Rabu, 27 Agustus 2008

Keputusan Yang Membuat Nyaman


Kebimbangan selalu terasa sulit. Kadang-kadang meluaplah kejengkelan pada diri sendiri saat merasa ragu membuat keputusan. Mendengarkan berbagai pendapat dari orang lain lebih banyak membuat saya bimbang dibandingkan akhirnya menyelesaikan masalah. Kadangkala banyak mempertimbangkan kebutuhan orang lain di atas kepentingan diri sendiri pun tak kunjung membuat lega. Menjalankan tips yang saya kira 'smart' dari pendapat orang lain, pernah menjebloskan saya pada tindakan yang kemudian saya sadari ternyata tidak mewakili karakter diri saya sendiri, dan sialnya saat itu menyebabkan rusaknya hubungan baik dengan seorang teman.

Bukannya tak mau mendengarkan pendapat orang lain. Mungkin juga karena pada dasarnya saya keras kepala. Entahlah. Berbagai hal yang terjadi belakangan ini akhirnya membuat saya semakin percaya pada hati sendiri. Entah benar atau salah, saya hanya mau membuat keputusan yang menimbulkan rasa nyaman, yang tentunya telah pula saya ketahui segala alasan yang menyebabkan rasa nyaman itu. Alasan itu karena logika, ego, atau perasaan melankolis, perlu pula saya ketahui, dan bagi saya pada akhirnya, semuanya sah-sah saja.

Keputusan yang ‘salah’ bagi saya, selalu menimbulkan gelisah berkepanjangan dalam hati. Sampai menemukan saat di mana kepala menjadi jernih dan membuat keputusan yang ‘benar’, baru lah merasa nyaman dan lega. Benar atau salah, saya tanggungkan resikonya. Pengalaman membuat saya lebih mempercayai hati saya sendiri.

Ada kakak saya yang bilang, ‘kehidupan ini tak ada matematikanya’. Tak selalu dapat dijelaskan dengan perhitungan. Banyak berbagai unsur yang hadir tak terduga yang membelokkan segala perhitungan yang dikira sudah matang. Saya setuju, karena saya pun merasa takjub menyaksikan naik dan turunnya hidup saya ini dalam sepuluh tahun terakhir, dan menelaah berbagai peristiwa yang tak dapat dijelaskan mengapa terjadinya. Rezeki tak terduga, kehilangan tak terduga, rencana yang gagal dilaksanakan, rencana tak terduga yang datang mendadak dan membawa keberhasilan, seolah membuat saya merasa bahwa saya sedang dipermainkan oleh kehidupan. Mungkin supaya menempa diri lebih keras. Mungkin supaya tidak menjadi cengeng dan rapuh. Mungkin supaya lebih pintar dan bijak. Mungkin supaya lebih memperhatikan pembinaan spiritualitas diri sendiri. Mungkin pula supaya tidak takabur akan kelebihan dan keberhasilan yang sedang dinikmati. Mungkin supaya lebih tahu apa artinya 'bahagia'. Mungkinkah pula tak ada artinya, selain hanya sebagai pewarna kehidupan? Ah...tapi saya percaya bahwa semua 'belokan' sungai kehidupan memberi makna.

Karena itulah, saya hanya mau membuat keputusan yang menyamankan. Sekalipun keputusan itu membuat saya kehilangan sesuatu lebih banyak, biarlah. Toh apalah artinya jika kehilangan itu hanya berupa materi. Sedikit atau banyak, itu relatif. Besok masih bernafas atau tidak, kita tak pernah tahu. Benar atau salah, biarlah hati ini bernyanyi, hidup yang berwarna-warni ini dirayakan, kepala ini ringan, cinta dinikmati, rasa syukur memenuhi rongga dada, indahnya kebersamaan dimanjakan, kenyamanan jiwa tidak diabaikan.

Benar atau salah, saya hanya ingin bahagia. Dan sekali lagi, hidup ini bagi saya tidak ada matematikanya. Yang dikatakan salah belum tentu salah. Yang dikatakan benar belum tentu benar. Mungkin pula tak ada salah dan benarnya.

0 komentar:

Poskan Komentar