Jumat, 08 Agustus 2008

Memeluk Erat Sebuah Mimpi




Sejujurnya, bukan hanya sekadar menghibur diri, ku katakan perlahan dan teguh pada diriku hari ini, “Aku masih mengingatmu, Mimpiku.”

Ya, aku harus mewujudkanmu. Walau perjalanan sehari-hari tak selalu menghantarku untuk mencapaimu. Namun semua yang ku lakukan kini, tak membuatku melupakanmu. Gelisah itu selalu ada, karena hasrat yang menuntut untuk dipenuhi. Seolah hidup tak pernah sempurna selama tangan, indera, jiwa, dan pikiranku tak bersatu-padu menghilangkan waktu.

Wahai Mimpi, aku bayangkan, sempurna lah semua jika kau ku raih. Aku, sang manusia loba, ingin memiliki segalanya. Aku ingin menjadi segalanya yang aku mau. Aku ingin pintar, perkasa, dan penuh cinta. Aku ingin setiap detik menghantarku ke sana. Aku ingin menikmati waktu bersamamu sambil benyanyi, “Oh, alangkah bahagianya…, alangkah bahagianya…” Saat ini hampir ku miliki semua, yang tertinggal hanya engkau yang memintaku mendaki tinggi untuk meraihmu.

Mimpi, engkaulah gemerlap bintang dalam hidupku. Sejujurnya, terlalu besar rasa malu untuk menceritakan tentangmu pada mereka. Hanya kekasihku seorang yang tahu apakah mimpiku itu. Dia mengerti, betapa berartinya engkau bagi hidupku. Mereka yang lain mungkin akan terbahak karena melihatku bagai pungguk merindukan bulan. Tapi aku tak peduli, karena bulan yang indah itu pun telah dijejaki. Mungkin engkau tak harus ada. Tapi engkau lah yang akan menjadikan waktuku seolah tak berbatas, di mana yang ada hanya aku sendiri, dalam hiruk-pikuk dan tumpah-ruah imajinasi.

Mulai hari ini, akan ku izinkan diriku setiap hari mencuri sedikit waktu, demi mewujudkanmu dalam hidupku. Karena jika tidak, aku akan mengering seperti sebatang pohon menjelang layu, sedih mendambakan buah-buah manis yang tak pernah tumbuh di rantingnya.


0 komentar:

Poskan Komentar