Kamis, 23 Oktober 2008

My "ice cream" for today


Saya selalu menyukai sepotong hari seperti hari ini. Saya menyebutnya hari kebebasan. Saat di mana saya mengizinkan diri meninggalkan pekerjaan tanpa rasa bersalah. Saya menganggapnya “upah” bersenang-senang, setelah sekian hari berusaha menaruh konsentrasi pada tugas-tugas yang menanti dan merasa bersalah bila mengabaikan dan melupakannya sejenak saja. Hari ini saya mengizinkan diri mengabaikannya.

Pada hari seperti ini saya mengikuti semua sesuai suasana hati. Dimulai dengan memilih baju di pagi hari. Jika ingin tampil sporty, saya cari baju bergaya sporty yang saya sukai. Membuat saya merasa lincah, tangguh, tidak takut kotor, dan siap berlari mengejar bis dan nangkring di atas ojek motor dengan gagah. Ingin bergaya ‘masa bodo’, saya pilih baju usang yang saya suka, yang lebih sering malu saya pakai karena tak sesuai dengan umur saya dan mode saat ini. Mungkin itu sebuah overall dari bahan jeans yang sudah saya miliki sejak 10 tahun yang lalu, dan saya simpan karena punya nilai kenangan tersendiri. Atau kaus bergambar Tweety besar yang sebenarnya bukan untuk perempuan usia 32 tahun seperti saya. Ingin tampil manis, favorit saya adalah sebuah rok lebar berwarna ungu bergambar bunga-bunga sederhana dari kain batik tulis kesukaan saya. Apapun itu, saya pilih berdasarkan suasana hati hari itu.

Saya menikmati sebuah hari di mana saya berjalan-jalan sendirian ke tempat yang saya sukai. Saat berjalan sendirian, saya banyak mendengarkan diri saya sendiri, bercakap-cakap dengan diri sendiri, dan merasa mandiri. Di mana saja menikmati apa yang terlihat, dan sekilas sering menebak-nebak dan berkhayal saat memperhatikan seseorang. Melindungi diri sendiri lebih waspada dan mendekap ransel saat terjepit di busway yang sesak dengan penumpang, dan berjalan santai di jembatan penyeberangan. Mengingat-ingat berbagai rencana, menertawakan diri sendiri yang punya segudang keinginan, sekaligus mencatatnya supaya sewaktu-waktu bisa dipenuhi.

Yang paling sering dalam hari seperti ini, saya menuju perpustakaan Depdiknas di Senayan. Seperti hari ini, sudah jadwalnya untuk mengembalikan buku yang saya pinjam. Salah satu tempat favorit saya, walau saat melangkah ke sana saya tidak selalu dalam mood ingin baca buku. Di tempat ini saya begitu mudah menyapa dan tersenyum tulus & ramah pada mas-mas & mbak-mbak yang bertugas jaga di sana. Entahlah, apakah karena suasana hati saya sedang riang, atau memang benar seperti yang saya rasakan bahwa mas-mas & mbak-mbak di sana juga semua ramah dan selalu tulus tersenyum. Sampai-sampai saya pernah merasa ingin bekerja menjadi pustakawan atau pramuniaga toko buku Gramedia, selain karena saya gembira berada di antara banyak buku-buku, juga karena saya nge-fans berat dengan Pak Jakob Oetama. Hehehe. Dan terus terang saja, kadang-kadang masih terpikir demikian.

Di tempat ini saya membiarkan diri saya sedikit serakah. Selalu membuat saya ingin tahu lebih banyak tentang berbagai hal dan pengetahuan. Walaupun kesukaan saya itu hampir selalu berujung hanya memilih buku-buku fiksi untuk dibawa pulang. Hehehe. Seringkali saya ke sana tanpa tujuan mencari bahan bacaan tertentu. Selalu dimulai dengan berjalan dari rak ke rak hingga hampir satu jam. Sekadar membaca judul-judul buku dan sesekali melihat sekilas mengenai apa isinya, sudah bikin saya senang. Entah, mungkin ini penyakit gila nomor 31, kalau saya meminjam istilah Andrea Hirata. Hehehe. Setelah puas berkeliling dan mencomot beberapa buku dari rak, saya memilih tempat duduk dan baca-baca sekilas dan memiilih mana yang akan saya pinjam bawa pulang. Belum lagi koleksi VCD/DVD di perpustakaan itu yang bikin hati saya senang.

Kalau lapar, lari sejenak ke koperasi. Biasanya di sana ada beberapa macam gorengan yang lumayan untuk menahan lapar, dan sebotol Aqua dingin. Makan sambil melamun memandang hall kosong di depan perpustakaan, sudah terasa menyenangkan. Kenyang dan senang, masuk lagi ke dalam perpustakaan untuk baca buku atau sekadar membolak-balik buku, nonton VCD Discovery/National Geographic tentang hewan-hewan atau tempat-tempat di belahan bumi yang lain, memejamkan mata sambil terangguk-angguk dengan nikmat karena mengantuk, berkirim sms dengan suami sekadar ingin bilang bahwa saya senang ada di situ, dan kadang sekadar duduk bengong memandang hall kosong di bawah. Kadang-kadang sedikit sakit kepala, mungkin karena sirkulasi udara ruang perpustakaan yang berlangit-langit rendah dan bau debu dari buku-buku tua. Namun tak saya rasakan kalau sedang di sana. Biasanya saya pulang tengah hari, namun kadang-kadang menjelang sore, setelah puas dan menyesuaikan dengan jadwal bis menuju rumah saya.

Saya kadang-kadang teringat sepotong kalimat dalam film Under The Tuscan Sun:

“You have to live spherically in many directions.
Never lose your childish enthusiasm, and things will come your way.”

Great advice, isn’t it?
Saya suka sekali film itu. Sinematografinya bagus sekali. Jalan ceritanya fun, sekaligus menyelipkan makna yang bagus tanpa kesan menggurui.

Senangnya hidup bisa mengatur adanya hari-hari kebebasan seperti ini. Menikmati hal-hal sederhana dan gembira karenanya, adalah memanjakan jiwa kanak-anak yang selalu tersisa. Membuat saya hari ini terpikir, sebenarnya berbagai upaya saya untuk lebih ‘sehat dan bijaksana’ secara mental dan spiritual dalam kehidupan saat ini terutama untuk membereskan satu hal, yaitu menjadi manusia yang semakin bebas. Saya ingin bebas dari berbagai kendala dalam pribadi saya sendiri. Saya ingin gembira dalam menikmati hidup apa adanya di depan mata seperti dalam hari-hari seperti ini. Saya ingin bisa tersenyum lebar pada semua orang karena terdorong kegembiraan yang murni dari dalam. Saya ingin bebas dari basa-basi. Saya ingin bebas dari segala rasa bersalah. Saya ingin bebas tampil dan bicara tanpa khawatir dinilai, juga semakin hari semakin sedikit menilai orang lain.

Kali berikutnya saya ingin sekali jalan-jalan sendirian ke Sea World. Untuk berpuas diri memandangi ikan-ikan dalam berbagai bentuk yang aneh, tanpa ada yang menunggui saya untuk cepat-cepat beranjak pulang.

0 komentar:

Poskan Komentar