Rabu, 25 Juni 2008

Menuai hikmah dalam dua tahun ini


Siang ini saya tidur siang hampir empat jam. Padahal saya sangat jarang tidur siang. Lelah sekali rasanya hari ini. Mungkin karena saya belum terbiasa pada ritme baru dalam kegiatan saya sehari-hari, karena saat ini saya sedang memulai pekerjaan baru untuk me-manage klinik dan apotek milik kakak saya, di samping berusaha tetap memikirkan dan memperhatikan café yang sudah beroperasi satu setengah tahun. Tapi saya menyadari, lelah itu bukan pada fisik saya, melainkan dalam kepala saya. Rupanya memang beban pikiran menguras energi lebih banyak dibanding kegiatan fisik, apalagi bagi “si pengkhawatir” seperti saya.

Saya tahu sejak dua tahun lalu, bahwa saat saya memutuskan untuk berhenti bekerja dari perusahaan importir alat-alat industri, dan kemudian mencoba menjalankan bisnis café, energi dan semangat saya perlu tetap menggebu untuk mengatasi problem dan memberi atensi dalam 12 jam sehari. Sudah dua tahun, terbukti teori itu alangkah sulitnya dijalankan. Banting setir untuk up grade kualitas pada mentalitas pemimpin adalah kendala yang paling besar. Tapi jika itu bisa diatasi (dan harus bisa diatasi), saya percaya bahwa setiap upaya akan menunjukkan hasil kemajuan. Berusaha belajar mengalahkan diri sendiri, untuk melakukan apa yang harus dilakukan untuk kemajuan, dan bukannya lebih banyak mementingkan apa yang ingin dilakukan dalam keseharian.

Dulu saat jadi staff kantoran, sejak melangkah keluar dari gedung kantor, lupa lah dengan semua hal tentang pekerjaan. Hanya mengingat, ingin makan apa malam ini, ingin nonton film apa, ingin bertemu siapa, ingin baca buku siapa. Kalau pun bukan bersenang-senang sepulang dari kantor, saya masih dengan semangat mengurus pesanan parfum yang mendatangkan income tambahan. Nikmat sekali kalau diingat-ingat, sehingga dalam kecengengan saya, saya pernah down dan menyesal setengah mati sudah meninggalkan kantor saya yang nyaman, gaji yang dulu terlihat kurang namun sekarang terasa berarti nilainya, dan bonus yang saya terima tiap tahun. Namun saat itu kejenuhan dan tekanan pekerjaan yang dalam beberapa tahun terakhir begitu melelahkan, sehingga saya mempertanyakan kualitas hidup saya yang menurun karena saya terbentuk menjadi orang yang pemarah dalam lingkungan saat itu (saya tak ingin menyalahkan siapa pun atas kondisi tersebut). Karena itu saya tak punya kerinduan untuk kembali lagi. Hanya rindu pada nikmatnya gaji tetap setiap bulan, bonus, dan bercanda tiap hari dengan teman-teman di sana. Hehehe…

Apa pun yang sudah terjadi, saya tahu bahwa saya hanya boleh menatap saat ini. Belajar menikmati pekerjaan yang sekarang dilakukan, adaptasi dengan hal-hal baru, belajar tanpa henti, dan tetap menikmati menulis di blog ini untuk mengulik-ulik ke dalam diri dan meringankan beban di kepala.

Lagipula, dalam dua tahun terakhir ini, saya menemukan banyak sekali warna dan pelajaran berharga dalam perjalanan hidup ini. Salah satu contoh nyata adalah menyikapi kondisi keuangan pasca resign dari kantor yang lama, yang mengharuskan saya lebih cermat dalam pengeluaran. Dulu, masih merasa sah saja berboros-ria, sering sekali makan di luar setelah pulang kantor, beli benda-benda tanpa banyak pertimbangan atas kegunaan dan harganya. Kini, uang tabungan bersama suami yang diinvestasikan dalam usaha, belum menghasilkan pendapatan yang baik dan rutin setiap bulan, seperti yang saya harapkan. Itu kenyataan dalam memulai bisnis, yang harus saya pelajari untuk menerima dan menyikapinya. Sekarang, sikap konsumtif semakin berkurang, karena saya harus berusaha tetap menabung dan menghargai hasil jerih payah suami. Saya jauh lebih hemat dibanding dulu, walaupun saya berusaha untuk tidak menjadi kikir pada diri sendiri dan orang lain. Syukurlah saya merasa masih dalam jalur yang seimbang.

Selain itu, pelajaran yang paling besar yang saya rasakan adalah tentang sikap saya sebagai seorang pekerja. Saya menjadi sungguh-sungguh mengerti nilai berharga dedikasi dan loyalitas pada perusahaan, karena saya yang dulu berposisi sebagai bawahan kini merasakan menjadi pemimpin yang harus mencurahkan upaya untuk memikirkan kelangsungan dan kemajuan perusahaan, kehidupan karyawan, motivasi bagi karyawan. Saya yang dulu kadang-kadang menggerutu mengenai kebijakan perusahaan tempat saya bekerja, kini mengerti bagaimana pemimpin harus membuat keputusan atas dasar pertimbangan utama pada kepentingan bersama. Namun sebagai karyawan, mungkin masih saja merasa dikurangi kenyamanannya, karena hanya fokus pada kepentingan pribadi, dan bukannya pada kepentingan bersama perusahaan.

Pada akhirnya saya mengerti, bahwa mengelola sumber daya manusia adalah faktor yang paling sulit dalam menjalankan bisnis. Menimbulkan rasa memiliki dalam diri karyawan terhadap perusahaan tempatnya bekarya, adalah hal yang paling sulit dicapai. Jika itu sudah terbentuk, tumbuhlah dedikasi dan loyalitas, yang akhirnya mengalirkan potensi dan membentuk pekerja yang jujur dan bisa dipercaya. Sebelum berusaha sukses menumbuhkan kualitas tersebut pada karyawan-karyawan yang saya pimpin, dalam dua tahun ini saya mengalami naik-turunnya proses untuk menumbuh-kembangkan kualitas itu pada diri saya sendiri. Sambil ingin terus berusaha belajar bagaimana memotivasi orang lain demi menunbuhkan paradigma segar tentang tanggung jawab dan etika bekerja.

Selain kedua pelajaran berharga tersebut, banyak hal lainnya yang saya pelajari selama dua tahun terakhir ini terasa berlimpah nilainya dalam hidup saya. Susah, senang, gagal, berhasil, keyakinan, keraguan, bersemangat tinggi, feeling down, berganti-ganti memberikan pelajaran baru. Rasanya saya ingin mampu dan ingat untuk selalu mencatatkannya dalam catatan kehidupan saya. Namun jika sedang lelah dan khawatir tentang banyak hal, keinginan menulis juga surut dan mengalami kebuntuan.

Salah satu yang terasa sekali dalam dua tahun terakhir ini, adalah keberadaan sahabat-sahabat sejati dalam hidup saya. Di dalam segala kesulitan, saya menemukan sahabat-sahabat sejati. Mereka semua tetap ada di sekitar saya seperti apapun kondisi saya, dan saya juga merasa nyaman ada di sekitar mereka. Mereka ikut bahagia jika melihat saya mencapai sesuatu yang baik.

Sebagian besar dari mereka adalah keluarga saya, yaitu Mama, suami, mertua, dan kakak-kakak saya, yang selalu siap dengan penerimaan dan support yang luar biasa nilainya buat saya. Mereka adalah orang-orang paling peduli dan berusaha memberi perhatian dan bantuan jika bisa. Selain itu juga beberapa famili dan sahabat yang memberikan support dalam bentuk yang berbeda-beda. Kedatangannya ke café saya, memberikan saran-saran, memberikan informasi, menjadi tumpahan uneg-uneg dalam kekhawatiran dan masalah, adalah contoh-contoh support dari mereka yang ingin saya ingat selamanya.

Masalah boleh datang dan pergi tak ada habisnya sampai saya mati, tapi saya ingin tetap bersyukur atas semua jalan yang ada di depan mata saat ini.

0 komentar:

Poskan Komentar