Selasa, 11 November 2008

Sepercik Kisah Tentang Luang Pu

Mendiang Luang Pu Dun (Phra Ajaan Dune Atulo) adalah salah satu murid paling senior dari master meditasi legendaris Ajahn Mun. Beliau sangat disegani di kalangan para bhikkhu tradisi hutan Thai. Luang Pu dikenal sangat “pelit” bicara, hampir tak pernah mengajar secara formal, sehingga catatan tentang ajaran beliau hanya ada berupa satu buku tipis berjudul “Atulo”. Buku yang hanya 40-an halaman ini isinya sangat tajam dan telak.

– Dikutip dari “Sinar Dharma” Vol.6, No.1, Maret-Mei 2008, hal. 58.


Berikut adalah salah satu dari percikan kisah tentang Luang Pu. Saya membacanya beberapa hari yang lalu dari majalah “Sinar Dharma” yang merupakan media berbagi ajaran Buddha, yang redaksinya beralamat di Surabaya. Ada beberapa kisah di majalah ini. Salah satunya membuat saya tersentak, seolah seiring dengan terurainya salah satu dari antara jutaan ‘simpul’ kecil yang menghalangi seutas benang tipis melalui sebuah lubang jarum.


Sebelum masa vassa tahun 1953, Luang Phaw Thaw – seorang famili Luang Pu yang ditahbiskan pada usia lanjut – pulang dari perjalanan kelananya bersama Ajahn Thate dan Ajahn Saam di Propinsi Phang-nga. Ia bermaksud memberi hormat kepada Luang Pu serta hendak belajar lebih lanjut tentang meditasi.

Luang Phaw Thaw lalu berbincang dengan Luang Pu dalam suasana yang akrab, “Sekarang engkau telah merampungkan pembangunan aula penahbisan dan ruang Dhammasala yang bagus dan luas. Engkau telah menimbun karma baik yang luar biasa besar.

Luang Pu menjawab, “Yang aku bangun ini adalah untuk kebaikan orang banyak, untuk kebaikan dunia, vihara, dan agama; sudah, itu saja. Soal timbunan karma baik, punya begini bagiku mau untuk apa?”



Bagi saya cerita ini membawa makna besar tentang: K e s a d a r a n. I t u . s a j a . y a n g . u t a m a.


Luang Pu sudah mengalaminya, sebuah kunci untuk segalanya.


Pikiran mendahului semua kondisi bathin, pikiran adalah pemimpin, segalanya diciptakan oleh pikiran. Apabila dengan pikiran yang bersih/suci seseorang berbicara atau berbuat dengan jasmani, maka kebahagiaan akan mengikuti si pelaku karenanya, seperti bayangan yang tidak pernah meninggalkan badannya. (Dhammapada 1:2)


Sekarang buku “Atulo” telah diterjemahkan ulang oleh Ajahn Thanissaro dan bisa di-download di internet dengan judul baru: Gifts He Left Behind.




0 komentar:

Poskan Komentar