Selasa, 17 Juni 2008

Dari Sebutir Semesta


Di sisimu adalah istirahat. Malam hari saat lelah tubuh dan kepala, bersandar padamu dalam diam, di mana pun kita berada, menjadi tempat paling nyaman di dunia. Menyandarkan kening di rahangmu, menciumi wajahmu, dan tangan kita bertaut. Menyentuh dan menghirup aroma kulitmu seolah tak kunjung cukup. Menginginkan detik-detik malam terasa panjang, mengantar kepada tidur yang nyaman.

Pagi menjelang. Di sisimu adalah rahmat. Ingin supaya mentari tak terlalu cepat meninggi, agar masih banyak waktu bagiku memeluk kepalamu yang bersandar padaku. Membelai rambutmu yang menggelitik wajahku, dan mencium kehangatan wajahmu seolah tak kunjung cukup. Sambil sesekali berpikir, bahwa aku menginginkan jutaan pagi seperti ini dalam hidup kita.

Padamu, aku melekat erat. Engkau magnit terhadap hasrat dan harapan di kepala. Aku seringkali tak mengerti dan tak mau mengerti, manakah yang membawa bahagia: melepaskan kemelekatan bathin padamu atau justru menikmati setiap butirnya dengan segenap indera.

Setiap hari denganmu menguatkan rasaku pada keindahan yang nyata. Persentuhan jiwa yang entah bagaimana terjadinya. Entah sampai kapan aku dapat selalu temukan rahasia demi rahasia. Membuatku tak habis bertanya tentang aku, engkau, cinta, serta Tuhan, yang tetap saja tak ku mengerti keberadaan-Nya. Hanya terbersit kagum pada indahnya semesta, dari setiap butir terjadinya kita.

0 komentar:

Poskan Komentar