Senin, 12 Mei 2008

Surat untuk Papa, setelah sepuluh tahun berlalu…


Papa, saya rindu. Dalam dunia saya, terhitung sudah 10 tahun kurang satu bulan kita tidak bertemu. Sejak awal tahun 2008 ini, entah mengapa, saya sering kali memimpikan Papa dalam tidur saya di malam hari. Dalam mimpi saya, hampir selalu seolah Papa masih ada bersama kami, saya tak ingat Papa sudah pergi. Apakah Papa memang bertemu saya dalam mimpi? Entahlah. Kenapa baru tahun ini saya banyak memimpikan Papa? Sedangkan sebelumnya saya jarang bermimpi. Saya juga tidak tahu.

Pa, saya membuat patung Papa kecil dari bahan dough, saat saya ke Shanghai akhir bulan lalu. Maksud saya, patung itu untuk Mama, yang pasti adalah orang yang paling merindukan Papa.Tapi sayang, saya menyesal bahwa patung itu tidak mirip dengan Papa.Walau sudah berkali-kali saya protes pada pembuatnya, akhirnya saya pasrah, bahwa tetap tidak mirip. Mungkin terutama karena bentuk matanya. Saya pulang dengan kecewa dari Yuyuan ke hotel, karena patung itu tak sesuai dengan yang saya harapkan.Tapi bagaimana pun saya tak dapat sebal pada pembuatnya, karena dia ramah dan wajahnya lucu saat terus-menerus tertawa jika saya protes padanya. Lagi pula dia hanya melihat foto Papa, pas foto hitam-putih pula.

Saya jadi ingin menuliskan banyak kenangan tentang Papa. Kenangan yang mungkin tak tertuangkan dengan lengkap, tapi berdasarkan ingatan saya pada setiap kesan dalam hari-hari saya bersama Papa.

Pa, kalau saya lagi rindu, kadang-kadang saya keluarkan simpanan saya, sehelai handuk kecil putih yang sudah menguning, yang saya bungkus rapi dalam sebuah plastik dan saya letakkan di sebuah kotak karton berwarna merah di lemari. Itu handuk yang terakhir Papa sampirkan di pundak sebelum meninggal. Lucu, walau sudah dicuci, saya merasa jika saya menghirup dalam-dalam, di sana masih ada selintas tipis aroma khas keringat Papa dan harum minyak rambut Papa yang pernah sangat saya kenal. Saya suka mencari-cari rekaman aroma dan rasa itu di dalam memori otak saya. Membaui aroma itu, kadang membuat saya semakin rindu pada rasa yang saya dapat saat merengkuh bahu tua Papa yang kurus.

Oh ya, saya masih menyimpan foto Oma yang Papa terima saat Papa sudah tua. Saya tahu wajah itu sudah Papa lupakan, karena Oma tak pernah lagi bertemu Papa sejak Papa berusia satu tahun. Papa masih ingat tulisan tangan di balik foto itu? Begini tulisannya:

“1 ade jang pertama
nama Maria Rosa
2 nama Maria Teresa
3 nama Maria Fatima

4 Mama jang tak loepa

Itu foto Oma bersama adik-adik tiri Papa dari perkawinan kedua setelah Oma pulang ke Portugis, karena tidak tahan dengan ulah Engkong yang tak cukup punya satu isteri.

Saya ingat Papa kadang-kadang mengulang cerita tentang masa kecil Papa di Kupang saat diasuh Oma-nya Papa, berjualan kue keliling kampung di zaman penjajahan Belanda. Saya menangkap kesan, bahwa walau hanya sekolah sampai kelas 3 SD, Papa punya minat yang besar untuk belajar. Saya ingat Papa bercerita, buku tulis sekolah Papa seringkali harus dihapus seluruh isinya supaya bisa dipakai kembali. Saya juga ingat bahwa dulu Papa marah jika menemukan sebatang pensil yang sudah pendek dan buruk rupa tercecer tidak pada tempatnya di rumah kita. Kalimat Papa ini sudah sangat saya kenal, “Duluuu… pensil semacam ini masih saya pakai walau harus disambung dengan kayu.”

Pa, banyak yang saya kagumi dan pelajari dari Papa. Saya kagum, rendahnya pendidikan formal tak menghalangi kecerdasan, perkembangan wawasan, dan kebijaksanaan Papa menyikapi hidup. Saya salut dengan rasa percaya diri yang besar dalam diri Papa. Saya suka, Papa selalu bicara jujur dan terbuka, kadang-kadang malah saya khawatir menyinggung perasaan orang lain yang belum mengenal Papa dengan baik. Setelah saya membaca buku Personality Plus, saya tahu bahwa Papa adalah seorang sanguin (dominan), sehingga Papa mudah bergaul dan banyak teman karena sifat Papa yang periang. Saya masih mengingat cara Papa menulis perlahan dengan baik dan rapi dengan tulisan yang miring ke kanan. Papa ingat nggak, waktu SD setiap hari Jumat saya sering menunggui Papa menulis di atas slip tabungan (Tabanas) atas nama saya, yang dikumpulkan secara kolektif di sekolah.

Apakah Papa ingat, saya selalu protes tak percaya jika Papa bilang seumur hidup wajah Papa tak pernah berjerawat, sambil mengejek jerawat di muka saya? Ya, Papa kadang-kadang narsis sekali. Huu… Papa suka mengaku-ngaku tampan. Bosan saya, Papa sering bilang, “Dulu, tidak kurang dari 50 cewek yang naksir Papa. Kata orang, Papa mirip Pat Boone.” Hehehe..

Saya suka bahasa tubuh Papa yang santun dan penampilan Papa yang selalu rapi dan bersih. Papa yang selalu duduk rapi di meja makan dengan sendok dan garpu. Jelas tak seperti saya, yang sukaaa… sekali makan tanpa sendok sambil melipat sebelah kaki di atas kursi.

Pa,kadang-kadang Mama masih menceritakan masa sebelum saya lahir, saat Papa terjerat dengan kebiasaan berjudi dengan main kartu remi. Saya mendengarkan bagaimana Mama saat itu sering menunggu Papa pulang lewat tengah malam, bahkan saat menjelang pagi. Kok Papa nekad juga ya…, mengabaikan keluhan dan kemarahan Mama. Padahal Mama kan tegas dan kadang-kadang galak juga. Hehehe… Tapi saya bangga, Pa…, karena dalam pertengkaran dengan Mama, tak pernah sekalipun seumur hidup Papa melayangkan tangan untuk menyakiti Mama. Sungguh-sungguh tak pernah kan, Pa? Tapi karena kebandelan Papa terbiasa berjudi ini, salah sendiri, Pa… Papa jadi terlalu banyak minum soft drink dan merusak pola makan, dan akhirnya Papa kena diabetes yang berpuluh tahun menggerogoti kesehatan Papa.

Apa Papa pernah merasa bosan dan malas saat setiap hari selalu menjemput dan mengantar saya selama 6 tahun di SD? Saya masih sangat ingat dengan mobil jeep tua kita. Saya jarang sekali terlambat ke sekolah karena Papa selalu ngebut. Kita seringkali hanya bercakap-cakap singkat atau hanya sibuk dengan pikiran masing-masing sepanjang perjalanan.

Pa, dulu saya paling senang pergi untuk beli sepatu dengan Papa dibandingkan dengan Mama. Dulu saya sering berharap Mama tak ikut ke toko sepatu, karena Mama tak mementingkan model, hanya yang sekadar kuat dan tahan lama. Karena saya ingat Papa hanya duduk menunggui kami memilih sepatu sambil ngobrol dengan pemilik toko, dan membayar sepatu apapun yang kami pilih. Untungnya kami cukup cerdas dan tahu diri, memilih sepatu yang tidak terlalu mahal, tapi sesuai selera, dan kalau bisa tak mudah rusak pula.

Saat ini saya tersenyum sendiri, mengingat Papa sering curang kalau kita sedang main kartu remi. Curang sekali…! Kacian deh… Papa nggak pintar main curang sehingga hampir selalu ketahuan. Hehehe… Ingat, Pa, dulu saya betah nongkrong masih dengan baju seragam SMP menempel di badan dari siang pulang sekolah sampai senja, karena asyik dalam ramai gelak tawa bila kita main kartu.

Pa, saya tak pernah sedih karena kehidupan kita yang sangat sederhana. Papa sudah memberikan yang terbaik untuk kami. Saat itu hemat memang keharusan, apalagi ditilik dari kondisi ekonomi keluarga saat kami berenam masih sekolah. Saya ingat, Papa tak segan mengecat rumah sendiri demi penghematan, supaya rumah kita selalu bersih. Saya bangga, sesulit apapun beban hidup, Papa berusaha adil dan jujur. Tak pernah mau merugikan orang lain, apalagi menipu.

Papa memang rapi saat merawat benda-benda pribadi. Papa sebetulnya norak juga, suka pakai cincin dengan hiasan batu sebesar jempol tangan. Seperti Tessi Pelawak atau tukang pukul saja! Hehehe… Batu cincin kesayangan digosok terus supaya ‘masak’, sampai-sampai kerap dipanasi di atas mesin mobil. Papa ingat nggak, pernah Papa lupa dan cincin itu tertinggal di mesin mobil. Akhirnya sempat membuat Papa heboh dan panik di tengah jalan, dan kemudian bernafas lega setelah mendapati cincin kesayangan Papa masih bertengger di atas mesin.

Saya dulu sering sebal kalau sesekali Papa memarahi saya jika tak menyimpan barang-barang dengan rapi. Papa juga pernah menyabet kaki saya dengan ikat pinggang hingga bergurat-gurat merah dan pedih karena menjambak rambut Mona. Huehehe… Tapi Papa hanya keras ‘di luarnya’. Papa masih ingat dengan anjing hitam yang saya beri nama ‘Mimi’ ? Waktu Mimi masih bayi, Papa jalan kaki sekitar 500 meter sambil menggendong pulang anjing itu ke rumah. Papa tahu bahwa saya ingin punya seekor anjing. “Tuh, lihat ada apa di balik kursi,” kata Papa waktu saya pulang sari sekolah. Saya ingat bagaimana saya memekik girang melihat anak anjing hitam legam yang berjalan terhuyung-huyung dan ekornya berkibas-kibas lucu. Pa, saya selalu tahu bahwa Papa sayang sekali pada saya. Saya tak akan pernah lupa bagaimana Papa menangis di meja makan saat saya sakit hepatitis A. Padahal waktu itu dokter sudah bilang, bahwa saya akan baik-baik saja.

Pa, siapa sih di antara kami berenam yang sebetulnya anak kesayangan Papa? Kata orang-orang, pasti ada yang spesial di hati. Tapi kami tak pernah tahu, karena Papa tak pernah menunjukkannya. Thanks, Pa… karena semua pernah mendapat marah dan cinta dalam porsi yang sama. Juga kerasnya Papa mendidik kami seimbang dengan cinta yang Papa berikan.

Thanks juga, Pa… karena Papa tidak pernah menuntut kami untuk menjadi juara kelas. Pernah gak sih Papa melirik raport kami dengan sungguh-sungguh? Hehehe… Tapi saya tahu, Papa juga menanamkan rasa tanggung jawab, dan bersikap penuh penghargaan saat kami mencapai prestasi.

Papa, apakah Papa tahu…, setelah saya dewasa, saya mendapati beberapa kesamaan sifat antara saya dan Papa? Terutama pada sifat terus terang dan mudah meledak-ledak. Saya juga seperti Papa dalam hal menjadi ‘Si Pengkhawatir’ terhadap keselamatan orang yang dicintai dan keinginan untuk melindungi. Papa pasti masih ingat, saya pernah menangis karena Papa tak memperbolehkan saya pergi camping dengan rombongan pramuka. Tapi, saya juga ingin Papa tahu, setelah saya dewasa, baru saya bisa memahami kekhawatiran Papa pada kami. Semua saya sadari setelah saya menyaksikan begitu banyaknya kejadian di sekitar kita yang mengancam keselamatan anak-anak.

Pa, ternyata saya rindu memijat Papa, seperti yang hampir tiap hari saya lakukan jika saya di rumah. Saya ingat, acara memijat diawali dengan omelan pula. “Ayo, sini, jangan malas pijit Papa!” Duh, kata-kata ‘jangan malas’ itu tak pernah ketinggalan. Hehehe… Pujian Papa bahwa pijatan saya enak, sudah bertahun-tahun tak mempan lagi bagi saya, karena saya tahu itu hanya taktik Papa supaya saya termotivasi memijat sebaik dan selama mungkin. Kadangkala, sudah memijatnya mengerahkan tenaga, dapat pula bonus ‘bom angin’ tanpa permisi. Papa ingat, waktu masih kecil, saya menangis dikentuti seperti itu? Saya ingat bahwa itu membuat Papa terkekeh-kekeh dengan girangnya!

Pa, saya tak akan melupakan kebersamaan dengan Papa saat pendaftaran masuk universitas di Bandung. Saya suka dengan tradisi tak tertulis, saat kami daftar masuk universitas, Papa yang akan mendampingi dan mengurus pembayaran. Walau mungkin sebenarnya tak perlu karena saya sudah dewasa, tapi saya maklum dengan keinginan Papa untuk mengantar diiringi rasa bangga dengan jerih payah Papa. Ingat kan, Pa… waktu itu kita berangkat naik travel dan pulang dengan kereta api, dan Papa terlihat menikmati perjalanan kita. Wuih… Lupa sama diabetes, kesempatan deh, Papa makan banyak dan minum satu kaleng Coca Cola di kereta! Hehehe…

Pa, ingat nggak, Papa membawa uang tunai tidak kurang dari empat juta Rupiah, sejumlah yang harus dibayar sebagai uang pangkal, biaya semester pertama, dan pembayaran jaket almamater. Wow…Tak mungkin saya lupa, uang itu tersimpan aman di saku rahasia tertutup dengan peniti, di… ups! Di celana dalam Papa ! Hehehe… Saya ingat, saya lirik kiri-kanan, khawatir terlalu banyak orang yang menyaksikan Papa mengeluarkan uang dari saku rahasia di depan meja pendaftaran. Duh, saya geli ingin tertawa, sedikit malu, namun juga terharu…

Pa, papa ingat hadiah terakhir Papa buat saya, sepasang sepatu kets Reebok saat saya berhasil meningkatkan IP saya di semester ke-2 ? Sampai kini saya simpan sebagai kenang-kenangan, walau tak pernah lagi saya pakai. Saya ingat saat saya berangkat ke Bandung sehari sebelum Papa meninggal. Saat saya sibuk mengikat tali sepatu itu, dengan riang saya bilang, “Pa, sepatu ini masih bagus lho, biarpun saya pakai hampir setiap hari.” Saya mendongak dan mendapati Papa menatap saya dengan tatapan yang tidak saya mengerti. Saya mengartikannya sebagai perasaan sayang yang tidak Papa ungkapkan dengan kata-kata. Sebelum berangkat, saya mencium Papa di dekat pintu. Pa, jujur, saat kita berpelukan, mungkin hanya sedetik mampir rasa khawatir di pikiran saya, bahwa itu adalah pertemuan kita yang terakhir.

Saya tidak peduli bahwa Papa bukan pemeluk agama yang taat, bahkan malahan saya suka. Papa hidup dalam religiusitas Papa sendiri yang saya hormati. Dulu kadang-kadang saya menertawakan Papa yang sedang menghafal kembali doa “Bapa Kami” dan “Salam Maria”, karena Papa takut salah ucap saat Pastor datang ke rumah kita untuk memberikan komuni, atau saat ada acara doa Rosario di rumah. Tapi saya ingin tahu, apakah benar Papa berdoa lama dan khusuk pada malam terakhir di dunia ini? Orang-orang di rumah bercerita seperti itu. Apakah Papa saat itu tahu, Papa akan pergi meninggalkan kami?

Saya bersyukur, Pa, bahwa selama hari-hari menjelang kepergian Papa, Papa terlihat sehat dan segar bugar. Walau saya sudah lama diberitahu, bahwa kondisi jantung Papa sudah tidak baik kerjanya. Saya maklum bahwa Papa tak mau pindah rumah. “Supaya dekat dengan rumah sakit,” itu yang selalu Papa bilang. Pa, memang semangat hidup Papa luar biasa. Saya senang Papa pergi dalam keadaan sadar. Papa sempat bilang, “Ini serangan stroke ketiga, kali ini Papa pergi.” Waktu itu saya diceritakan, Papa meninggalkan Mama yang bersandar lemas di dinding rumah sakit, tanpa bersandal dan hanya berbaju tidur. Mama seperti tak percaya bahwa Papa telah pergi.

Pa, saya mau cerita tentang sehari setelah Papa dikremasi dengan pembakaran alami semalam suntuk. Pagi harinya kami mendatangi tempat pembakaran jenazah sambil masing-masing memegang sumpit dan sebuah wadah. Kami berkeliling memunguti tulang-tulang yang tak hancur jadi abu, dan mengumpulkan abu jenazah. Masing-masing terisak dalam diam. Air mata membanjiri wajah saya dalam suatu perasaan campur-aduk saat saya mendapati tulang-tulang kecil yang katanya adalah bagian dari jari kaki Papa. Saya merasa kehilangan, karena mengingat jari-jari kaki yang sering saya pijat, saya tekan-tekan dengan kayu, saya tarik-tarik, saat memijat Papa. Tapi saya juga lega, karena Papa tak lagi merasakan kaki yang selalu kram seperti biasanya.

Papa, jika saya renungkan semua sebab mengapa kami semua senantiasa mengenang dan merindukan Papa, saya sudah tahu jawabnya. Saya tahu, semua berawal dari kesetiaan. Ya, kesetiaan. Kesetiaan pada Mama dan kami semua. Papa memberikan teladan kesetiaan Papa pada satu cinta dalam hidup Papa, pada komitmen perkawinan dan kejujuran. Papa menunjukkan di depan mata kami apa yang menjadi pondasi sebuah keluarga. Papa ngotot meninggalkan amanat bahwa kami berenam harus selalu bersatu dalam susah dan senang. Papa tak luput dari kekurangan manusiawi, tapi bagi saya Papa adalah ayah yang sempurna. Jika kami berkumpul bersama, kami masih suka saling menimpali satu sama lain tentang kenangan bersama Papa, yang biasanya jadi ramai dalam percakapan yang penuh tawa, hormat, dan cinta.

Terima kasih, Papa. Terima kasih atas cintamu pada kami semua. Mudah-mudahan kita akan berjumpa kembali suatu saat nanti.


2 komentar:

  1. Jika saat tidur kita bermimpi, kita tahu bukan rasanya saat kita terbangun dari tidur ?

    Ada yang mengatakan "Hidup bagaikan mimpi".
    Pertanyaan :
    Apa yang kita rasakan yach saat kita terbangun nanti setelah bertahun bermimpi-mimpi ?
    Apakah pengalaman-pengalaman akan melekat dengan diri ini ? Atau
    Apakah semua mimpi itu lenyap, seperti mimpi kita saat tertidur ?,
    sehingga tak ada yang melekat dan diri sendiri tak ada lagi ????
    Berpikir seperti ini, Aku merasakan kekosongan - ketiadaartian.
    Mestinya aku terbebas dan bergembira. Namun aku tetap terbelengu !!

    BalasHapus
  2. ahh kehilangan orang dicintai itu seperti ada bagian jiwa yang hilang pula.. .semoga papanya bahagia disana....

    BalasHapus