Selasa, 04 Mei 2010

Guru Saya


Guru saya bilang, “Boleh mencintai keluarga, tapi jangan terikat padanya. Jangan terikat pada apapun dalam hidup ini.”
Guru saya bilang, “Jadilah Pasukan Berani Hidup. Karena setiap saat dan apa pun yang kamu terima dalam hidupmu adalah hasil dari karma hidupmu sendiri di masa lampau.”
Guru saya bilang, “Pikiran adalah Raja Kehidupan. Bahagia atau derita, berasal dari pikiran.”
Guru saya bilang, “Ber-Adhiţţāna-lah seringan mungkin. Latihlah diri agar dalam setiap perbuatan baik, pamrih kita sekecil mungkin. Arahkan selalu Adhiţţāna (tujuan, cita-cita) kepada pencapaian Nibbāna.”
Guru saya bilang, “Cetanā (itikad) sebelum, saat, dan setelah berdana, haruslah selalu baik. Hingga setahun, sepuluh tahun, atau seratus tahun kemudian, cetanā haruslah tetap baik.”
“Guru saya bilang, “Buddha, Dhamma, dan Sangha, adalah manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa.”

Masih sangat banyak lagi yang Beliau ajarkan, dalam setiap pelajaran di hari Jumat malam, yang sudah saya ikuti sejak pertengahan tahun 2008. Beliau mengarahkan kami supaya memahami diri sendiri, hidup, dan kehidupan ini.

Dalam usia Bp. Pandit Jinaratana Kaharuddin yang kini 73 tahun, saya sangat bersyukur masih bisa belajar darinya. Saya sayang padanya, dan merasa nyaman bersama dengannya. Saya yakin hatinya hangat, walau terlihat keras saat mengajar dan sedikit bicara.

Ketekunannya membawa inspirasi. Kebijaksanaan yang Beliau ajarkan, adalah bekal untuk mengarungi kehidupan saya, yang saya yakini bukan hanya dalam kehidupan saat ini saja. Semoga suatu hari nanti, entah dalam berapa masa kehidupan, saya dapat melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, dan mencapai tujuan akhir umat Buddha.

Usia tua menyebabkan sakit pada mata dan kakinya saat ini. Jumat lalu kelas Dhamma libur karena Beliau harus istirahat. Hati saya sedikit sedih mengingat Beliau sedang sakit. Tapi saya yakin, dia adalah orang yang sangat siap untuk menerima dan menjalani semua penderitaan dalam usia tuanya.

Semoga guruku berumur panjang, sehat, dan bahagia. Semoga Sang Tiratana memberkati Beliau dan keluarga. Sepanjang hayat dikandung badan, semoga Beliau dapat mengajar dan berkarya. Semoga semua kebaikan yang Beliau lakukan sebagai penyebar Dhamma, mengkondisikannya untuk mencapai Nibbāna.

2 komentar:

  1. Yach ,yang membuat kita susah adalah pikiran kita sendiri..
    Dan memang seharusnyalah kita berbuat itu dengan ikhlas dan dalam hidup ini janganlah kita terbelenggu karena kita diciptakan sebagai makhluk yang merdeka lahir dan bathin .

    BalasHapus
  2. *saya happy sharing ini dibaca seseorang* Semoga bermanfaat juga untuk hidupmu :)

    BalasHapus