Selasa, 12 Agustus 2008

Buku yang Terbuka


Malam ini, saat dia sedang jauh di luar kota, tiba-tiba saya teringat sepotong kalimat yang pernah dia ucapkan 10-11 tahun yang lalu. Dia bilang dengan mimik serius (atau sok serius?), “Kalo elu bisa gua masukkin ke kantong baju, gua pengen bawa elu ke mana pun gua pergi.”

Hahaha…! Tiba-tiba rasanya terasa romantis bagi saya mengingat kembali kalimat itu. Ah, sejauh yang saya ingat saat ini, mungkin itulah kalimat paling romantis darinya buat saya :-)) Karena dia lebih banyak berekspresi dengan sentuhan dan tatapan dibandingkan dengan kata-kata, sehingga kalimat serupa itu terasa ‘langka’.

Mungkin dia tak pernah lagi berpikir demikian, dan pikiran seperti itu telah menjadi terlalu kekanak-kanakan baginya. Selain itu juga pasti karena saya yang juga tidak ‘imut-imut’ seperti dulu (hehehe…) , sehingga dia membayangkan untuk menjadikan saya serupa ‘gantungan kunci’ yang manis untuk dibawa dalam kantung baju ke mana-mana :-D

Tidak ada orang lain yang pernah saya pikirkan lebih daripada saya memikirkannya. Dia orang yang paling mampu membuat bahagia, dan paling mampu membuat sedih. Apakah takdir dan jodoh yang menjadikan seperti itu? Saya tidak tahu.

Saya tidak punya banyak rencana dan teori tentang bagaimana mempertahankan suatu hubungan cinta. Saya tidak tertarik membaca segala macam tips sehubungan dengan itu dari buku-buku atau majalah. Saya sendiri sadar, bahwa perjalanan hidup saya mungkin masih panjang dan saya tak tahu apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Mungkin saja salah satu dari kami suatu saat jenuh; mungkin saja kami ditimpa masalah berat yang berujung pada keinginan untuk berpisah. Tidak ada yang tidak mungkin, walau segalanya saat ini baik-baik saja.

Saya hanya mengikuti kata hati hari demi hari. Saya bilang bahwa saya sayang padanya, langsung dan spontan setiap kali saya ingin bilang. Saya memberi perhatian yang tulus untuknya. Saya komplain, ngomel, atau marah secara terbuka. Saya hanya seperti sebuah buku yang terbuka di hadapannya. Dia boleh ‘membaca’ seluruh isi hati dan kepala saya, dan saya tetap merasa nyaman. Sebaliknya, saya pun ingin dia selalu jujur dan terbuka.

Semakin banyak saya melihat dan menganalisa dengan kepala saya sendiri mengenai kehidupan manusia bersama pasangannya, semakin banyak teori yang bagi saya “kosong”, sehingga semakin sedikit teori yang saya percayai. Di mana pun dan bagi siapa pun, tips yang sering saya bagikan karena saya yakini benar dan berguna hanya satu: kejujuran & keterbukaan dalam segala hal pada pasangan. Karena bagi saya, kejujuran dan keterbukaan mengembangkan kepercayaan; kepercayaan mengembangkan rasa nyaman; dan rasa nyaman membuat segalanya terasa cukup.

Dan saya merasa cukup. Walaupun saya tak pernah cukup bertanya dalam hati, “Cintakah dia padaku?

……………………………………………………………………………………………………………….................................

“Cinta yang abadi kukira bukanlah sesuatu yang ditakdirkan, cinta yang abadi adalah sesuatu yang diperjuangkan terus menerus sehingga cinta itu tetap ada, tetap bertahan, tetap membara, tetap penuh pesona, tetap menggelisahkan, tetap misterius, dan tetap terus menerus menimbulkan tanda tanya: Cintakah kau padaku? Cintakah kau padaku?”

(Cintaku Jauh di Komodo, oleh Seno Gumira Ajidarma)

(gambar : destiny, by Cecile-c on flickr)

0 komentar:

Poskan Komentar