Sabtu, 29 November 2008

Just Do It.


Pinjam slogan dari Nike :
Just do it.

Siapa yah yang memilih kalimat sederhana ini jadi slogan ini untuk Nike? Salut.
Jangan banyak dibicarakan, just do it.
Jangan banyak dipikirkan sampai pusing sendiri, just do it.
Jangan banyak bikin rencana saja, just do it.
Do. Keep walking. Keep moving forward.


...and remember these to cope with any situations :
Letting go the past,
allowing all of the life's colours,

and remaining centered and rooted within
.



November 2008

LEO
July 23 - August 23 You tend to dwell on the past and rake up old issues, which open old wounds and bring fresh pain in relationships. It's best to bid good-bye to the past and move into the new and positive current for the future. There can be disruption and strife at work if promises are not fulfilled and targets not met. Delay in completion of projects cannot be ruled out. You may be separated from a loved one for a short period of time and feel their absence. Music and dance can be healing. There is honesty in money transactions and business deals. Lucky number is 3. Good colour is old rose.

Saat bangun pagi tadi tiba-tiba teringat pada ramalan yang selalu iseng-iseng dicari ini..., lucunya terbukti juga bulan ini ; termasuk: "You may be separated from a loved one for a short period of time and feel their absence" ; terjadi juga :))


December 2008
LEO July 23 - August 23 You are likely to make some changes by letting go the past and moving into the new current for the future. You give up steady, secure business and professional situations to move into challenging opportunities and creative spaces that are needed for further growth and development. You are blessed with a new vision as you experience life in different dimensions, the manifest and the unmanifest that converge within you. You can now allow all of life’s colours to penetrate you to become enriched and more integrated. You are more accepting, creative and easy with the variance and activity around you by remaining centered and rooted within. Lucky number is 12. Good colour is white.

tarot, osho online magazine

Kamis, 27 November 2008

Senantiasa Untuk Kita Renungkan


Aku akan menderita usia tua,
Aku tak kan mampu menghindari usia tua...
Aku akan menderita sakit,
Aku tak kan mampu menghindari sakit...
Aku akan menderita kematian,
Aku tak kan mampu menghindari kematian...
Segala milikku yang ku cintai akan berubah, terpisah dariku.

Aku adalah pemilik karmaku sendiri...
Pewaris karmaku sendiri...
Lahir dari karmaku sendiri...
Berhubungan dengan karmaku sendiri...
Terlindung oleh karmaku sendiri.

Apa pun karma yang ku perbuat,
Baik ataupun buruk, itulah yang ku warisi.

Hendaklah ini kerap kali kita renungkan.

(Guru Agung Buddha Gotama, Abad ke-623 SM)

Semoga Oma berbahagia, damai, dan bebas dari penderitaan.
Semoga semua mahluk berbahagia, damai, dan bebas dari penderitaan.


Minggu, 23 November 2008

Di suatu tempat, sewaktu-waktu...


Setiap kali aku datang ke tempat ini, wajah-wajah lugu dan sederhana seketika menggugah rasa cinta. Cinta yang membuatku ingin merangkul. Cinta yang membuatku terenyuh di antara rasa syukur namun cemas bertanya-tanya, “Apakah kau bahagia?” Aku sayang padamu. Betapa aku ingin kau bahagia dan sejahtera.


Andai aku selalu bisa meringankan setiap beban dan menambahkan secuil bahagia. Andai aku semakin perkasa, dan menumbuhkan sebatang pohon besar untukmu bersandar. Sandaran yang bisa kau percaya. Sandaran di mana kau merasa nyaman. Sandaran yang menghantar hidup pada kesejahteraan. Terlalu sedikit yang telah aku lakukan. Begitu banyak yang seharusnya ku curahkan.


Di sisi yang lain aku tahu, bahwa masa depan tak pernah pasti. Mungkin suatu hari nanti, kau temukan sandaran lain yang lebih berharga untuk kesejahteraanmu. Sandaran itu mungkin saja kau tanam dengan punggungmu sendiri, kekuatanmu sendiri, ditopang dengan tangan-tangan mereka yang mengasihimu sepanjang waktu. Sandaran itu mungkin saja dibangun oleh seseorang yang jauh lebih perkasa daripada aku. Dalam haruku, tak lagi terbit rasa cemburu. Aku hanya ingin kau bahagia di mana pun engkau bersandar.


Setelah benih menampakkan tunasnya, egoku lebih sering meninggalkanmu lebih banyak berjuang menumbuhkannya. Seandainya dapat ku jelaskan padamu, banyak yang ingin ku lakukan di luar sana. Sejujurnya, aku ingin bebas terbang ke manapun aku suka. Mencapai mimpi yang seolah tak pernah cukup waktu untuk meraihnya.


Seandainya dapat ku jelaskan padamu juga, ada ego lain yang membuatku lebih suka terbang jauh. Ada perbedaan yang membuatku tak suka berada di sana. Udara di sana terasa sesak. Aku merasa, akar yang awalnya kami harapkan bersama, telah tumbuh menjadi tunas yang berbeda, yang semakin tak ku kenali bentuknya. Aku lelah dengan perdebatan dengannya mengenai pupuk mana yang lebih baik. Aku lelah memberi semangat untuk dia bangkit dari kemurungan dan pesimisme saat menyaksikan tunas itu tumbuh dengan lambat. Sehingga akhirnya ku biarkan tangannya menanam sendirian, berharap tunas tumbuh lebih baik setelah dia meletakkan segenap jiwanya di sana.


Namun jika sewaktu-waktu aku kembali ke tempat kita, ku temukan hatiku mencair dan mengalirkan basah di mataku. Haruku padamu, pada hidupmu, pada hubungan antara kita, yang meluapkan cinta ini. Ku seka haru itu dalam diam, dan ku balut dengan rasa syukur dan keceriaan. Ku nikmati hubungan kita. Ku syukuri kita berjodoh dalam hidup ini, karena aku merasa tenang dikelilingi kebaikan yang terpancar dari dalam matamu.


Kadangkala haruku terputus oleh kejengkelan. Kesalahanmu beragam hadirnya di depan mataku, yang harus ku luruskan saat itu juga demi kebaikan kita bersama. Akhirnya membuatku menggerutu, mengomelimu, marah padamu, menasihatimu panjang lebar. Kadang ku pulang masih membawa duka. Namun kadang juga ku pulang dengan rasa ikhlas dan lapang dada, karena ku tahu engkau manusia biasa yang tak luput dari lalai dan salah, dan engkau telah mengerti apa yang ku mau untuk tunas itu tumbuh.


Dalam haru, tak ku katakan sepatah kata padamu hari ini. Namun aku percaya, bahwa hati bisa bicara. Semakin banyak ku pancarkan rasa cintaku padamu, jalinan tak kasat mata di antara kita mampu menyampaikannya. Semoga rasa ini, juga mampu menambahkan secuil bahagia untuk hari ini. Karena engkau yang bahagia, akan menumbuhkan tunas apapun dengan baik adanya.


Semoga engkau mengerti, aku hanya datang sewaktu-waktu. Biarkan aku membentuk dadaku menjadi semakin lapang, sehingga udara di sana tak lagi membuatku sesak. Biarkan tulang-tulangku semakin kuat, sehingga aku tak lagi rapuh. Biarkan aku beristirahat, agar aku tak selalu lelah. Aku butuh oksigen kebebasan untuk suatu sekolah kehidupan.


Ibarat hujan, sewaktu-waktu aku hadir menyebalkan dan kadang menyegarkan, beserta segumpal omelan, sejumput semangat, dan sepercik cinta untuk hatimu.



Selasa, 11 November 2008

Sepercik Kisah Tentang Luang Pu

Mendiang Luang Pu Dun (Phra Ajaan Dune Atulo) adalah salah satu murid paling senior dari master meditasi legendaris Ajahn Mun. Beliau sangat disegani di kalangan para bhikkhu tradisi hutan Thai. Luang Pu dikenal sangat “pelit” bicara, hampir tak pernah mengajar secara formal, sehingga catatan tentang ajaran beliau hanya ada berupa satu buku tipis berjudul “Atulo”. Buku yang hanya 40-an halaman ini isinya sangat tajam dan telak.

– Dikutip dari “Sinar Dharma” Vol.6, No.1, Maret-Mei 2008, hal. 58.


Berikut adalah salah satu dari percikan kisah tentang Luang Pu. Saya membacanya beberapa hari yang lalu dari majalah “Sinar Dharma” yang merupakan media berbagi ajaran Buddha, yang redaksinya beralamat di Surabaya. Ada beberapa kisah di majalah ini. Salah satunya membuat saya tersentak, seolah seiring dengan terurainya salah satu dari antara jutaan ‘simpul’ kecil yang menghalangi seutas benang tipis melalui sebuah lubang jarum.


Sebelum masa vassa tahun 1953, Luang Phaw Thaw – seorang famili Luang Pu yang ditahbiskan pada usia lanjut – pulang dari perjalanan kelananya bersama Ajahn Thate dan Ajahn Saam di Propinsi Phang-nga. Ia bermaksud memberi hormat kepada Luang Pu serta hendak belajar lebih lanjut tentang meditasi.

Luang Phaw Thaw lalu berbincang dengan Luang Pu dalam suasana yang akrab, “Sekarang engkau telah merampungkan pembangunan aula penahbisan dan ruang Dhammasala yang bagus dan luas. Engkau telah menimbun karma baik yang luar biasa besar.

Luang Pu menjawab, “Yang aku bangun ini adalah untuk kebaikan orang banyak, untuk kebaikan dunia, vihara, dan agama; sudah, itu saja. Soal timbunan karma baik, punya begini bagiku mau untuk apa?”



Bagi saya cerita ini membawa makna besar tentang: K e s a d a r a n. I t u . s a j a . y a n g . u t a m a.


Luang Pu sudah mengalaminya, sebuah kunci untuk segalanya.


Pikiran mendahului semua kondisi bathin, pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. Apabila dengan pikiran yang bersih/suci seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka kebahagiaan akan mengikuti si pelaku karenanya, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan badannya. (Dhammapada 1:2)


Sekarang buku “Atulo” telah diterjemahkan ulang oleh Ajahn Thanissaro dan bisa di-download di internet dengan judul baru: Gifts He Left Behind.