Awalnya saya hanya mengenal kedua orang tua dan kelima kakak-kakak saya. Tentunya ada beribu-ribu kenangan yang indah, lucu, dan mengharukan saat kami tinggal bersama dalam sebuah rumah di Lampung. Saat itu lah saat-saat di mana kami berdelapan paling dekat satu dengan yang lainnya. Di situlah semua cinta itu tumbuh, karena bermula dari kebersamaan yang tidak dapat digantikan dan diulang persis seperti dulu. Kedekatan yang dalam saat itu, bukan berarti selalu damai dan tenteram. Kedekatan kami seolah hampir tak berjarak. Rahasia-rahasia dalam bathin pribadi masing-masing pastilah ada, tapi tak mengganggu kebersamaan dan kedekatan. Kedekatan itu sesekali juga diwarnai pertengkaran yang dihiasi sumpah-serapah, yang kadang-kadang terdengar kasar, tanpa pernah meninggalkan bekas luka. Semua pertengkaran seolah hanya selalu menguap seperti asap. Tak menyisahkan apa-apa selain kenangan yang kocak dan lelucon yang timbul sesudahnya.
Kami berenam beranjak dewasa dan membentuk keluarga baru. Satu-persatu anggota keluarga baru bermunculan. Saudara ipar laki-laki, saudara ipar perempuan. Kemudian satu-persatu bayi-bayi yang baru lahir dalam keluarga - generasi berikutnya. Sehingga sampai saat ini sudah hadir sebelas orang keponakan-keponakan saya yang sekarang beranjak remaja. Terbentuklah keluarga-keluarga kecil yang kemudian menjadi prioritas baru dalam kehidupan kami masing-masing. Sesekali kami berlibur bersama sekeluarga besar. Alangkah senangnya dalam saat-saat seperti itu, saat di mana merupakan bagian dari kebersamaan yang tak dapat diulang. Saat-saat di mana kami ingin menghibur satu sama lain, meninggalkan sejenak keruwetan hidup dan kesibukan kerja. Perbincangan di antara kami lebih banyak didominasi topik mengenai anak-anak. Anak-anak adalah curahan kasih sayang dan prioritas hidup. Begitu jugalah yang pasti dirasakan oleh orang tua kami terhadap kami.
Siklus alam membuat kami – mama dan kami berenam - kehilangan ayah kami di usianya yang ke-68 tahun. Kehilangan pertama dalam keluarga kami. Jika berkumpul bersama, kami masih sering membicarakan ayah kami. Kami menertawakan kebiasaannya; mengenang kekurangannya yang tak mengurangi rasa hormat kami padanya; mengagumi sikap hidupnya; terharu pada kasih sayangnya. Beginilah kehidupan. Lahir, menjadi dewasa, dan mati. Siapa di antara kami yang selanjutnya menggenapi siklus ini, tak akan ada yang tahu. Kadang-kadang saya berharap saya tak
Kedekatan kami berenam yang seperti dulu masih ada, walau mungkin akan berkurang kadarnya. Kedekatan yang dahulu seakan tanpa jarak - yang terungkap dari sikap terbuka dan apa adanya dahulu saat masa kecil sampai remaja - tentunya harus digantikan dengan kesopanan dan saling menjaga perasaan sesama anggota keluarga. Tentu tak ada lagi pertengkaran seperti pada masa kecil yang dilengkapi dengan saling pukul dan saling menjambak. Kata-kata kasar yang dulu sering terluncur dengan sengaja saat sedang bertengkar dan bergelut secara fisik, tentu semakin haram digunakan. Harus diharamkan, jika tak mau terjadi perpecahan yang akan sulit direkatkan kembali. Inilah konsekuensinya menjadi dewasa. Sedikit ketidaksopanan akan menimbulkan masalah yang dapat membesar; menyisahkan bekas yang seringkali bukan lagi berupa ‘asap’ yang segera menghilang dalam hitungan menit atau jam; jika tak disikapi dengan cinta yang penuh penerimaan.
Saya bersyukur bahwa ayah dan ibu saya adalah manusia pembelajar. Mereka senantiasa belajar dari kekurangan keadaan. Ibu saya tumbuh dalam keluarga yang tidak dekat satu dengan yang lainnya. Persaingan bisnis antar saudara kandung sudah sejak lama menjadi duri dalam hubungan beberapa orang di antara mereka. Bahkan mereka bersama-sama menumbuhkan semangat persaingan dalam diri anak-anak mereka. Selalu dipersoalkan anak siapa yang paling pandai di sekolah, kemudian setelah dewasa berkembang menjadi siapa yang paling sukses berkarir dan berbisnis. Tentulah disertai ditutupinya sebanyak mungkin hal dan kejadian yang mereka anggap ‘cacat’ atau ‘aib’. Peribahasa berat sama dipikul ringan sama dijinjing tak berlaku di antara mereka. Namun ibu saya belajar dan menolak hal yang sama terjadi antara kami. Tak putus air ditetak. Persaudaraan kandung ibarat air. Saudara sedarah tak boleh terputus.
Selama ada hubungan antar manusia, kemungkinan akan selalu terjadi gesekan kepentingan. Lagi-lagi kehidupan keluarga tak akan selalu mulus walau telah dijaga sekuat tenaga, sehingga kejengkelan dan pertengkaran kecil kadang-kadang ada walau sangat jarang terjadi. Bisa terjadi antara saudara kandung atau antara saudara ipar. Saya sering merutuki diri sendiri yang kerap kali sangat keras kepala dan emosional, sehingga sering memicu pertengkaran yang seharusnya tak perlu ada. Tapi saya yakini, pintu maaf dan kasih sayang kami tak pernah boleh tertutup. Pertengkaran dengan keluarga tak pernah boleh mengeras menjadi dinding batu. Kebersamaan masa kecil dan kasih sayang itu sudah terlalu menggunung adanya, hingga tak layak untuk disia-siakan hanya karena mahalnya sepotong kata maaf. Saya belajar untuk menertawakan saja kebodohan diri sendiri yang telah membiarkan emosi merajalela, saat berkaca pada hati nurani. Kemudian jika memungkinkan, alangkah leganya jika bisa menertawakan pertengkaran itu bersama-sama. Maka masing-masing hati akan terbuka kembali dengan cinta dan maaf.
Namun kedewasaan bukan hanya membawa jarak. Yang paling indah, kedewasaan juga membawa bentukan baru, yaitu secara alamiah mengurangi porsi memikirkan diri sendiri. Kedewasaan menghadirkan konsekuensi bahwa akhirnya seringkali kita harus mendahulukan kepentingan orang lain di atas kepentingan pribadi. Berkembanglah naluri yang lebih kuat untuk membantu dan menjadi berguna, dengan cara kami masing-masing. Kedekatan yang dulu berwujud keterbukaan dalam segala hal, kemudian sebagian digantikan dengan kedekatan dalam empati - tak kalah indahnya dengan kedekatan di masa kecil.
Kedekatan empati dalam persaudaraan seharusnya akan menjadikan kami berenam selalu bahagia jika salah seorang dari kami berbahagia; ikut bersukacita saat salah seorang dari kami menuai rejeki yang baik; saling mendoakan terwujudnya kesuksesan berbisnis dan berkeluarga; mengingatkan jika adanya resiko yang dapat menjerumuskan salah seorang pada kejatuhan; berusaha menjadi ‘telinga’ yang senantiasa tak bosan-bosannya mendengar keluhan dan curahan hati; dan prihatin saat ada yang mendapatkan masalah atau kemalangan.
Semoga akan selamanya seperti ini: tidak ada semangat persaingan dan menonjolkan diri sendiri. Bahagiamu adalah bahagiaku. Suksesmu adalah sukacitaku yang besar. Rejekimu adalah harapanku atas kesejahteraan keluarga yang kau jaga dengan segenap hatimu. Sebaliknya, hadirnya dukamu adalah saat di mana aku harus lebih memberi perhatian pada hidupmu; atau berusaha membantu dengan apa yang terbaik yang aku bisa lakukan untuk mendorong kekuatan dan ‘keahlianmu’ menghadapi hidup.
Keahlian menghadapi kehidupan selalu berhubungan erat dengan berdamai menghadapi kecewaan. Kekecewaan tak pernah bosan menyapa kehidupan kita. Hidup ini tak selalu berjalan sesuai impian. Cita-cita yang dulu diyakini akan tercapai saat dewasa, ternyata menjadi jauh dan sulit dijangkau. Saya yakin, dalam hati kami masing-masing menyimpan kenangan pada masa di mana harapan-harapan kami pernah kandas. Entah kegagalan kecil atau besar. Entah sudah berlalu atau masih berlangsung. Masalah tak pernah jemu menghampiri selama masih adanya harapan-harapan.
Saya sangat terkesan menonton film Everybody’s Fine yang antara lain dibintangi oleh Robert De Niro dan Drew Barrymore. Ceritanya mengenai keluarga di mana di dalamnya ada kenyataan-kenyataan yang harus dihadapi seorang ayah saat anaknya telah dewasa. Kenyataan itu tak pernah dia perkirakan sebelumnya, tak menjadi bagian dari harapan dan impiannya bagi anak-anak yang dia sayangi. Namun berdamai dengan kekhawatiran dan kekecewaan adalah segalanya yang perlu dia lakukan. Ternyata dengan begitu, dia mendapati bahwa: everybody is fine. Semuanya baik-baik saja. Beginilah kehidupan. Sering tak sesuai harapan, tapi toh sebenarnya semua baik-baik saja.
Kembali mengenai keluarga saya, saat salah seorang dari kami mendapatkan masalah, timbul naluri ingin membantu dengan cara masing-masing. Lucunya, seringkali cara masing-masing itu bukanlah cara yang paling baik hasilnya. Kadang-kadang mungkin salah seorang dari kami memberi saran yang salah dan konyol, walau kami kira benar. Atau kadang-kadang dalam sebuah situasi kami berusaha membantu tanpa diminta namun hasilnya malah menjadi semakin buruk. Seringkali bantuan yang meringankan sebagai jalan pintas bukanlah yang terbaik hasilnya. Menurut saya, yang terbaik adalah membantu membentuk ‘tulang-tulang yang kuat’ untuk menopang kehidupan ini apapun adanya, dengan bahagia.
Jika ada, salah langkah itu sah-sah saja, wajar-wajar saja; karena bagaimanapun kita semua adalah manusia yang masih harus selalu belajar dari berbagai kesalahan. Saya katakan itu kelucuan, karena saat menengok kepada kebodohan yang lampau, dan pandanglah dengan rasa humor. Temukan kelucuan yang nampak dalam berbagai kesalahan, dan sejumput rasa syukur karena semua sudah berlalu. Namun seraplah pelajaran. Maka kemudian yang tersisa adalah penerimaan dan kasih sayang pada diri sendiri dan orang lain. Karena kita semua sama, selalu berbuat salah setiap waktu.
Tapi melakukan kesalahan bukanlah suatu hal yang besar. Melakukan kesalahan dan menyadarinya, berarti melihat itu sebagai masa lalu yang tidak dapat diubah dan mengambil hikmah darinya.
Di atas segalanya, bagi keluarga yang saya cintai, saya berdoa semoga hubungan ini akan selalu diwarnai dengan niat baik dan kasih sayang. Semoga dalam sisa hidup saya, saya bisa menjaga ketulusan. Walau yang kita lakukan tak selalu benar, tapi motivasi di dalamnya haruslah baik. Kebaikan yang kita harapkan terjadi pada saudara kita tanpa kita mengharapkan pamrih dan pahala, adalah bentuk cinta yang sesungguhnya.
Bagi saya, cinta yang saya alami dalam keluarga ini adalah selalu luar biasa indahnya. Kebaikan yang telah saya terima tak terhitung lagi jumlahnya. Penerimaan dan pemaafan yang pernah saya terima, lebih luar biasa lagi efeknya. Pelajaran ini, pelajaran itu; ujian ini, ujian itu; yang lahir dari cinta yang terbalut dalam ikatan manusiawi yang tak sempurna, membuat saya semakin bergairah menjalani kehidupan sebagai manusia dewasa.

Blog ini terkesan santai ,ramah , dan enak tuk dibaca , salam kenal dariku Eellmee Aza .
BalasHapus