Kamis, 18 Juni 2009

My Passion for Dhamma


Bagian 1: Persinggahan

Dalam sebuah ceramah yang saya hadiri, Ayya Santini1 berkata, “Sekali kau mengenal Dhamma2, kau tak kan mampu berpaling darinya.” Sontak serasa ada yang meluap dalam dada saya, dan kelopak mata saya menghangat. Keharuan itu bukannya tanpa alasan. Yang saya tahu, keharuan itu terjadi karena saya merasakan hal itu terjadi pula dalam kehidupan saya. Mendekatkan diri pada Buddhisme dan vihara, adalah berkah luar biasa yang saya alami dalam beberapa tahun terakhir ini. Berkah yang menorehkan titik-titik makna baru dalam hidup saya. Setiap pengajaran dalam Dhamma class, ceramah Dhamma dalam kebaktian, perjumpaan dengan teman-teman vihara, buku-buku yang saya baca, meninggalkan torehan baru yang memberi titik kebijaksanaan yang saya percaya tak akan pernah sia-sia.


Sebagian dari diri saya masih membawa sifat yang sama. Orang-orang yang mengenal saya secara dekat tahu, bahwa saya bukanlah orang yang sabar dan selalu bersikap baik. Saya moody, saya mudah meledak dalam kemarahan, dan yang terburuk adalah saya kadang-kadang merasa putus asa menghadapi keadaan yang tak dapat saya ubah sesuai keinginan. Walaupun saya tidak sepenuhnya jelek. Saya juga percaya bahwa saya memiliki karma baik sehingga saya juga punya banyak sisi kehidupan yang menyenangkan dan diberi kesempatan untuk belajar Dhamma.


Kesempatan untuk belajar Dhamma ini entah bagaimana, terbentang seperti ‘jalan tol’ di hadapan saya. Tanpa berniat pamer keberuntungan, saya pernah sekali waktu takjub menengok ke belakang dan mendapati saya telah diberi kesempatan untuk singgah di tempat-tempat yang baik di sepanjang ‘jalan tol’ tersebut, sejak bulan Februari 2008, saat pertama kalinya saya memutuskan menjadi umat Buddha.


Jalan saya menapaki Buddhisme saya lihat sebagai ‘jalan tol’, karena minimnya hambatan dalam perjalanan ini. Ketersediaan waktu, sarana, kesempatan mendengarkan paparan Dhamma, melakukan meditasi, dan terutama dukungan dari keluarga, terbentang lebar di hadapan saya. Satu-satunya yang dapat menjadi penghambat adalah diri saya sendiri. Kemalasan dan kemelekatan adalah penentu apakah saya dapat melaju kencang, berjalan lambat, atau bahkan hanya jalan di tempat.


Dukungan dan izin dari suami (ini yang paling menguntungkan), selalu tersedia. Walaupun kami dari latar belakang Katholik dan menikah dalam upacara Katholik, dia dengan senang hati menjemput saya di vihara, mendorong saya untuk meditasi, dan membolehkan saya mengikuti kegiatan apapun. Saya bersyukur, dia menghargai saya sebagai seorang manusia yang berkehendak bebas, asalkan jalan yang saya tempuh membawa kebaikan dan kebahagiaan pada diri saya.


Semoga keluarga dan teman-teman pun melihat pilihan yang saya ambil dengan hati terbuka. Agama adalah jalan menuju tujuan yang jauh lebih besar daripada agama itu sendiri. Saya mengibaratkan pengalaman ini seperti belajar ilmu fisika dari 2 orang kelompok guru yang berbeda. Ilmu yang sama, inti yang sama. Namun metode dari kelompok guru yang satu mampu membukakan pikiran kepada pemahaman yang lebih mendalam dibanding guru yang lainnya. Kelompok guru yang saya pilih tersebut, membuat saya lebih bergairah dalam pelajaran, tanpa mengurangi rasa hormat pada kelompok guru yang lainnya. Malahan, saya semakin mengagumi dan menghormati semua kelompok guru, karena saya percaya mereka menguasai sebuah ‘ilmu fisika paling hebat’. Mudah-mudahan penjabaran ini mampu memberi gambaran. Saya menghormati Yesus Kristus. Saya mengagumi-Nya. Saya tak kan melupakan-Nya. Ajaran-Nya menorehkan banyak makna dalam kehidupan saya.


Kembali pada perjalanan saya kepada Buddhisme, bulan Februari 2008 adalah kali pertama saya mengikuti retreat meditasi (read: http://veridiana-vm.blogspot.com/2008/02/retreat-meditasi-vipassan.html). Saat itu saya sama sekali tidak mengetahui ritual Buddhist. Saya tidak mengerti apakah arti dari kata ‘Namakāra’3, ‘Anjali’4, apalagi deretan ritual lainnya. Sangat tidak sesuai dengan posisi duduk saya di deretan muka di Dhammasala5. Tapi dengan cepat saya mengerti dan menyesuaikan diri, dan dengan cepat pula saya menemukan keterpesonaan yang dalam pada setiap makna yang saya dapatkan. Karma mempertemukan saya pada guru-guru yang saya hormati. Chanmyay Sayadaw6, adalah salah satunya.



“Aku berlindung pada Buddha.

Aku berlindung pada Dhamma.

Aku berlindung pada Sangha”.7



‘Jalan tol’ membawa saya pada gairah menghadiri ceramah-ceramah Dhamma. Yang paling mengesankan selama ini antara lain adalah ceramah Dhamma dari Sayadaw di lokasi retreat meditasi Vipassanā, ceramah kocak penuh makna mendalam disampaikan oleh Banthe Uttamo, Ajahn Brahmavamso, dan Banthe Aggadipo Thera. Perjalanan ini memperlihatkan pada saya manusia-manusia yang gembira, kuat, tenang, dan tak mudah terusik. Persinggahan menyodorkan buku-buku Dhamma yang luar biasa baik, pengetahuan-pengetahuan baru, dan keterpesonaan yang seringkali menyebabkan saya mendapati mata saya basah, yang entah mengapa, saya pikir bukanlah ‘dhukka’8.


Namun persinggahan yang paling sering menorehkan titik-titik makna adalah vihara. Saya lebih banyak mengikuti kegiatan di vihara Padumuttara, Tangerang. Padumuttara adalah vihara yang memiliki pengurus-pengurus yang aktif. Banyak kegiatan dan informasi yang mudah diakses dan menyediakan kesempatan yang baik untuk belajar Dhamma. Saya temukan pula teman-teman yang menginspirasi, karena kami ada di sana dengan tujuan yang sama. Teman-teman yang menyemangati untuk berusaha lebih banyak agar dapat secepatnya merealisasi Dhamma Mulia, pintu kebebasan yang memutus rantai samsara8. Teman dan guru yang mendorong untuk melaksanakan sila (aturan moralitas Buddhisme) dengan lebih baik, yang mana hal itu akan membawa kebaikan dan kebahagiaan yang lebih besar dalam kehidupan sehari-hari. Di sana saya merasa berada di lingkungan yang saya percaya. Memberi rasa nyaman dan damai, dan membuat saya mudah tersenyum. Jika dalam satu minggu saya tak sempat singgah di sana pun, tak ada rasa bersalah dan penyesalan karenanya. Tak ada kewajiban yang mengikat, yang ada adalah kesempatan yang menunggu untuk dipergunakan.


Vihara Padumuttara terletak di dalam lingkungan pasar tradisional. Tak pernah saya bayangkan sebelumnya, dalam hidup ini akan ada kegembiraan saat melewati gang Pasar Lama Tangerang yang bersuasana china town itu. Di situ banyak pedagang beretnik Tionghoa berusia setengah baya yang menjual makanan, lampion merah berpinggiran keemasan, amplop angpao, hio wangi, bunga, dan kertas sembahyang. Gang beraroma khas pasar yang kadangkala becek sehabis hujan, telah menjadi akrab dan melengkapi keceriaan saya saat melangkah ke sana. Di sana lah saya dengan gembira mempelajari Dhamma dan pulang dengan setitik torehan baru yang meninggalkan makna. Walaupun di sana juga lah tempat di mana saya selalu mendapati pikiran diri saya diganduli bongkah-bongkah kebodohan yang entah kapan dapat berakhir. Mengikuti Dhamma class setiap hari Jumat di bawah pengajaran Bapak Pandit J. Kaharuddin10, memberikan warna keceriaan baru dalam hidup saya sejak Januari 2009. Hati selalu bernyanyi saat melangkah ke sana. Semakin saya belajar, semakin saya menyadari ketidaktahuan saya.


Semakin saya belajar, semakin saya tahu saya diliputi oleh ‘dosa’ (kebencian/kemarahan), ‘lobha’ (keserakahan), dan ‘moha’ (kebodohan). Inilah akar rumput liar penyebab penderitaan yang harus senantiasa dikikis, entah dalam berapa masa kehidupan.


(Bersambung ke bagian 2).


----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

1Ayya Santini: Bhikkuni Santini

2Dhamma: banyak arti, namun dalam hal ini adalah ajaran Sang Buddha

3Namakāra: Sikap sujud dengan 1) lutut, 2) jari kaki, 3) dahi, 4) siku, 5) telapak tangan, menyentuh kaki

4Anjali: sikap memberi salam dengan menangkupkan telapak tangan di dada

5Dhammasala: ruang Dhamma, sebuah bangunan bagian dari vihara, berfungsi sebagai tempat membabarkan Dhamma, diskusi Dhamma, dan kegiatan lainnya.

6Chanmyay Sayadaw: salah satu Master meditasi di abad ini, yang telah mengajar dan membabarkan Dhamma secara extensive dan penuh pengabdian selama lebih dari 50 tahun. Beliau adalah murid senior dari YM. Mahasi Sayadaw, Honorary Professor, Theravada Buddhist Missionary University, Kepala dan master pembimbing meditasi di berbagai pusat meditasi seperti di Chanmyay Yeiktha Meditation Centre Yangon, Mahasi Sasana Yeiktha, Mandalay Yatabon Sasana Yeiktha, dan berbagai center beliau di USA, Canada, Afrika Selatan, Thailand maupun Indonesia.

7 Saraņagamana Pāţha (Kalimat Perlindungan)

8Dhukka: dalam hal ini ketidakpuasan/duka/penderitaan

9Samsara: adalah sebuah keadaan tumimbal lahir (kelahiran kembali) yang berulang-ulang.

10Pandit J. Kaharuddin: Pandit Abhidhamma di Indonesia yang masih aktif mengajar di usia 71 tahun.


------------------------------------------------------------------------------------------------

MAŃGALA SUTTA

(SUTTA TENTANG BERKAH)



Demikianlah telah saya dengar.
Pada suatu ketika Sang Bhagavā

Berdiam di Jetavana,

ārāma milik hartawan Anāthapindika.

Di dekat kota Sāvatthi.


Saat itulah sesosok dewa, ketika hari menjelang pagi,

dengan cahaya cemerlang menerangi seluruh Jetavana,

mengunjungi Sang Bhagavā.


Setelah datang, menghormat Sang Bhagavā,

ia berdiri di satu sisi yang layak.

Dengan berdiri di satu sisi yang layak itulah,

ia memohon Sang Bhagavā dengan syair berikut ini:


Banyak Dewa dan manusia
yang mengharapkan kebahagiaan,

Mempersoalkan tentang berkah.
Mohon uraikan, apa Berkah Utama itu.

Tidak bergaul dengan orang dungu

bergaul dengan para bijaksanawan,
dan menghormati yang patut dihormat ,
itulah Berkah Utama.

Bertempat tinggal di tempat yang sesuai,
memiliki timbunan kebajikan di masa lampau,
dan membimbing diri dengan benar,
itulah Berkah Utama.

Berpengetahuan luas, berketerampilan,
terlatih baik dalam tata susila,
dan bertutur kata dengan baik,
itulah Berkah Utama

Membantu ayah dan ibu,
Menunjang anak dan istri,
dan bekerja dengan sungguh-sungguh,
itulah Berkah Utama

Berdana, melakukan kebajikan,

menyokong sanak saudara,

dan tidak melakukan pekerjaan tercela,
itulah Berkah Utama

Menjauhi, menghindari perbuatan buruk,
menahan diri dari minuman keras,
dan tak lengah melaksanakan Dhamma,
itulah Berkah Utama

Memiliki rasa hormat, berendah hati,
Merasa puas dengan apa yang dimiliki, ingat budi baik orang,

dan mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai,
itulah Berkah Utama.

Sabar, mudah dinasihati,

mengunjungi para pertapa,
dan membahas Dhamma pada waktu yang sesuai,
itulah Berkah Utama.

Bersemangat dalam mengikis kilesa, menjalankan hidup suci,

menembus Empat Kebenaran Mulia,
dan mencapai Nibanna,
itulah Berkah Utama.

Meski disinggung oleh hal-hal duniawi,
batin tak tergoyahkan,
tiada sedih, tanpa noda, dan penuh damai
itulah Berkah Utama.

Serelah melaksanakan hal-hal seperti itu,
para dewa dan manusia tak akan terkalahkan di mana pun,

mencapai kebahagiaan di mana pun berada.
Inilah Berkah Utama bagi para dewa dan manusia.



0 komentar:

Poskan Komentar