Setiap kali aku datang ke tempat ini, wajah-wajah lugu dan sederhana seketika menggugah rasa cinta. Cinta yang membuatku ingin merangkul. Cinta yang membuatku terenyuh di antara rasa syukur namun cemas bertanya-tanya, “Apakah kau bahagia?” Aku sayang padamu. Betapa aku ingin kau bahagia dan sejahtera.
Andai aku selalu bisa meringankan setiap beban dan menambahkan secuil bahagia. Andai aku semakin perkasa, dan menumbuhkan sebatang pohon besar untukmu bersandar. Sandaran yang bisa kau percaya. Sandaran di mana kau merasa nyaman. Sandaran yang menghantar hidup pada kesejahteraan. Terlalu sedikit yang telah aku lakukan. Begitu banyak yang seharusnya ku curahkan.
Di sisi yang lain aku tahu, bahwa masa depan tak pernah pasti. Mungkin suatu hari nanti, kau temukan sandaran lain yang lebih berharga untuk kesejahteraanmu. Sandaran itu mungkin saja kau tanam dengan punggungmu sendiri, kekuatanmu sendiri, ditopang dengan tangan-tangan mereka yang mengasihimu sepanjang waktu. Sandaran itu mungkin saja dibangun oleh seseorang yang jauh lebih perkasa daripada aku. Dalam haruku, tak lagi terbit rasa cemburu. Aku hanya ingin kau bahagia di mana pun engkau bersandar.
Setelah benih menampakkan tunasnya, egoku lebih sering meninggalkanmu lebih banyak berjuang menumbuhkannya. Seandainya dapat ku jelaskan padamu, banyak yang ingin ku lakukan di luar
Seandainya dapat ku jelaskan padamu juga, ada ego lain yang membuatku lebih suka terbang jauh.
Namun jika sewaktu-waktu aku kembali ke tempat kita, ku temukan hatiku mencair dan mengalirkan basah di mataku. Haruku padamu, pada hidupmu, pada hubungan antara kita, yang meluapkan cinta ini. Ku seka haru itu dalam diam, dan ku balut dengan rasa syukur dan keceriaan. Ku nikmati hubungan kita. Ku syukuri kita berjodoh dalam hidup ini, karena aku merasa tenang dikelilingi kebaikan yang terpancar dari dalam matamu.
Kadangkala haruku terputus oleh kejengkelan. Kesalahanmu beragam hadirnya di depan mataku, yang harus ku luruskan saat itu juga demi kebaikan kita bersama. Akhirnya membuatku menggerutu, mengomelimu, marah padamu, menasihatimu panjang lebar. Kadang ku pulang masih membawa duka. Namun kadang juga ku pulang dengan rasa ikhlas dan lapang dada, karena ku tahu engkau manusia biasa yang tak luput dari lalai dan salah, dan engkau telah mengerti apa yang ku mau untuk tunas itu tumbuh.
Dalam haru, tak ku katakan sepatah kata padamu hari ini. Namun aku percaya, bahwa hati bisa bicara. Semakin banyak ku pancarkan rasa cintaku padamu, jalinan tak kasat mata di antara kita mampu menyampaikannya. Semoga rasa ini, juga mampu menambahkan secuil bahagia untuk hari ini. Karena engkau yang bahagia, akan menumbuhkan tunas apapun dengan baik adanya.
Semoga engkau mengerti, aku hanya datang sewaktu-waktu. Biarkan aku membentuk dadaku menjadi semakin lapang, sehingga udara di
Ibarat hujan, sewaktu-waktu aku hadir menyebalkan dan kadang menyegarkan, beserta segumpal omelan, sejumput semangat, dan sepercik cinta untuk hatimu.
lovely words... ♥
BalasHapuswhen I read this... sumhow, I was thinking about my parents... ^^
is it about ur parents when U posted this?
anyway... nice to read ur blog...
I hope U wouldn't mind to visit back my blog ^^
c ya...
hi, kitty.. thank you for visiting my blog.
BalasHapusNo, it's not my about parents or family.
It's about 6 persons I know in my world for about this three recent years :)