
Sudah kira-kira dua minggu lalu saya temukan diri saya yang gelisah dan hampa. Kegelisahan dan kehampaan itu berujung pada kesedihan yang seolah tanpa sebab, rasa kesepian, mudah jengkel dan bahkan marah, dan menyesali berbagai hal yang sudah berlalu. Kadang-kadang saya merutuki diri sendiri karena kecenderungan ini. Dalam kehidupan yang dikelilingi oleh orang-orang yang baik, boleh dibilang saya menikmati berbagai kemudahan dan hidup yang tak sarat dengan masalah. Masalah itu ternyata memang hanya ada pada diri saya sendiri.
Sehingga menjadi banyak pula saat di mana saya kemudian mensyukuri kegelisahan sebagai suatu alarm bagi saya untuk suatu refleksi diri. Suatu sore seorang diri di rumah, iseng-iseng saya raih buku favorit saya, Awakening The Buddha Within, yang lama tak saya baca. Buku ini bukan hanya bagi pemeluk agama Buddha, namun diperuntukkan untuk siapa saja yang mencari kebahagiaan. Untuk kesekian kalinya dalam kehidupan saya dalam sekian tahun terakhir, buku itu mengalirkan air sejuk yang seolah saya rindukan. Mata saya berkaca-kaca dan dada saya sesak karena tangis tertahan, namun seolah ada sumbatan yang terbuka dalam diri saya, karena alasan yang saat itu saya tidak ketahui. Saya hanya terus membaca dan membiarkan rasa itu ada. Setiap kali membaca buku ini, saya merasakan Lama Surya Das menuangkan tulisannya dengan penuh dedikasi untuk berbagi hikmat kebijaksanaan dan kebaikan hati yang luar biasa bagi setiap orang, sehingga inspirasi yang lahir dari jiwanya menyelusup dengan ringan dan lembut dalam hati orang lain. Semalam, saat membaca bukunya sebelum tidur, terlintas dalam pikiran saya bahwa jika saya bertanya siapa guru spiritual yang paling dekat dalam hati, bagi saya ialah Lama Surya Das. Apa yang pernah saya baca dari tulisan-tulisannya, membekas dan mengingatkan saya. Menjadi suatu kontrol yang sering membunyikan alarm bathiniah, saat saya melanggar komitmen-komitmen yang berusaha saya bangun.
Kemudian saya sadari penyebab dari ketidakbahagiaan tanpa sebab dalam diri saya, yang akhir-akhir ini begitu menggugah sensitifitas saya. Penyebab yang saya temukan adalah bahwa saya banyak melewati hari yang sibuk dengan pikiran egois, ambisi, kesombongan, kebiasaan menghakimi, kemelekatan terhadap berbagai hal, kebiasaan bicara yang tidak mementingkan orang lain, dan menjauhkan diri dari kegiatan membangun spiritualitas. Beberapa hari yang lalu dengan mudahnya saya melontarkan suara bernada kejengkelan saat berbicara di telepon dengan seseorang, sehingga sudah pasti saya melakukan tindakan yang melukai, hanya karena kepentingan pribadi saya terganggu. Saya menjalani kehidupan yang terburu-buru dan tidak menuangkan upaya pada perhatian yang dalam pada setiap hal yang saya kerjakan.
Saya seolah hanya melihat berbagai persoalan dalam pandangan sempit yang hanya memikirkan dampaknya bagi saya pribadi. Saya kembali lagi banyak menumpuk ambisi untuk menjadi sesuatu atau mendapat keberhasilan, dan merutuki dan takut pada kegagalan. Saya seringkali meletakkan kebanggaan pada diri di tempat yang lebih tinggi dari orang lain, dengan seringkali merasa saya lebih bijaksana. Saya menjadi mudah menggerutu, menilai orang lain dengan cap dan prasangka, yang positif atau pun negatif. Saya kadang-kadang takut kehilangan berbagai hal yang saya miliki, baik materi maupun kasih sayang dari orang lain. Sering saya lupa bahwa hidup ini tak selalu harus untung dan menang. Saya kadang-kadang kurang menghargai kehidupan. Saya melontarkan lelucon-lelucon yang saya rasa lucu namun mungkin menyinggung hati orang lain, kehilangan minat untuk lebih banyak mendengarkan dibanding berbicara hal-hal yang tidak perlu, dan berkeinginan yang kuat untuk mengutarakan banyak hal hanya untuk memuaskan rasa ingin dihargai. Saya juga telah melalaikan kebutuhan untuk tak henti-hentinya memupuk pertumbuhan spiritualitas yang sehat dan terbuka. Lebih dari itu semua, saya melupakan diri saya sebagai bagian yang terhubung dengan segala sesuatu di sekeliling saya. Saya lalai dalam menyertakan cinta dan kelembutan hati dalam banyak tindakan saya sehari-hari.
Tapi saya tidak ingin menyesali itu semua. Kekurangan manusiawi saya mungkin masih akan sangat sulit untuk diredam. Namun refleksi, perhatian pada saat ini, upaya bagi kepentingan orang lain (sikap altruisme), jalan yang coba saya lalui dengan kelembutan hati, saya rasa akan mampu membawa saya meredamkan kegelisahan dan mengisi kehampaan. Saya ingin menerima bahwa semua kegelisahan saya akan menjadi bagian kehidupan yang harus saya syukuri. Saya harapkan kegelisahan saya akan selalu membawa saya pulang kembali pada jalan pencarian kebahagiaan.
Saya ingin coba menata kembali kehidupan saya saat ini untuk berusaha sedikit demi sedikit menipiskan kekurangan manusiawi yang membuat bathin saya terasa kacau belakangan ini. Sesuatu yang terbukti sangat tidak mudah; semangat yang bernyala untuk suatu kebaikan seringkali padam kembali karena lupa dan ego. Bacaan-bacaan yang membangkitkan spiritualitas, dalam waktu singkat dapat dilupakan kembali. Latihan dan pembelajaran menjadi kendur dan tak tampak hasilnya karena tidak kuatnya disiplin dan komitmen.
Saya mengenal seseorang yang sangat dekat dengan saya, yang tak hentinya mengalirkan kekaguman padanya. Dia bukan seorang yang suka berbicara tentang spiritualitas maupun berbagai pembinaan kepribadian. Topik itu tampak tidak menarik baginya. Namun seringkali terlintas ingin menyembunyikan tumpukan buku-buku spiritual yang saya punya di belakang punggung saya, saat mendapati kualitas saya sebagai manusia ternyata masih tak ada apa-apanya. Banyaknya bacaan dan renungan menjadi kecil artinya, jika dibandingkan dengan tindakan nyata dalam ketenangan bathin yang tak mudah tergoyah. Saya menemukan ‘kekayaan bathin’ dalam dirinya yang selalu melakukan banyak hal dalam diam. Dia tak berusaha menggurui dan memaksakan pendapatnya. Dia berusaha untuk tidak menyakiti siapa pun dengan kata-kata mau pun perbuatannya. Bahkan saat saya tahu dia sedang mengorbankan kesenangan pribadi demi orang lain, sepertinya selalu dilakukannya dengan ringan-ringan saja. Dia melayani tanpa berpengharapan besar akan penghargaan. Dia rendah hati walau memiliki kualitas intelektual yang saya kagumi. Dia bekerja dengan rajin tanpa menuntut dan mengeluh, atau pun mengetengahkan kepentingan pribadi. Dia punya selera humor yang kuat, namun tak melucu untuk mengejek kekurangan orang lain. Dia bersikap dan berpikir terbuka bagi setiap orang di hadapannya, tak mudah menghakimi dan mengingat-ingat kesalahan orang lain. Dia manusia yang damai, baik di dalam maupun di luar dirinya. Saya tak melebih-lebihkan kesan saya padanya. Dia manusia tanpa konflik dengan siapa pun. Dia juga punya kekurangan manusiawi, yang selama ini bagi saya tidak merugikan orang lain di sekitarnya. Dia mengajarkan banyak hal tanpa kata-kata. Saya bersyukur, dalam kehidupan saya ini, saya boleh dekat dengannya.
Satu hal yang banyak pikirkan dalam beberapa hari ini, adalah saya mempercayai hati manusia. Saya percaya dengan adanya akar kemurnian jiwa dan potensi kebaikan dalam diri setiap orang. Yang kita perlukan hanya memasang hati untuk menerima nyanyian yang berbeda dari biola-biola orang lain. Saya percaya dengan personal touch, sehngga yang diperlukan adalah membuka hati, mata, dan telinga pada kepentingan orang lain. Bagi saya, empati bukanlah teknik komunikasi, melainkan merupakan output alami dari personal touch. Karena di atas semua itu, saya percaya kita semua terhubung satu dengan lainnya dalam ikatan yang tak terlihat antara jiwa-jiwa kita. Sebagai contoh, penghakiman, penempelan cap & prasangka negatif dalam kepala kita akan dengan mudah ditangkap sinyalnya oleh kepala orang lain, sehingga membuahkan hubungan yang tegang dan tidak nyaman. Sebaliknya, ketulusan dari hati kita, walaupun tidak diungkapkan dengan kata-kata, juga melontarkan sinyal yang baik, sehingga orang lain merasa nyaman. Demikian juga yang kita terima dari orang lain. Kasih sayang akan mengalir dari hati ke hati dalam ruang yang tak terbatas dan tanpa penghalang, hanya seringkali kita melupakan hal itu dalam keseharian kita.
Bicara tentang manusia, akhir-akhir ini sering terlintas dalam kepala saya mengenai keindahan pluralisme. Kekaguman mengalir spontan saat berada di
Dalam hiruk-pikuk kehidupan dengan kondisi hidup bernegara dan bermasyarakat saat ini yang sarat dengan kekecewaan, kesedihan dan masalah. Seperti yang sehari-hari kita lihat di koran dan televisi; korupsi, kenaikan harga-harga bahan pokok yang semakin memperpuruk kemiskinan, ketegangan, rasa tidak aman (sehingga seringkali timbul rasa muram sehabis membaca koran); mendorong banyak manusia untuk bergegas melindungi kepentingannya sendiri. Dalam kehidupan yang seperti ini, ingin rasanya saya tidak kehilangan keyakinan saya atas berbagai hal yang indah dalam hidup. Keyakinan atas permata dalam diri setiap mahluk, juga keyakinan atas efektifitas dari sikap-sikap altruistik dan melayani dalam berbagai bentuk dan cara, yang akan menumbuhkan bathin yang lebih terisi ketenangan karena pada saat itu kita kembali pada akar jiwa kita yang sesungguhnya.
.........................................................................................................................................................................
"It is not enough just to meditate and pray, which are always good things to do, but we also must take positive action in this world." - His Holiness the Dalai Lama, 2006.
0 komentar:
Poskan Komentar