:

  1. Begitulah kehidupan sahabat, tiada yang tetap,tiada yang abadi,kita memang sering dilanda rasa tidak puas sehingga perasaan itu membelenggu jiwa kita.
    Hidup ini hanyalah permainan belaka,hidup ini hanyalah mimpi,dan kepada -Nya lah kita akan kembali.

    BalasHapus
  2. Yup, rasa tak puas itu yang membelenggu jiwa kita.

    BalasHapus