Minggu, 11 Mei 2008

Lima Tahun


Lima tahun yang lalu adalah salah satu hari paling bahagia dalam hidup saya. Hari di mana saya berada dalam dua titik kehidupan yang berdampingan. Titik pertama, adalah muara suatu sungai cinta & persahabatan yang telah berlangsung enam tahun lamanya. Titik kedua adalah suatu tonggak dimulainya kehidupan yang saat itu sepertinya akan terasa baru dan menawarkan berjuta mimpi, tantangan, warna, pengalaman, untuk suatu kebahagiaan yang kami berdua dambakan.

Dan di sini lah kita setelah lima tahun. Banyak yang telah berubah, dan ada pula yang tidak. Yang pasti, lima tahun ini seperti dilewati di atas sebuah roller-coaster kehidupan. Naik dan turun yang bergantian, rasa yang berselingan, kadang juga pertengkaran, namun tak pernah mengubah apa yang telah tertanam: kebersamaan. Semua terjalin dalam suatu kebersamaan yang tak dapat saya ungkapkan dalam rangkaian kata, betapa indah dan berharganya itu semua.

Kemarin saat memikirkannya, rasanya tak ingin saya palingkan pandangan saya pada wajahmu dan genggaman saya pada tanganmu. Wajah yang telah sangat saya kenal dan selalu ingin saya raba. Wajah yang saya cintai sedemikian rupa. Mimik wajahmu yang telah berjuta-bermilyar kali menularkan tawa, bahkan di saat-saat sulit dan gunda dalam kehidupan kita.

Kemarin pula, saya terpekur memandang jari-jarimu yang menggenggam dan mengusap tangan saya masih seperti dulu. Hingga kamu berbisik, “Kenapa? Jari gua bagus ya?” Saya cuma tertawa, karena saat itu banyak manusia lain di sekitar kita. Saya tak bilang padamu, bahwa saat itu saya merasa tanganmu ‘ajaib’ dalam hidup saya. Tangan yang tak kenal lelah menolong saya sejak sebelas tahun yang lalu. Juga tangan yang setiap hari mengalirkan rasa sayang, berbagi dan mengajarkan berbagai hal dalam hidup saya. Dengan riang tanpa pernah mengeluh. Selalu sabar dan menerima.

Saya ingin kamu tahu, bahwa saya sangat bahagia dalam kebersamaan kita. Sangat bahagia. Sepandai-pandainya saya bicara di depanmu, saya tak tahu bagaimana melukiskannya.

Rangkaian kata yang tak ada habisnya terlintas dalam hati saya adalah ‘Terima kasih.’ Terima kasih, yang jika dijabarkan alasannya, akan menghadirkan daftar panjang yang akan membosankan untuk kamu baca. Terima kasih atas semua cinta, support dan penerimaan yang kamu berikan dalam diam, dan seringkali hanya saya terima pula dalam diam, karena tak tahu bagaimana mengatakan ‘terima kasih’ yang dapat mewakili rasa haru yang tak ada habisnya.

2 komentar: