Urusan punya anak, adalah hal paling ruwet dalam hidup saya belakangan ini. Urusan yang melemparkan saya bolak-balik up and down dalam
Saya sendiri jadi sering bertanya-tanya, apakah saya memang sungguh-sungguh mengharapkan punya anak, atau karena sekadar ingin secepatnya memenuhi harapan orang tua, mertua, orang lain, dan ingin membahagiakan suami? Berkali-kali bertanya-tanya, saya menjadi yakin bahwa saya memang ingin punya seorang anak. Demi saya dan pasangan, juga demi harapan dan kegembiraan hidup orang tua dan keluarga. Saya tidak ingin memanfaatkan anak sebagai pengikat kuatnya tali perkawinan. Pengikat kuatnya perkawinan menurut saya bukanlah anak. Orang yang punya beberapa anak saja tetap bisa jadi berselingkuh dan bercerai. Pasangan yang tidak punya anak pun bisa berbahagia karena hubungan yang ‘kaya’ penerimaan, cinta, dan persahabatan.
Untuk diri saya sendiri, untuk apa saya ingin punya anak? Saya juga masih belum tahu alasan yang setepat-tepatnya. Mungkin karena saya suka anak-anak, terutama anak-anak yang baru lancar berbicara. Bagi saya, anak-anak adalah pemilik kharisma yang kuat, sehingga ada daya magnet yang kuat menghisap perhatian kita padanya. Sesaat setelah saya bedialog dengan seorang anak kecil atau terbahak-bahak karena ucapannya yang lucu, saya seringkali menyadari bahwa pada momen itu saya benar-benar melupakan diri sendiri. Tidak ada pikiran lain selain hanya pada mahluk kecil di hadapan saya,. Anak-anak kecil yang lucu itu ternyata lebih mudah membawa saya pada kehidupan hanya pada saat ini, detik ini.
Disukai oleh anak kecil yang kita sayangi, bagi saya dengan mudahnya melambungkan kegembiraan. Seorang keponakan laki-laki yang berumur 4 tahun memanggil saya ‘mami’. Saat ini dia sedang sangat senang saya bacakan cerita dan main kartu Uno. Saya juga jadi ketagihan asyiknya disukai dan menerima pengakuan: “Dede lebih sayang mami daripada papi”, dan menikmati dia nyamperin saya dan duduk di pangkuan saya demi dibacakan cerita. Anak-anak tulus dan jujur, itulah mengapa mudah pula menularkan kegembiraan dan ketulusan rasa sayang.
Selain itu saya juga merasa tertantang untuk melewati tahap-tahap lanjut dalam kehidupan dewasa saya. Saya menantikan hidup berkeluarga yang warna-warni, dengan suami saya yang… (ehem…) saya yakin akan jadi seorang ayah yang baik. Bukan hanya tentang kesukaannya pada anak-anak, tapi ada faktor pendukung yang sangat penting dalam membesarkan anak-anak, yang namanya : ‘teladan’, yang saya sukai dalam diri suami saya. Saya percaya, kasih sayang, perhatian, ajaran-ajaran hidup benar, akan tertanam dan berbuah dengan baik kalau adanya teladan dari orang tua.
Saya pernah menuliskan perasaan saya mengenai bagaimana excited-nya menanti seorang anak, dalam diary saya tahun lalu. Saat itu saya pernah hamil sampai 11 minggu, namun kemudian gagal lagi.
Banyak agenda yang harus gua pikirin. Walaupun gua juga perlu punya waktu untuk sekadar enjoy, gembira, ketawa, ngobrol, nyanyi… selama gua hamil ini. Gua pengen, anak gua terbawa suasana hati gua yang baik, dan dia juga tumbuh dengan baik dan sehat dalam rahim gua.
Aneh, saat tiap kali menyebut dalam hati kata-kata ‘tumbuh dalam rahim gua’, rasanya gua jadi agak terharu. Ada rasa syukur, takjub, bangga, dan rasa tanggung jawab yang besar terhadap dia yang belum lahir. Malah saat ini dia masih sangat kecil. Gua berharap besok, 21 Juni 2007 di tempat dr. Fachruddin, gua udah mulai bisa melihat dia berdetak, berdenyut, hidup dalam diri gua. Sehingga konsep kehamilan yang saat ini gua alami enggak lagi jadi abstrak karena cuma dari garis double di test pack. Tapi gua ingin cepat melihat dia secara nyata hidup dalam diri gua.
Gua jadi mulai rada-rada ngerti apa yang dimaksud seorang ibu waktu bilang bahwa kehamilan atau kehadiran anak itu membuat diri merasa ‘lengkap’, ‘sempurna sebagai perempuan’. Gua dulu sering merasa kata-kata itu berlebihan, karena gua pikir memangnya menurut dia perempuan yang tidak punya anak atau tidak ingin punya anak, dianggap tidak sempurna?
Tapi sekarang gua rada ngerti. Gua enggak lagi merasa kata-kata itu berlebihan, walaupun gua juga enggak menganggap sedikitpun bahwa yang tidak punya anak itu tidak sempurna.
Tapi kalo gua rasakan bangganya ada anak yang akan gua lahirkan, gua happy mendapati kenyataan bahwa gua sebentar lagi mengalami siklus hidup yang lebih lengkap sebagai perempuan. Married, hamil-melahirkan-menyusui, jadi ibu yang harus terus belajar, dan entah apa lagi yang akan gua alami sebelum gua masuk akhir siklus yang namanya kematian. Mungkin termasuk siklus menopause dan punya cucu.hehe…Yang penting gua melewati siklus hamil-melahirkan ini dengan selamat dan sehat, baik gua maupun bayi gua. Gua ingin merasakan warna-warni hidup ini dengan kekuatan dan semangat gua secara alami, karena kehadiran anak dalam hidup gua.
Harap-harap cemas ini bukannya tidak pernah dibuntuti dengan enggan, bosan, rasa bersalah yang sangat besar, dan pernah sedikit putus asa. Saya bilang pada suami, “Cerai, dan kamu kawin lagi saja. Sungguh,saya serius.” Malu saya menceritakannya, karena jadi seperti orang pesimis saja. Seperti sinetron melankolis saja. Padahal orang dengan ego yang besar seperti saya, rasanya tak pernah membayangkan suami yang saya sayangi demikian rupa saya serahkan kepada orang lain. Tapi bagi orang yang pernah merasakan, mungkin bisa mengerti pikiran aneh-aneh seperti itu. Untungnya dia selalu bilang, “Tidak mau”. Hehe…
Bingung juga, jadwal-jadwal untuk pergi-pergi, kesibukan, dan aktifitas fisik sering juga secara bawah sadar terasa terganggu oleh urusan harap-harap cemas setiap bulan ini. Tak oleh banyak jalan, tak boleh naik-turun tangga, tak boleh bepergian jauh, tak boleh capek…, yang sampai saat ini hanya menampilkan kesia-siaan setiap bulan. Sehingga sudah malas saya memikirkan amanat tidak boleh capek ini. Orang yang terlibat bekerja bersama saya belum tentu mengerti bahwa saya tidak boleh ini-itu. Nanti dikira saya buat-buat alasan saja.
Usia sudah 32 tahun ini. Saya juga inginnya anak saya lahir dalam usia saya yang tidak lewat 35. Macam-macam upaya rasanya sudah dicoba, kecuali bayi tabung yang selain mahalnya tak mampu ditangani oleh tabungan kami. Kegagalan-kegagalan usaha kami untuk punya anak, sudah banyak menghabiskan waktu dan membolongi kocek suami. Semoga semua upaya itu akan berbuah suatu saat nanti.
Padahal kalau dipikir… kenapa sih saya mesti direpotkan dengan cemas itu, kalau kelahiran itu takdir? Saya “terjadi” dalam hubungan antara orang tua saya pada hari tertentu, jam tertentu, karena satu sel sperma di antara berjuta-juta, sudah lah takdir, sehingga membentuk saya dengan wajah seperti ini, dan segala macam bawaan lahir lainnya. Cetak birunya sudah ditentukan pada hari itu, jam itu, menit itu, detik itu. Kalau cetak biru itu ‘terjadi’ beda semenit saja, mungkin sudah beda lah output-nya, bukan jadi saya.
Begitu banyak anak dilahirkan dan mati.
0 komentar:
Poskan Komentar