Merasakan realita kematian, adalah rahmat yang saya alami pada suatu siang hari di pertengahan bulan lalu, ketika saya mendampingi seorang sahabat saat jenazah ibunya tercinta dimandikan. Sahabat saya mengajak saya masuk ke ruang jenazah untuk menyaksikan pemandian jenazah.
“Elu gak takut kan?”
“Enggak. Enggak takut kok,” jawab saya mantap. Teringat bahwa saya sudah terbiasa nonton film seri Six Feet Under. “Tapi apakah adik-adik elu tidak keberatan? Karena gua bukan anggota keluarga.”
“Enggak apa-apa, masuk aja. OK?”
“OK.”
Entah apakah dia hanya ingin menghargai kehadiran saya, ataukah dia ingin saya mendampinginya menyaksikan suatu momen yang akan diingatnya seumur hidup, saya menghargai ajakannya itu. Dalam pikiran saya, terlintas bahwa karma saya lah yang membawa saya datang pagi-pagi di rumah duka itu, sehingga saya diajak menyaksikan proses memandikan jenazah ini. Entah bagaimana, perasaan saya mengatakan bahwa ini adalah karma baik.
Sama sekali tidak ada rasa takut masuk dalam ruang jenazah yang dingin itu. Sahabat saya terlihat tenang, dan berdialog sebentar dengan seorang wanita yang akan memandikan jenazah. Dalam hati saya berbisik, mengucapkan selamat jalan pada tubuh kaku yang pernah saya kenal, ibu sahabat saya. Dalam hati saya mengucapkan doa singkat berulang-ulang, ‘semoga dia berbahagia, damai, dan bebas dari penderitaan’.
Kemudian dia, saya, dan dua orang adik perempuannya berdiri diam di pinggir pintu kamar mandi yang luas, di mana di tengahnya berdiri dua buah meja keramik tempat meletakkan jenazah. Selama ini saya melihat tubuh yang mati hanya setelah dirias, diberi pakaian rapi dan ditidurkan dalam peti jenazah. Itulah pertama kali saya melihat tubuh kaku yang dimandikan, diangkat dan dimiringkan untuk disabuni, yang tetap kaku dan lurus seperti batang kayu. Seperti boneka. Jika saya tak pernah mengenalnya, mungkin saya sulit membayangkan bahwa tubuh itu pernah hidup, berjalan, dan berbicara.
Kedua adik perempuan sahabat saya terisak di sisi saya. Saya hanya diam, dan sesaat tenggelam dalam rasa empati. Namun lebih banyak hadir perasaan takjub, yang sulit saya jelaskan maknanya. Mungkin seperti seorang anak kecil yang menyaksikan suatu hal baru penuh rasa ingin tahu.
“Tubuh ternyata begitu saja ya, Ver..., hanya casing,” sahabat saya bergumam di sisi saya. Saya hanya mengangguk, lebih banyak tenggelam dalam perasaan saya sendiri. Kemudian ikut membantu sebentar memakaikan kaus kaki dan sepasang sandal pada kaki jenazah, dan menyaksikan jenazah dirias dengan lipstik dan bedak sederhana.
Saya mendapati kesadaran meluap dalam diri saya, bahwa saya juga akan mati. Bahwa tubuh saya juga akan menjadi kaku seperti batang kayu. Sesuatu yang saya ketahui, namun tidak setiap hari saya rasakan. Saya akan mati. Semua akan berlalu. Namun saya tidak takut. Saya menjadi takut saat terlintas dalam benak saya beberapa wajah orang-orang yang saya cintai, dan menyadari bahwa mereka pun akan mati.
Sepulang dari rumah duka, saya menghabiskan sore dan malam hari itu dengan banyak berdiam diri. Malam itu menjelang tidur, saya meringkuk di tempat tidur, merebahkan kepala yang terasa berat, dan berpikir tentang tubuh dan “siapa” yang ada di dalam. Saya melihat, tapi mata itu hanya seperti jendela. Saya mendengar, tapi telinga itu hanyalah penghubung ‘saya’ dengan apa yang ada di luar. Siapa yang melihat? Siapa yang mendengar? Siapa yang berpikir? Siapa yang menderita fisik dan bathin? Siapa yang punya rasa bangga, ambisi, dan segudang keinginan? Siapa ‘saya’ yang di dalam? Saya bukanlah “Vera”. Saya bukanlah “perempuan”. Saya bukanlah ‘saya’ yang dilihat oleh orang lain. Saya tertidur tanpa berusaha mendapatkan jawabnya. Biarlah bukan hari ini. Mungkin sepanjang hidup saya harus mencari, untuk sungguh-sungguh mengetahui dan merasakan ‘siapakah saya’. Mungkin pula bukan pada kehidupan di saat ini saya akan merasakannya.
Sejak saya di rumah duka, saya teringat berulang-ulang cerita dari buku “Burung Berkicau” (Anthony De Mello, SJ ) berikut ini. Ternyata saya mendapatkan sebuah rahmat pada hari itu.
Perbedaan Mutlak
Uwais,seorang sufi,pernah ditanya: “Apakah makna rahmat bagi anda?"
Jawabnya, “Setiap kali bangun pagi, aku merasa cemas, apakah aku masih akan hidup petang nanti.”
Kata si penanya, “Tetapi bukankah semua org tahu akan hal itu?'
Jawab Uwais, “Mereka memang tahu. Tetapi tidak semua merasakannya.”
Tidak pernah orang menjadi mabuk karena mengetahui arti perkataan' anggur'.
0 komentar:
Poskan Komentar