
Dan di sini lah kita setelah
Kemarin saat memikirkannya, rasanya tak ingin saya palingkan pandangan saya pada wajahmu dan genggaman saya pada tanganmu. Wajah yang telah sangat saya kenal dan selalu ingin saya raba. Wajah yang saya cintai sedemikian rupa. Mimik wajahmu yang telah berjuta-bermilyar kali menularkan tawa, bahkan di saat-saat sulit dan gunda dalam kehidupan kita.
Kemarin pula, saya terpekur memandang jari-jarimu yang menggenggam dan mengusap tangan saya masih seperti dulu. Hingga kamu berbisik, “Kenapa? Jari gua bagus ya?” Saya cuma tertawa, karena saat itu banyak manusia lain di sekitar kita. Saya tak bilang padamu, bahwa saat itu saya merasa tanganmu ‘ajaib’ dalam hidup saya. Tangan yang tak kenal lelah menolong saya sejak sebelas tahun yang lalu. Juga tangan yang setiap hari mengalirkan rasa sayang, berbagi dan mengajarkan berbagai hal dalam hidup saya. Dengan riang tanpa pernah mengeluh. Selalu sabar dan menerima.
Saya ingin kamu tahu, bahwa saya sangat bahagia dalam kebersamaan kita. Sangat bahagia. Sepandai-pandainya saya bicara di depanmu, saya tak tahu bagaimana melukiskannya.
Rangkaian kata yang tak ada habisnya terlintas dalam hati saya adalah ‘Terima kasih.’ Terima kasih, yang jika dijabarkan alasannya, akan menghadirkan daftar panjang yang akan membosankan untuk kamu baca. Terima kasih atas semua cinta, support dan penerimaan yang kamu berikan dalam diam, dan seringkali hanya saya terima pula dalam diam, karena tak tahu bagaimana mengatakan ‘terima kasih’ yang dapat mewakili rasa haru yang tak ada habisnya.
happy anniversary :)
BalasHapusVin... makasih ya, Vin : )
BalasHapus