Sabtu, 04 Oktober 2008

Melepas


Beberapa hari yang lalu saya tertegun saat membuka-buka buku catatan check list tugas-tugas dan janji-janji yang harus direalisasikan baik dalam pekerjaan dan kehidupan pribadi. Saya berikan tanda pada tugas-tugas yang sudah dilaksanakan. Saya tertegun karena merasa seolah hidup saya hanya melewatkan tugas demi tugas, kewajiban demi kewajiban, rencana demi rencana, kegiatan demi kegiatan yang tak ada habisnya. Saya sesaat seperti tersesat dalam pertanyaan: untuk apa saya hidup? Rasanya hidup menjadi kurang bernilai saat saya hanya memandangnya sebagai suatu rangkaian pemenuhan berbagai kewajiban dan pencapaian. Saya mendadak tidak memiliki gambaran apakah arti sukses buat saya dan untuk apakah semua itu harus dilakukan. Saya hanya ingin lebih bahagia, namun keinginan itu terasa telah menjadi keserakahan, di tengah kehidupan saya yang seharusnya terasa cukup.

Pertanyaan semacam itu sedang malas saya pikirkan jawabannya. Hari libur, dan saya ingin kepala saya juga berlibur. Dua hari penuh saya hibur diri saya dalam berbagai kegiatan favorit yang tak menuntut kepala saya untuk berpikir. Menonton film-film komedi dan film anak-anak, membereskan koleksi CD dan DVD, menyampul buku-buku yang baru saya beli, tidur siang, bercanda dengan suami, jalan-jalan ke mal dengan suami dan sahabat. Bahkan saya malas untuk berinteraksi dengan banyak orang. Saya menikmati damainya hati saat bersama sehari penuh dengan orang-orang yang saya percaya.

Setelah kepala penuh energi dari istirahat yang menyenangkan, saya membaca buku Ajahn Brahm yang berjudul Superpower Mindfulness, yang sudah lama saya beli namun selama ini belum ingin dibaca. Terinspirasi oleh buku mengenai meditasi ini, saya menyadari hidup saya saat ini sebagai sepotong jalan dari sebuah jalan yang panjang. Perjalanan saat ini dan selanjutnya akan menjadi indah, mulia, atau tidaknya adalah di tangan saya saat ini sebagai penentu. Meditasi adalah cara untuk melepas dan mengembangkan pikiran yang cenderung tidak melekat. Melepas, adalah satu-satunya jalan menuju kedamaian bathin yang mantap. Jalan menuju pikiran yang murni dan kokoh. Melepas adalah tujuan akhir.

Dalam kehidupan sehari-hari seperti ini, di mana hidup terasa ruwet, untuk melepas membutuhkan upaya yang piawai dan ketekunan ekstra dan sangat sangat sulit untuk dijalankan. Ini berarti mengarahkan energi ke hal-hal yang tepat saja dan mempertahankannya sampai usai. Ajaran-ajaran agama mengajarkan manusia untuk mampu memberi lebih daripada menerima. Memberi dalam bentuk apapun, adalah suatu kesempatan untuk melatih diri melepas.

Kemarin saya mempelajari cara untuk melepas. Namun hari ini, niat baik yang masih tersisa kemarin, mulai berantakan karena terusik gesekan dalam kebutuhan pekerjaan dan pribadi. Merasa diperalat dan ditipu seolah dalam suatu lakon dagelan yang diciptakan orang lain, membuat segala niat baik hari ini buyar seketika. Kemarahan kembali bercokol di tempatnya.

Memang, upaya untuk melepas selayaknya tak boleh diberi jeda. Celah yang kecil akan cenderung robek membesar. Dan penderitaan adalah awal, tengah, dan akhirnya. Sehingga sesulit apapun, saya meyakini bahwa melepas sebagai tujuan akhir, merupakan suatu prioritas yang paling bermakna dari segala yang ada. Karena kini saya tahu apa yang penting buat saya. Yang penting bukan lah rampungnya tugas, kewajiban, kepuasan hati, dan menumpuk pahala kebaikan. Namun yang terpenting dari semuanya adalah melepas segala kemelekatan. Ingatan akan pengetahuan ini sangat bernilai bagi hati saya yang mulai saya tata kembali setelah jatuh kepingannya tadi siang.

1 komentar:

  1. i love this posting. kena banget di saya. makasih ya udah menuliskannya.

    met lebaran juga ya jeng. mohon maaf lahir dan batin. :-)

    BalasHapus