
Anjing saya yang lucu semalam mati. Namanya Mandy. Walau namanya keren: Mandy, karena terinspirasi dari lagu Barry Manilow, dia hanya anjing kampung atau ¼ kampung, atau ½ kampung. Entahlah, ‘sumbangan’ tubuhnya yg mungil dan bulunya yang agak tebal, dia dapat dari ras apa. Atau mungkin juga murni kampung. Bagi saya bukan soal ras atau ‘darah biru’. Saat saya bicara tentang anjing, saya bicara tentang kedekatan.
Saya kurang paham tentang jenis-jenis anjing. Yang saya paling paham, anjing adalah mahluk Tuhan yang memiliki banyak pesona. Manusia seperti saya mudah jatuh sayang pada mahluk ini. Walau bertemu mereka yang disebut anjing kampung, sulit menahan diri untuk sekadar menepuk kepalanya atau mengelus lehernya. Jika saya punya banyak waktu dan punya tempat terdekat untuk cuci tangan, saya sempatkan untuk mengelusnya lebih lama dan memijat lehernya. Mungkin karena saya ketagihan melihat goyangan ekornya saat mendekati saya. Friendly. Sweet. Lovely. Itulah anjing di mata saya.
Saya tidak pernah menyempatkan diri membaca pengetahuan tentang anjing. Ini juga yang menjadikan saya tuan yang tidak memperhatikan kesehatan Mandy. Anjing-anjing saya dulu di masa kecil, rata-rata berumur panjang dan berfisik kuat. Sehingga saya mengira Mandy akan hidup sampai tua di halaman belakang rumah saya. Sampai tua dan giginya tanggal, setiap hari memandang kami dengan wajah lucunya dari balik pintu besi berkawat nyamuk, yang menghubungkan ruang makan dengan halaman belakang. Saya kira yang diperlukan Mandy hanya makanan dan kebersihan. Mandy tidak pernah berkutu. Makannya rakus. Hidupnya penuh kasih sayang dan diajak bermain. Tidak pernah kontak dengan anjing lain, sehingga saya kira dia bebas dari berbagai virus. Dokter bilang, Mandy terserang virus Parvo, salah satu virus yang terganas, menghancurkan sel-sel tubuhnya. Ternyata banyak virus di udara yang mampir di halaman belakang rumah. Dari udara. Huh.
Bagi saya, semua anjing sama saja. Yang membedakan hanya fisiknya dengan berbagai macam ukuran, bentuk, dan pola bulu-bulunya. Setiap anjing menawarkan kedekatan dan persahabatan, kecuali jika mereka dilatih untuk menjadi penjaga dan pemburu yang agresif. Tetapi karena sifatnya itu, mereka menjadi teman yang sangat baik bagi tuannya. Seseorang berkata, “Dog is a man’s best friend.” Suatu hari kalimat itu mendadak terlintas saat saya sedang bermain dengan Mandy, dan saya merasakan kebenaran kalimat itu. Anjing-anjing yang saya kenal tidak pernah menggigit tuannya. Walau kadang-kadang saya pukul pantatnya atau moncongnya karena nakal, anjing tidak pernah mendendam. Anjing tidak pernah menggigit dengan keras sehingga melukai kulit saya, walau mereka sedang seru bermain ‘perang-perangan’ dengan saya. Mereka tahu bagaimana ‘menyerang’ dengan bergaya anjing gila, terlihat seru dan ganas, tapi sebenarnya hanya main-main dan tidak akan melukai. Mahluk yang penuh sense of humor, rupanya. Tukang bermain dan bercanda.
Hewan apa lagi yang semanis anjing dalam berhubungan dengan manusia? Saya tidak mengenal lainnya. Saya sering mendengar monyet menyerang dan menggigit tuannya. Kucing bisa diajak bermain namun egois dan tak setia. Tapi anjing menikmati hubungannya dengan manusia. Mandy mengikuti ke mana pun kami (penghuni rumah) pergi. Syukurlah, pembantu rumah tangga kami, Agustina, sayang sekali padanya! Mandy mengikuti Agus ke dapur, ke kamar, ke taman. Dia tidur di atas kaki Agus jika Agus sedang cuci piring atau potong sayuran. Jika pintu ruang tamu terbuka, dia mendesak masuk dan mengikuti saya dan penghuni lain. Seperti seseorang yang rindu karena berbulan-bulan tak bertemu, dia menyambut dan menerjang kami saat baru tiba di rumah. Selalu ingin menempel di tubuh orang lain. Jilatannya tanda sayang. Gigitannya tanda ajakan bermain. Goyangan ekornya memukul-mukul dengan keras, tanda semangat dan gembira. Kebodohannya yang lucu sering membuat suara tawa berderai di dalam rumah. Suara tawa Agus yang paling keras dan paling heboh. Suami saya yang sejak dulu tidak menyukai anjing, jadi sering mengajak Mandy bermain dan membiasakan diri dengan jilatan Mandy yang hangat, basah, licin berliur. Mama yang sering melampiaskan bentakan marah pada Mandy yang nakal, tetap ingat menyisihkan makanan untuknya dan ikut tertawa dengan kami karena kelucuan Mandy.
Aneh juga, sekaligus tidak aneh bagi yang mengerti. Seekor anjing bisa membuat rumah lebih ceria. Kemurungan menjadi senyum, dan kepala lebih ringan. Sejujurnya Mandy banyak ‘menyelamatkan’ saya. Pulang dari tempat kerja dengan kelelahan fisik dan mental, sering mengakibatkan diri saya sensitif dan kurang toleran. Sudah lama saya menyadari, saat melangkah masuk ke rumah, waktu 10-15 menit untuk bermain dengan Mandy bisa menjadi ‘penyelamat’ yang berharga. Senyuman dan tawa saya saat bermain dengannya, adalah senyum tanpa beban dan pura-pura. Siapa sih yang sempat berpura-pura tersenyum pada seekor anjing? Senyum dan tawa spontan dan jujur adalah ‘obat’ untuk kemurungan dan kelelahan mental. Pernah sekali waktu terlintas dalam pikiran melankolis saya, sebenarnya saya lah yang lebih membutuhkannya dibanding dia membutuhkan saya.
Mandy hanya 5 bulan kurang 1 hari tinggal di rumah saya. Diambil dari induknya tanggal 17 April 2009, kira-kira saat umur 1 bulan. Satu hari pertama di rumah ketakutan dan gemetar jika disentuh. Hari kedua dan seterusnya lucu, lincah, dan nakal. Dia mudah trauma dan penakut. Tetap menggoyangkan ekornya dan mendekati saya selama sakitnya yang hanya 2 hari saja. Itulah mengapa manusia bilang, anjing sangat setia. Mahluk yang menawarkan kasih sayang dan persahabatan tanpa diminta.
wah ver, baru baca blog elu
BalasHapusikut berduka atas mandy ^^
tau banget gmn rasanya ditinggal mati binatang piaraan ^^
i ever feel t same way.... Dogy kesayanganQ juga meninggal.... Rasanya kyak sebagian dari diri Qta terbawa pergi..
BalasHapus