
Saya sedang ‘puasa’ ber-Facebook dan chatting lewat YM sejak hari Senin yang lalu. Janji saya pada diri sendiri, puasa seminggu, sampai hari Sabtu ini. Bukan karena ber-Facebook dan ber-YM adalah kegiatan yang buruk. Keduanya adalah sarana berhubungan dengan teman-teman saya yang sangat menyenangkan tanpa harus keluar rumah atau beranjak dari meja kerja, bahkan bisa dilakukan dengan handphone saat di perjalanan. Banyak kesenangan yang didapat dalam komunikasi dengan teman-teman sewaktu SD, SMP, SMA, kuliah, teman baru yang saya kenal di vihara, dan teman saat bekerja di kantor yang lama. Sangat menghibur, terutama karena dalam pekerjaan saya sekarang ini saya berada di lingkungan kecil di mana saya lebih sedikit bertemu teman-teman, dalam arti mereka yang murni berinteraksi dengan saya sebagai teman, bukan relasi dalam kepentingan pekerjaan.
Karena berhubungan dengan mereka yang murni dalam hubungan pertemanan dengan saya, seringkali obrolan kami hanya sekadar having fun. Bercanda, saling meledek, kejadian sehari-hari, curhat-curhat ringan. Ada pula kadang-kadang curhat serius, konsultasi psikologi antar teman tentang pacar, pasangan hidup, masalah pekerjaan. Persahabatan menjadi air segar di tengah kesibukan dan mengisi kebutuhan untuk berinteraksi. Menjadi salah satu pengisi cerita dalam hari-hari saya.
Pagi hari sejak mulai berangkat kerja, saya langsung ingin buka Facebook dari handphone. Akhirnya saya mengobrol dengan kakak saya di perjalanan, dengan perhatian yang terbelah dua antara obrolan dan update baru di Facebook saya. Sedang kerja, tergoda buka Facebook dan ruang chatting YM. Sore hari atau malam hari saat tiba di rumah, masih juga ingin membuka FB dan YM, kadang hanya sekadar ingin melihat siapa teman yang sedang online. Hehehehe.
Sebenarnya saya tidak harus sampai ‘puasa’ begini, karena toh kesibukan kerja saya tidak mengikat. Bisa saja saya hanya meluangkan waktu singkat untuk ber-Facebook dan ber-YM, tanpa mengganggu aktifitas harian saya, misalnya menggunakan waktu saat dalam perjalanan atau membatasi waktu sehingga tidak berlebih. Tapi dengan tekad, saya menjalani “puasa” ini untuk satu minggu. Satu minggu tidak membuka Facebook, tidak membuka ruang chatting. Satu minggu tanpa kontak dengan mereka yang terbiasa bertukar sapa hampir setiap hari, kecuali jika mereka menghubungi saya via telepon. Kata suami saya, seolah-olah saya sok merasa seperti selebritis saja…ge-er, padahal tidak ada yang cari. Hehehehe.
Tapi sejujurnya, ini sebenarnya hanya latihan kecil buat mentalitas saya, untuk mengurangi ketergantungan mental pada sesuatu, termasuk pada manusia lain. Berasal dari ide yang mendadak terlintas dan keputusan spontan di hari Minggu malam sebelum tidur. Dasar pemikirannya hanya satu dan sederhana: saya tidak menyukai kondisi diri saya yang sedang kecanduan terhadap sesuatu, apa pun bentuknya. Entah itu makanan/minuman, kegiatan, benda, manusia. Kecanduan yang terakhir saya sebut itu yang paling sulit untuk dikurangi, karena saya tahu, saya paling kecanduan pada suami saya, dan menganggapnya sosok favorit saya dalam hidup ini. Hehehe. Kecanduan yang satu ini menyenangkan, merekatkan, membahagiakan, tapi juga saya tahu dapat menimbulkan penderitaan.
Kecanduan adalah attachment (kemelekatan). Juga berbagai bentuk label dan persepsi, yang membuat kita menentukan sesuatu yang merupakan FAVORIT; makanan favorit, musik favorit, selebriti favorit, gaya favorit, benda favorit, gagasan yang kita anggap hebat; adalah suatu virus pikiran, menjadi ‘dinding’ yang membatasi pandangan dan cara berpikir, dan tanpa disadari mengurangi level kebahagiaan. Ini saya pelajari dari seorang Zen Master, saat mengikuti seminar tahun lalu. Saya pasti belum bisa melepas ‘dinding’ pikiran itu, tapi dengan menyadari saja, bagi saya saat ini, sudah cukup.
Saya pernah kecanduan kopi. Segelas espresso tanpa gula setiap hari, terasa membuat otak saya lebih cerdas dan bicara lebih lancar. Hingga suatu hari saya menyadari, jika saya belum minum kopi dalam sehari, pikiran saya menjadi malas, mood saya buruk, dan otot bibir terasa tertarik ke bawah dan membuat sulit tersenyum. Saya merutuki kecanduan itu, dan sejak itu memutuskan untuk berhenti dari ketergantungan pada kopi. Saya pernah kecanduan main games dan menonton film seri. Belakangan saya memilih untuk tidak membeli atau meminjam DVD film-film seri lagi.
Pasti saat ini pun saya sedang kecanduan terhadap banyak berbagai hal yang lain, yang saya sudah sadari maupun tidak saya sadari. Kecanduan-kecanduan itu membuat saya tidak setiap saat merasa cukup dan nyaman. Apa pun kecanduan itu, positif atau negatif bentuknya, adalah ‘dinding’ yang membatasi pandangan saya dari semesta yang lebih indah; membatasi pikiran saya dari kebebasan tak terbatas; membatasi hidup saya dari kebahagiaan tanpa syarat.
Saya tahu, membatasi diri dari kecanduan Facebook dan YM tidak membuat diri saya lebih bijaksana seketika. Ini hanya latihan mental kecil-kecilan yang membuat saya sedikit lebih menyadari seberapa besar efek suatu kegiatan dan kebutuhan bersosialisasi terhadap level kebahagiaan saya. Hasilnya, saya tetap rindu menyapa teman-teman saya. Tapi saya tahu, kebahagiaan mengalir lebih banyak saat kita membuang sebilah ‘dinding’ yang melekat dalam pikiran kita.
Teruslah menulis. Teruslah berkomunikasi. Teruslah bersosialisasi.
BalasHapus-JBS-