Kamis, 24 April 2008

Pilih Pacar atau Orang Tua?


Topik ini memang klise. Karena kita hidup dalam ‘budaya timur’, sudah banyak lyrics lagu tentang hubungan cinta yang ditentang orang tua. Sudah banyak konsultasi dan pembahasan mengenai masalah ini di media. Dan banyak pula teman yang curhat tentang masalah ini dengan saya sejak dahulu, sampai masa sekarang ini.

Orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, dan selalu menganggap anak mereka adalah seorang “anak”, berapa pun usia si anak. Namun sebaliknya urusan percintaan ini akan menjadi sulit bagi pasangan muda tersebut, membuat bimbang dan kesedihan. Menanggapi kebingungan mengenai jalan keluar untuk masalah semacam ini, kadang kala membuat saya bingung harus berkata apa, selain : “Kamu harus berjuang, atau kamu harus memilih.” Membiarkan sebuah masalah tanpa mengusahakan jalan keluar hanya membuahkan kebingungan dan kesedihan yang berlarut-larut.

Saya sendiri boleh dibilang tak berpengalaman merasakan pertentangan dengan orang tua tentang hubungan saya dengan pacar di masa lalu. Dulu, saat saya masih sangat bau kencur untuk urusan yang satu ini, saya pernah pacaran dengan seseorang yang sangat tidak disukai oleh orang tua saya karena kualitas personal dan sikap pacar saya itu. Orang tua saya tidak melihat hubungan yang sehat dan seimbang dalam hubungan kami. Saya mengetahui hal itu, dan mereka tahu bahwa saya tahu. Tapi tak ada kata larangan dari mereka. Mengingat hal itu di masa-masa sekarang, membuat saya mengagumi kejelian pikiran ayah saya dan berterima kasih atas kebijaksanaannya. “Jangan dilarang,” katanya. “Melarang malah akan membuat dia makin membela dan mempertahankan hubungannya mati-matian,” katanya pada ibu saya. “Kalau ada nasib, dia (maksudnya saya) akan terbuka matanya, dan mampu membuat pilihan yang lebih baik.”

Mereka sungguh-sungguh tidak pernah melarang saya, dan menerima mantan pacar saya itu dengan biasa-biasa saja saat dia datang ke rumah. Kemudian, setelah hampir satu tahun pacaran, terbuktilah kata-kata orang tua saya. Putusnya hubungan saya dengan mantan pacar saya itu tentunya melegakan hati orang tua saya, walaupun tentu saja mereka tak mengatakannya pada saya saat itu. Namun mereka tetap memberi perhatian pada kondisi saya yang patah hati. Memiliki ayah dan ibu seperti mereka, membuat saya merasa selalu diterima dan dicintai dalam kondisi apapun. Di kemudian hari saya tahu, bahwa penghakiman pada anak hanya akan berbuah pemberontakan dan 'tergoresnya' suatu hubungan.

Bermacam-macam curhat dari teman membuahkan respon yang berbeda-beda dari saya, tergantung kondisinya. Walaupun inti pembahasan yang saya sodorkan sebenarnya tetap sama, bahwa ‘hidup ini adalah pilihan.’ Memilih tindakan yang manapun, akhirnya menghadapkan kita pada resiko yang selalu harus diterima dengan lapang dada. Tak ada gunanya menyalahkan orang lain.

Seperti kata Stephen Covey, kita selalu berada di antara rangsangan dan tanggapan. “Antara rangsangan dan tanggapan terdapat sebuah ruang. Di ruang itu terdapat kebebasan dan kemampuan kita untuk memilih tanggapan kita. Dalam pilihan-pilihan kita terdapat perkembangan dan kebahagiaan kita.” (Stephen Covey, in The 8th Habit)

Memilih kebahagiaan orang tua, berarti siap untuk melepaskan sebuah hubungan dengan pacar dan menerima kondisi kesedihan yang akan berlangsung sementara. Harus hanya sementara, karena jika kesedihan ini berlanjut seumur hidup, hilanglah artinya menerima konsekuensi dengan lapang dada. Cari pacar baru…, siapa takut! Hehe.

Memilih pendamping hidup yang ditentang itu berarti siap memberi pengertian pada orang tua, siap berjuang supaya dia diterima, dan kalau sudah kepepet yah bersiap untuk ‘kawin lari’ dalam kondisi sadar. Hehe. Juga bersiap untuk menghadapi kemarahan, kesedihan, dan sakit hati orang tua. Ini juga seharusnya hanya sementara, karena sebaiknya disertai dengan semangat berdamai kembali saat semua kemarahan sudah reda. Memperjuangkan bahwa pilihan yang selama ini dianggap buruk oleh orang lain belum tentu buruk. Juga berusaha dan berharap hendaknya ada sesuatu yang akan menyadarkan sang orang tua. Karena orang tua yang terus-menerus memelihara sakit hati pada anaknya, hanya akan membuat semuanya menderita.

Memang memperjuangkan seorang kekasih yang tidak disetujui tentunya harus siap menghadapi banyak penderitaan mental. Seseorang seperti saya, akan berusaha melindungi supaya pacar saya tidak menderita menghadapi keluarga saya. Rasa kasihan pada pasangan, akan melemahkan semangat berjuang, di samping rasa kasih yang besar pada orang tua sendiri.

Pada sahabat tertentu yang pernah saya tahu tentang latar belakang kehidupan asmaranya, pernah ikut merasakan kesulitan dan penderitaannya, simpati saya pada masalahnya seringkali besar. Kadang kala ingin rasanya saya membantunya menjadi seorang pemberontak. Memberontak atas dasar keyakinan karena menemukan seseorang untuk saling berbagi kebahagiaan dan kesedihan sampai hari tua. Memberontak karena menemukan seseorang yang akan diterima dengan segala konsekuensinya.

Saya menghargai sebuah perjuangan untuk mendapatkan sesuatu yang diyakini baik adanya. Pasangan hidup yang cocok, seimbang, saling menyayangi dan mendukung perkembangan masing-masing, adalah baik adanya. Walaupun tidak menutup kemungkinan untuk melepas ‘kaca mata kuda’ yang hanya memungkinkan melihat ke ‘satu arah’, bahwa hanya ada satu manusia yang layak untuk mendampingi dan didampingi oleh kita. Saya mengatakan ini, karena dalam hidup ini saya menemukan manusia-manusia yang baik di mana-mana. Manusia-manusia yang mampu dan mau menjadi pasangan yang bertanggung jawab.

Tapi orang tuanya bukanlah orang tua saya, sehingga rasanya saya tak berhak juga menjadi pihak yang mati-matian mengompori sebuah kawin lari. Pilihan ada padanya. Selain itu, ego saya membuat saya tak sepenuhnya rela menanggung kemarahan keluarganya. Kalau orang tua sahabat saya sakit, saya tak rela pula menanggung rasa bersalah. Hehe. Yah, manusia memang paling cinta pada dirinya sendiri. Yang hampir selalu saya lakukan hanyalah membuka pikiran sahabat saya pada berbagai kemungkinan tindakan untuk memperjuangkan hal ini. Atau mencoba membuka pikirannya untuk menganalisa situasi yang dia hadapi untuk menentukan langkah selanjutnya.

Jodoh itu pilihan (nasib) atau takdir? Selama ini saya selalu tak yakin saat menjawab pertanyaan ini. Yang saya percaya, jodoh sebagai bagian dari lingkaran karma (hukum sebab-akibat). Tapi karma sendiri tidak mutlak adanya, karena semua terkait dengan pilihan yang kita buat setiap saat. Mungkin boleh dibilang, saya percaya keduanya: jodoh adalah nasib dan takdir sekaligus. Sehingga pada akhirnya yang penting menurut saya hanya menikmati anugerah kebebasan untuk tak henti-hentinya membuat pilihan-pilihan, dalam setiap detik kehidupan kita.

2 komentar:

  1. Meiner Meinung nach ist es nicht logisch viagra f?r die frau kaufen viagra wirkungsweise [url=http//t7-isis.org]cialis kaufen[/url]

    BalasHapus
  2. In it something is. Thanks for an explanation. All ingenious is simple.

    BalasHapus