Rabu, 16 April 2008

Saat Derita Mengganggumu


Kenapa sih, masih saja bertahan dengan pendapatmu sendiri?
Masih saja menuruti perasaanmu yang itu-itu saja?
Masih memanjakan kesedihan dan dukamu, tanpa mau mengubah cara pandangmu?

Coba kau luangkan sedikit waktu untuk mengerti kata-kataku.
Walaupun aku tahu, kata-kata bukan penyelesaiannya.
Mungkin dengan sedikit menepikan dirimu, kau mendapatkan sesuatu dari pendapatku.
Seperti aku meluangkan waktu untuk mendengarkan dan memikirkan masalahmu.
Bukan aku pamrih dan ingin ikut didengarkan.
Semua yang ku katakan untuk kebaikanmu.
Karena aku ingin peduli.
Karena aku tahu hidupmu sudah cukup sulit tanpa kesedihanmu ini.

Aku tahu, kadangkala kau hanya butuh didengar, bukan pendapat.
Karena di mana-mana, keinginan bicara seringkali lebih besar daripada keinginan untuk mendengar.
Tapi situasi membuatku harus menanggapimu.
Walaupun topik yang kau ketengahkan, sudah tidak ‘hangat’ lagi dalam hidupku yang sekarang.
Karena kalau aku hanya mendengarkan tanpa berkomentar, kau akan mengira aku tak peduli padamu,
dan resiko menipisnya persahabatan yang kita bangun.

Jadi aku memikirkan kata-katamu dan mencoba meletakkan diriku pada posisimu.
Kemudian berpikir jalan keluar yang mungkin tepat buatmu.
Memberi petunjuk-petunjuk untuk membongkar ilusi yang membutakan matamu,
yang menutup pandangan pada dirimu yang sebenarnya.

Mendengarkanmu lagi.
Mencoba memahami lagi.
Berpikir lagi.
Berbicara lagi.
Begitu seterusnya sampai aku jenuh. Maafkan aku.

Kadang-kadang memang aku jadi tak ingin peduli, karena kau terlihat tak mau memikirkan segala nasihatku.
Jurus pengembangan diri, teknik me-manage sakit hati, pemahaman spiritual, ku coba sodorkan.
Bukan karena aku memamerkan pengetahuanku.
Bukan karena aku mencoba menggurui.

Aku hanya ingin kau belajar membongkar isi kepalamu yang penuh ilusi.
Jujur pada dirimu sendiri.
Meneropong ke dalam dirimu sendiri.
Menolong dirimu sendiri.
Karena hanya engkau yang dapat menolong dirimu.
Bukan aku atau lainnya.

Ya, aku akui, kadang-kadang terlintas juga…
Jika kau segera menolong dirimu sendiri,
kau tak lagi membutuhkan banyak waktu untuk kita membahasnya lagi.

……

Ah, bodohnya…
kenapa saat ini aku masih membawa-bawa ceritamu di pundakku?

Tapi tak ku sangkal, berkat kekeraskepalaan-mu itu,
aku juga mendapat sesuatu.
Membuatku meluangkan waktu untuk mempelajari diriku sendiri.
Mengerti sumber masalah manusia.
Yang kadangkala ternyata tak banyak pula variasinya.

Sedikit malu, kemudian ku sadari bahwa aku juga pernah sepertimu.
Bahkan
seringkali sepertimu.
Membuatku menertawai kekonyolanku di masa lalu.
Ternyata kita sama saja.
Melewati proses kehidupan dengan reaksi yang tak banyak berbeda.

Akhirnya,
mengingatkanku untuk setiap waktu selalu belajar memahami,
bahwa semua akan berlalu.
Aku juga ingin, besok atau lusa,
Kau menengok ke belakang, dan mendapati bahwa semuanya telah selesai.
Selesai dengan baik atau tidak sama saja.
Karena toh sudah selesai.

Curhat seorang “psikolog dadakan di hari Rabu”
dan seringkali juga di hari-hari lainnya…

2 komentar:

  1. kok agak mirip ya sama pergulatan pikiranku beberapa pekan yang lalu. ?

    BalasHapus
  2. @Gus: Hehe... Mungkin karena respon manusia terhadap suatu keadaan memang seringkali mirip, mas.

    BalasHapus