Tulisan saya yang dimuat di buku Mari Bicara - Kumpulan 100 cerita :)
(versi asli, sebelum diedit oleh editornya, Alberthiene Endah).
Saya adalah pribadi yang selalu berusaha berterus terang. Cenderung emosional, keras kepala, tapi sebenarnya juga lembut dan murah hati. Menurut suami saya, saya memberi warna-warni dalam hidupnya. Dia sering bilang bahwa dia sulit merasa bosan hidup bersama saya, karena baginya, saya hampir selalu tak terduga.
Suami saya berkepribadian tenang. Saya mengagumi kestabilan emosinya, logika berpikirnya, dan dry humor yang menjadi ciri khasnya. Dia pribadi yang rajin, tidak banyak bicara dan berekspresi, selalu bersikap lembut dan sopan pada semua orang. Dia sedikit sekali berkata-kata romantis, dan terlihat seolah kurang memberi perhatian. Tapi dia menunjukkan rasa sayangnya dengan perbuatannya, dukungannya, dan upayanya untuk mewujudkan mimpi-mimpi saya.
Suka senang bercerita secara detail kepada suami tentang kejadian sehari-hari. Saya terbiasa terbuka padanya. Saya hanya mengikuti kata hati hari demi hari. Saya bilang bahwa saya sayang padanya dengan langsung dan spontan setiap kali saya ingin bilang. Saya memberi perhatian yang tulus untuknya. Saya mengkritik secara terbuka pula. Saya seperti sebuah buku yang terbuka di hadapannya. Dia boleh membaca seluruh isi hati dan kepala saya, karena itulah yang membuat saya nyaman.
Dulu, pada masa awal pernikahan, saya mengharapkan spontanitas yang sama darinya. Saya terbiasa menceritakan kejadian sehari-hari di kantor atau di rumah. Tapi, dia tidak setiap hari bercerita tentang pekerjaan dan kejadian yang dia alami saat saya tak bersamanya. Jika ditanya, hanya jawaban-jawaban singkat yang dia beri. Mulanya, saya merasa bahwa itu adalah bentuk sikap tertutup yang bisa menimbulkan komunikasi yang kurang seimbang. Saya khawatir, ketertutupan akan menjauhkan kami.
Kekhawatiran itu kemudian sering menyebabkan pertengkaran antara kami. Saya berkali-kali marah karena dia lupa menceritakan berbagai hal yang baru saya ketahui setelah lama berlalu. Saya merasa bahwa saya tidak menjadi tempat berbagi. Saya merasa tak dibutuhkan. Kadangkala saya malu jika menjadi orang terakhir yang tahu suatu kejadian yang lupa dia ceritakan pada saya. Saya merasa komunikasi kami buruk dan tak seimbang.
Sifat saya yang mudah meledak membuatnya semakin enggan bicara. Dia bukanlah seorang yang bisa berpura-pura rileks dan memaksa diri bercerita saat suasana hatinya enggan untuk bicara. Sedangkan saya tidak menyukai kepura-puraan. Sehingga jika dia terlihat memaksakan diri bercerita tentang berbagai hal yang terjadi dalam hari-harinya, saya justru semakin sedih dan kecewa.
Hingga suatu hari, karena perenungan yang mendalam mengenai hubungan antar manusia, saya menyadari kesalahan saya. Saya baru menyadari, padahal bila bertemu saat yang nyaman untuk berbincang berdua, dia banyak bercerita. Momen itu adalah saat di mana saya berlaku sebagai seorang sahabat. Misalnya, saat dia sedang menyetir mobil dengan saya di sampingnya, atau saat berbincang sambil minum teh bersama dalam suasana rileks. Saat seperti itu adalah saat di mana seharusnya saya menjadi pendengar yang baik, bukan selalu ingin bicara dan didengar. Sejak saat itu, saya memilih kemesraan dan komunikasi yang dijalin dengan rasa persahabatan, bukan hanya dengan romantisme yang mudah memudar. Sejak saya mengubah pandangan saya, suami saya terlihat semakin bahagia. Semakin banyak cerita dan humor. Bahkan saya merasa, dia semakin menikmati hari-hari saat kami hanya jalan-jalan berdua, sehingga bisa bercerita apa saja dengan bebasnya.
Dalam hidup ini, saya memiliki beberapa orang sahabat. Ada yang bersahabat dengan saya sejak SD, SMP, SMA, dan masa-masa sesudahnya. Kadang-kadang kami tak selalu sependapat, tapi kami tak saling menyakiti dengan kata-kata dan perbuatan. Berdasarkan pengalaman hidup, saya menemukan bahwa kita lebih mudah menyakiti hati kekasih saya dibanding menyakiti sahabat-sahabat saya. Kita seringkali mudah kehilangan toleransi pada pacar dibandingkan sahabat. Pada pacar, kita merasa sah menuntut berbagai hal yang kita mau. Misalnya, “Jemput ya, dan jangan terlambat.” Atau, “Kamu memang enggak perhatian dan sayang sama saya. Keterlaluan, ulang tahun saya saja kamu lupa”, dan sebagainya.
Pada sahabat, kita justru tidak menuntut dia menjadi pribadi berbeda atau pribadi yang kita suka. Kita tidak berusaha mengubahnya menjadi ‘baik’ sesuai persepsi kita sendiri. Kita menerima sahabat kita apa adanya; kita tidak marah walau dia melupakan ulang tahun kita hingga sebulan kemudian; dan memaklumi apa yang sudah menjadi sifatnya. Sesekali, kita mengkritik sikapnya yang kita rasa tidak patut, namun bukan dengan nada menyalahkan yang diulang terus-menerus. Kita tak ingin mengganggu sahabat kita saat dia sedang memusatkan perhatiannya pada pekerjaan di kantor. Kita ingin berbagi hidup dengannya, sekaligus menghargai kebebasan yang dia miliki. Bagi saya, sahabat adalah seseorang yang sangat dekat dengan kita, namun tidak terikat dengan kita.
Rasa diterima sebagaimana adanya diri kita, akan membawa akibat yang berharga dalam perkembangan kepribadian kita. Pada dasarnya, manusia mencari kenyamanan. Karena penerimaan kita padanya, sahabat selalu nyaman bersama kita dalam berbagai kesempatan. Demikian juga kita yang merasa selalu diterima olehnya. Rasa diterima dan menerima menimbulkan kepercayaan. Kepercayaan membuat manusia ingin bersikap jujur dan terbuka. Kejujuran dan keterbukaan akan menjadi pilar yang kokoh dalam hubungan antar manusia.
Jika dirangkum dalam sebuah tips, tips yang ingin saya sampaikan sehubungan dengan komunikasi antar pasangan selalu dikaitkan dalam 5 poin penting:
1. Persahabatan
2. Penerimaan
3. Kejujuran
4. Keterbukaan
5. Humor
Bagi saya, komunikasi dengan pasangan hidup bukanlah hanya dimulai dengan keterampilan berkata-kata. Bukan hanya berarti harus melaporkan segenap kegiatan sejak pagi hingga petang; bukan hanya berarti harus selalu saling bertelepon saat berjauhan; bukan berarti diskusi dan perdebatan tanpa sesekali pertengkaran. Awali semuanya dengan menempatkan diri pasangan kita sebagai sahabat. Dia pribadi yang berbeda dengan kita, tak perlu dipaksakan untuk menjadi sama.
Sehingga dalam keseharian saya, saya memang ingin menganggap suami saya sebagai seorang sahabat. Yang istimewa tentunya. Saya ingin selalu ingat, untuk selalu mengedepankan kebahagiaan dia, karena dia adalah sahabat saya. Saya ingin meluangkan waktu untuk bermain dan tertawa sampai hari tua dengannya.
Jika menuliskan kalimat status di Facebook yang berkaitan dengan suami saya, saya lebih suka menyebut suami saya sebagai “my best friend.” Dia sering protes, “Oh, begitu ya? Cuma best friend !” katanya berlagak merajuk. Saya hanya senyum-senyum saja.
Yang ini aku agak kurang faham , maklumlah aku kan belum berumah tangga , hee ..
BalasHapussalam kenal ya.... aku sependapat deh, soalnya aku punya pengalaman yang sama, dan akhirnya bersikap sebagai sahabat buat suamiku. keebetulan kami memamg kami bersahabat sebelum akhirnya menikah.
BalasHapusBermula dari persahabatan, dan terus berlanjut dengan persahabatan -menurut saya, itulah yang terbaik :)
BalasHapusini dia proses yg belum sempet gw alami sama alm suami, 3,5 thn perkawinan hanya diisi dengan brantem n brantem, belum nemu cara menempatkan/memposisikan pasangan dlm hidup, dah keburu dipanggil Tuhan, kalo gue nanti dikasih kesempatan punya suami lagi, pasti gue terapkan tips lo ini...thanks friend....
BalasHapusThanks juga, Esti :) Menurut gue, berantem nggak selalu jelek, Es. Itu bagian dari proses belajar jadi orang dewasa.
BalasHapus