Minggu, 01 April 2018

Sarkasme Roald Dahl



       Beberapa tahun yang lalu, pertama kalinya saya membaca sebagian kecil novel karya Roald Dahl (seingat saya judulnya Matilda), saya risih. Saya sudah lupa dengan detilnya. Saat itu saya memutuskan tak menyukai Roald Dahl karena tak menyangka, dia ‘tega’ menulis cerita untuk anak-anak yang kadang menampilkan emosi negatif dan sarkasme. Masa kecil saya diwarnai buku cerita dari penulis-penulis yang bercerita dengan manis, seperti Enid Blyton dan Astrid Lindgren. Kenakalan tokoh-tokohnya hanyalah keusilan biasa yang didasari alasan kekanak-kanakan yang malah menuai empati. Roald Dahl tak menggambarkan kehidupan yang manis dan ideal, melainkan kehidupan yang kadang pahit dan ‘berlubang’.
Seiring berkembangnya bahan bacaan saya (apalagi sampai usia sekarang saya masih senang membaca buku anak-anak), bertambahnya teman diskusi yang memiliki gairah tinggi terhadap fiksi, serta mungkin karena bertambahnya wawasan saya terhadap psikis manusia, saya kini justru jatuh cinta pada cerita anak-anak yang berani menampilkan ‘cacat' pada karakter utamanya. Saya menggemari karya Roald Dahl, Kate DiCamillo, dan Judy Blume. Kisah yang mereka tulis merangsang penerimaan atas hidup yang terlihat tak sempurna.
  Saya baru saja selesai membaca dengan nikmat novel Roald Dahl yang berjudul Danny si Juara Dunia (Danny The Champion of The World). Cerita unik, sederhana, dan ‘kaya’ rasa. Roald Dahl secara konsisten menggugah rasa sayang pembaca kepada tokoh Danny dan ayahnya. Selain kasih sayang yang hangat dan mendalam antara mereka, ia juga menampilkan ‘kenakalan’ mereka, kemarahan yang meledak, dan pembelaan diri yang kasar. Tokoh Danny yang cerdas, ayahnya yang ‘asyik', Doc Spencer, bahkan Sersan Polisi dan Ibu Pendeta, dengan kompak mengusili Mr. Victor Hazell. Mereka mencuri dari laki-laki kejam itu tanpa rasa bersalah. Bahkan sesekali tokoh-tokoh yang kita sayangi dalam novel itu membalas dendam atas perbuatan Mr. Victor Hazell yang menyebalkan.  Cerita tentang Doc Spencer yang sengaja menyuntik Mr. Victor Hazell dengan jarum yang tumpul (dan sengaja dibuat semakin tumpul) membuat saya terbahak. Kata-kata balas dendam sering terasa begitu buruk, apalagi jika kita terbiasa mengagumi tokoh yang berjiwa besar, heroik, dan pemaaf. Tapi, ternyata ada hal lain yang bisa sangat menggugah: kejujuran tentang realita dan reaksi alami manusia, yang tak serta-merta baik atau buruk.
Roald Dahl menampilkan perbuatan manusia tak sekedar hitam atau putih. Ia memberi kesempatan pada pembaca untuk menghakimi atau tidak menghakimi. Saya berimajinasi, ia mungkin tak peduli jika para orang tua melarang anak-anak membaca cerita yang ia tulis. Tapi, hati manusia begitu peka terhadap cerita yang jujur. Roald Dahl, yang karyanya mendunia, membuktikannya.

Bersenang-senang dengan Sirkus Pohon

Saya baru saja menyelesaikan novel Sirkus Pohon karya Andrea Hirata. Romantisme novel ini efeknya tidak sekuat novel-novel sebelumnya yang banyak membuat saya senyum dan mewek berganti-ganti. Sirkus Pohon lebih banyak membuat saya tersenyum. Kisah tentang sirkus keliling, pohon delima, dan karakter tokoh utama yang menemukan gairah hidupnya sebagai badut sirkus, merupakan ide yang sangat unik. Bagian cerita yang membuat saya tertawa geli adalah saat Hob pertama kali bertemu dan diwawancara oleh pemilik sirkus.
Iseng-iseng saya memeriksa bagaimana tanggapan pembaca lain terhadap novel itu di Goodreads. Mungkin sama seperti saya yang kali tidak menemukan keunikan baru yang ‘mengejutkan’, saya melihat novelnya kali ini menuai kritik yang lebih banyak dibanding biasanya. Terutama pada narasi dari sudut pandang tokoh Hob yang tak menggambarkan tingkat kecerdasan pria lulusan SD itu. Walaupun kritik di situ menurut saya ada benarnya, saya sebagai pembaca tetap tak terganggu dengan teknik bercerita yang digunakan pada Sirkus Pohon. Tanpa bermaksud mengabaikan pembelajaran tentang kualitas sastra, sejak awal saya memang membaca Sirkus Pohon untuk bersenang-senang. Novel Andrea Hirata selalu mampu menghibur saya.
Andrea Hirata pengamat yang cerdas serta menyimpan ingatan yang kuat tentang momen-momen dan benda-benda yang dimiliki masyarakat ekonomi kelas bawah. Ia menyegarkan lagi ingatan kita, penghuni kota besar, tentang biduanita organ tunggal, kirim-kiriman pesan cinta lewat radio, kebanggaan atas seragam Pramuka…, dan banyak sekali hal lain yang populer di masa Orde Baru. Bukan karena saya anggota komunitas yang hobi mengenang jaman ’80-’90-an, tapi lebih karena saya terhibur dengan humor Andrea yang cermat dan lincah melekatkan memori benda-benda ‘jadul’ itu di dalam cerita. Ia juga menyelipkan guyonan tentang citra yang dibanggakan oleh pekerja kantoran dan para pejabat; membuka cara pandang yang lebih ‘jujur’ tentang hasrat manusia untuk dianggap sebagai ‘orang terpandang’. Ia menyindir ego dan gengsi manusia dengan cara yang lucu.
Gaya bertuturnya khas, hingga saat ini hanya milik Andrea Hirata. Terdengar ‘ceriwis’ dan akrab seperti kita sedang mendengarkan celoteh sahabat lama di warung kopi. Bersahaja tanpa terasa kampungan. Andrea Hirata mengangkat daya tarik desa-desa di Belitong yang panas, gersang, dan sepi, menjadi bagian unik dari Indonesia yang diwarnai debat dan bual di warung-warung kopi.

Senin, 14 Agustus 2017

Selamat Jalan, Sahabat Tercinta.

Ucapan Belasungkawa
Kepada Keluarga Alm. Margaretha Diah Lestari (Tata)
Setelah Upacara Penutupan Peti
Di Rumah Duka Bumi Baru 2
Tanggal 6 Agustus 2017


Tata ini teman saya sejak kecil. Semasa Tata masih hidup, saya kira kebersamaan kami di dunia ini masih panjang, dan membayangkan kami akan berteman sampai usia lanjut. Tapi, ternyata Tata pergi meninggalkan kita begitu cepat dalam usia 41 tahun
setelah melahirkan putranya yang ke-2.

Kami bersahabat sejak TK, di TK-SD Xaverius Pahoman, Bandar Lampung. Selama SD, kami selalu sekelas dan selalu main bersama. Lalu, kami bahkan semakin akrab semasa SMP di SMP Xaverius Tanjungkarang, Bandar Lampung, ketika hampir setiap hari kami main bersama sejak pulang sekolah sampai sore. Tata setiap hari pulang sekolah dijemput maminya, dan saya beruntung tidak perlu pulang naik angkot karena selalu diantar maminya Tata sampai di rumah.

Sudah terpatri di ingatan teman-teman kami semasa SD dan SMP: kalau ada Tata, ada Vera; kalau ada Vera, ada Tata. Waktu SD, geng kami ber-4: saya, Tata, Martha Susiarjo, dan Medianti.
Waktu SMP, geng kami juga ber-4: saya, Tata, Grace, dan Yeyen. Selain itu, kami juga banyak berteman akrab dengan teman yang lain. Markas kumpul-kumpul biasanya di rumah Tata atau di rumah saya. Waktu SMP, kami rutin berkumpul ber-4 setiap Jumat, dan biasa sangat berisik main di kamar. Sampai-sampai almarhum papinya Tata, yang memang orangnya senang bercanda, sering membuka pintu kamar dan berkomentar: "Oh..., cuma ber-4 toh. Papi kira ada 10 orang."

Tata dan saya senang baca. Tata punya banyak sekali koleksi buku komik dan novel. Saya yang memang waktu SMP tak punya anggaran untuk beli buku cerita, selalu beruntung dipinjamin Tata.  Sehabis baca buku baru, besoknya dia langsung bawa untuk saya.

Waktu SMA kami pisah sekolah. Tata di SMA Aloysius Bandung, dan saya di Jakarta. Kami tetap rajin surat-suratan..., curhat tentang berbagai hal berlembar-lembar. Biasanya tentang cowok yang ditaksir, teman-teman, sekolah, dan keluarga masing-masing. Kadang-kadang saya terima surat dari Pak Pos sampai 2x dalam seminggu.

Lulus SMA, kami sama-sama kuliah di UNPAR, Bandung. Tata di jurusan Teknik Sipil, dan saya Teknik Kimia. Kami belajar bersama menjelang tes masuk universitas. Selama masa tes, saya diajak Tata menginap beberapa hari di rumah Ci Wiwik, cicinya Tata (kakak ke-2).

Awalnya kami se-kost, di jalan Cihampelas, Bandung. Yang cari kost juga Tata. Sebenarnya, saya sudah tidak kebagian kamar kost di situ, tapi akhirnya Om-Tante pemilik kost menyewakan kamar bekas gudang yang kondisinya sangat kotor. Mama saya setuju saya tetap kost di situ, supaya dia lebih tenang meninggalkan saya di Bandung kost bersama-sama Tata. Waktu itu Mama keras kepala menyuruh saya tunggu di luar kamar, selama dia mati-matian membersihkan ruang gudang itu sehingga layak disebut kamar. Tidak lama kemudian, saya bisa pindah ke kamar yang lebih baik. Tapi, tidak sampai setahun saya tinggal di kost itu, dan memilih pindah ke kost di dekat kampus.

Kemudian kami lulus kuliah, kerja, dan berkeluarga, tanpa pernah putus kontak--hingga akhir hayat Tata. Saya mengikuti poin-poin penting dalam hidup Tata. Di masa-masa awal mulai memanfaatkan online chat room, kami chatting via Yahoo Messenger, sering conference dengan Grace juga. Dengan bertambahnya kesibukan kerja dan berkeluarga, komunikasi saya dan Tata sudah tidak seintens dulu. Kami pernah jalan-jalan ke Bali berdua selama 3 hari pada bulan Juni 2015. Waktu itu Tata yang mengajak. Dia bilang, "Kita ini berteman sejak kecil, tapi belum pernah traveling berdua." Saya masih ingat betapa happy & bersemangatnya Tata selama kami jalan-jalan. Sebenarnya setelah itu dia ngajak jalan-jalan lagi, tapi tidak kesampaian karena Tata keburu hamil putra ke-2.

Tata ini punya ingatan yang tajam. Saya salut dengan memori dia yang menyimpan kenangan tentang teman-teman kami semasa TK, SD, SMP. Seringkali ketika saya sedang mencoba mengingat-ingat seorang teman, Tata malah bisa menjabarkan hal detail tentang teman itu: misal posisi duduknya di kelas, nomor absensinya, dll. Kini, saya kehilangan Tata sebagai sumber informasi utama tentang teman-teman masa kecil.

Yang khas dari Tata adalah suaranya yang seakan tidak berubah. Suaranya halus seperti suara anak-anak. Selain itu, di antara teman-teman kami, Tata selalu diingat sebagai anak yang pintar dan selalu berprestasi juara kelas, badannya tinggi-besar, riang-ceria, sangat ramah, dan sangat humoris. Tata ini lucu, selalu enak diajak bercanda dan ledek-ledekan.

Tata orang yang penyayang dan sangat perhatian. Dia selalu ingat papi-maminya..., dan sering cerita tentang harapan-harapannya untuk papi dan maminya. Tentang suaminya, Handry, yang melalui masa pacaran cukup lama dengan Tata, Tata sering bilang bahwa Handry adalah pasangan yang sangat baik dan sangat sayang padanya.

Saya yakin, sifat Tata yang baik itu terpelihara karena dia lahir di tengah keluarga yg akrab dan saling menyayangi. Papinya lucu, senang becanda.
Tata juga sangat dekat dekat maminya.

Kadang-kadang saya dan Tata bertengkar juga, meskipun tidak pernah sampai saling marahan dan menolak bicara. Biasanya berawal dari kasih nasehat, dia ngomelin saya, atau saya yang ngomelin dia, kalau ada yang dirasa salah. Kadang-kadang setelah berdebat, kami saling kesal-kesalan selama beberapa hari karena merasa tidak dimengerti. Tapi, kami selalu sadar, bahwa kami tidak segan saling kritik, ngomel, dan berdebat justru karena kami saling peduli--karena kami sayang, dan dengan tulus ingin mengingatkan.

Dari Tata, saya belajar tentang menghargai persahabatan dan tulus dalam hubungan dengan orang lain. Tata bukan orang yang mudah berprasangka jelek. Pikirannya cenderung lurus dan lugu. Saya kehilangan sahabat terbaik dan paling saya sayangi.

Dari rasa duka saya kehilangan Tata, saya belajar bahwa waktu dan perhatian kita adalah hal terbaik yg bisa kita berikan pada orang yang kita sayangi.

Sekali lagi, saya ucapkan turut berduka cita kepada seluruh keluarga.
Semoga Tata berbahagia dalam hidup yang baru. Semoga keluarga Tata diberi kekuatan dan ketabahan. Semoga anak-anaknya: Jeremy dan Joshua, diberi kesehatan, selalu tumbuh besar dalam kasih sayang, dan mencapai cita-cita mereka. Walau Tata sudah enggak ada, saya berharap kita tetap kontak. Di hati saya, kita adalah keluarga.

Pada Tata dan keluarga Tata, saya minta maaf atas segala kesalahan dan kekurangan sikap saya semasa saya belum jadi manusia yg sungguh-sungguh dewasa.
Pada Tata, saya ucapkan selamat jalan..., dan terima kasih atas segalanya. Tata selalu jadi bagian dalam keindahan hidup saya.

Rabu, 02 Maret 2016

Menyusuri Ketulusan Yangon

Setelah tiba di Yangon, 8 Maret 2014, kami berjalan kaki menjelang jam 4 sore dari Park Royal Hotel ke arah Bogyoke Aung San Road. Kami kerap berhenti di tepi jalan untuk mengamati suasana kota yang jauh dari kondisi modern ini. Kabel listrik yang centang perenang menambah semrawut pemandangan di sekitar gedung-gedung tua bertingkat yang sebagian besar catnya telah luntur.

Pedagang kaki lima menggelar sayur-mayur, pakaian, film-film bajakan, serta aneka masakan dalam nampan-nampan aluminium. Niat kami mencicipi jajanan di tepi jalan telah pupus, melihat semua makanan digelar tanpa penutup di tepi jalan yang panas berdebu. Penjaja air dingin menenteng termos yang diganduli saringan kain berisi es balok dan gelas aluminium yang berpindah antar pembeli tanpa dicuci. Kami tak ingin mempertaruhkan trip singkat ini dengan resiko infeksi pencernaan, sehingga terpaksa memilih menu ayam goreng di gerai fast food yang terlihat bersih. Makanan asing jarang terlihat, sehingga banner penjual sushi di sebuah meja kecil di trotoar jadi menarik perhatian.
Saya sempat terkesima melihat banyaknya burung gagak yang berkaok-kaok lantang di deretan pohon yang meranggas di depan gereja cantik khas Inggris berdinding merah bata. Sesekali burung-burung hitam pekat berparuh kokoh itu hinggap di trotoar, seakan tak takut pada arus manusia di sekitar.
Hari sudah gelap ketika kami menghampiri deretan beragam jenis mobil yang difungsikan sebagai taksi untuk mengantar kami kembali ke hotel. Setelah bernegosiasi dengan beberapa sopir taksi, kami menyimpulkan bahwa mereka menawarkan tarif yang sama dan wajar, apalagi mengingat harga BBM lebih tinggi dibanding dengan di Indonesia.
Sarapan khas Myanmar sangat menggugah selera. Suami saya menyukai Ohn-Noh-Khauk-Swae, sejenis mie ayam berkuah santan; sedangkan favorit saya adalah Mont Hnin Gar, sejenis laksa. Setelah sarapan, kami naik taksi ke Chanmyay Yeiktha Meditation Centre untuk mengunjungi seorang guru meditasi berusia hampir 90 tahun yang pernah membimbing retret di Jakarta.
Tujuan utama kami hari itu adalah Shwedagon Pagoda. Pada hari Minggu, pagoda kebanggaan Myanmar ini sangat ramai dikunjungi untuk ibadah dan rekreasi. Nuansa emas mendominasi keindahan Shwedagon dan kuil di sekelilingnya. Sepanjang siang kami berkeliling tanpa alas kaki di bawah terik matahari; asyik memotret badan kuil yang kaya ornamen, langit-langit kayu berukir, pilar kaca mozaik yang berkilauan, patung-patung Buddha berukuran besar, serta kisah-kisah zaman Buddha yang terpahat di dinding.
Esok paginya, kami mendapati bahwa Bogyoke Aung San Market tutup setiap Senin. Sebagai gantinya, kami beralih menyusuri pasar tradisional. Di deretan pertokoan yang padat, seorang lelaki bule gempal, bertato, dan beraksen Perancis, yang sedang menggosok batu cincin dengan gerinda sederhana, memanggil kami mampir melihat-lihat koleksinya. Kami ikut berdesakan di antrian gerobak penjual sirih, yang membungkus campuran rempah dengan daun sirih dan mengemasnya dengan plastik. Kami berfoto di mana saja yang kami anggap menarik—termasuk di depan billboard iklan dan poster film komedi dan action lokal yang mengingatkan pada poster film zaman dulu.
Senja terasa berbeda di Maha Bandoola Park, alun-alun yang dikelilingi gedung-gedung tua cantik berarsitektur khas Inggris seperti Gereja Baptist Emmanuel dan Supreme High Court. Alun-alun ini juga dekat dengan Masjid Jami Bengali Sunni dan Sule Pagoda.
Pagi hari sebelum trip singkat ini berakhir, saya melesat ke Bogyoke Aung San Market. Saya mencari patung gajah kecil dari kayu untuk koleksi pribadi, memilih souvenir dari pahatan kayu, kuningan, dan kulit kerang, serta lukisan batu. Saya sangat gembira menemukan beberapa lukisan dari alang-alang, karya seorang kakek yang ramah dan lancar berbahasa Inggris. Sebagian besar karyanya tanpa menggunakan pewarna, melainkan tersusun dari gradasi warna alami alang-alang yang dirangkai dengan sangat hati-hati.
Keramahan Yangon memberi kesan yang jauh dari bayang-bayang peristiwa kekerasan dalam perjalanan sejarah Myanmar. Di kota yang taraf hidupnya masih miskin ini bahkan tak terlihat pengemis dan pengamen. Saya merasa aman menyusuri Yangon.

Pernah dikirim untuk kontes National Geographic (Januari 2016).

Senin, 29 Februari 2016

Self-Pity

Menjelang 40, saya ingin menuntaskan apa yang semestinya dituntaskan dan mulai bertransformasi.

Usia 40 mungkin sudah lebih dari separuh masa hidup saya. Seharusnya usia ini menjadi tonggak kematangan pribadi yang tak lagi goyah. Kematangan pribadi adalah hal terpenting yang harus diurus. Selebihnya, mengenai pekerjaan yang belum mantap berjalan adalah hal lain yang bagi saya saat ini tak sepenting tujuan untuk jadi manusia yang sehat mental. Apapun yang akan saya kerjakan butuh mental yang sehat untuk bisa berkembang. 

Berbekal perjalanan hidup sebelumnya: 
Pertahankan sikap dan kebiasaan yang baik. 
Tumbuhkan kebaikan yang belum sempurna. 
Sisihkan akar rumput liar yang mengganggu pertumbuhan.

Saat ini, kecenderungan untuk mengasihani diri sendiri (self-pity) adalah rumput liar yang paling merusak. Bagian dari akar kehidupan di masa lalu yang entah dari mana asalnya. Penyakit mental ini sudah cukup lama menjerat. Yang bisa mengobati adalah diri sendiri. Diawali dengan kemampuan menerima bahwa penyakit ini bercokol dalam diri; kemampuan untuk menyaksikan akibatnya yang menghambat dan merusak kualitas pikiran; serta kemauan untuk berusaha mengenali ketika gejalanya muncul, menghentikan jeratannya, dan menggantikannya dengan pikiran yang positif.

Rumput liar ini berakibat mentalitas yang ‘jomplang’ antara saya dan suami. Yang satu begitu dewasa, ringan, positif, efisien, dan semakin maju berkembang. Sedangkan saya, sering menyesali diri sendiri, menghukum diri, dan menuduhnya menghukum diri saya pula. Jika dibiarkan lebih lama lagi, hubungan kami akan jauh dari sukacita, persabahatan kami akan terganggu, bahkan saya bisa jadi tumbuh menjadi rumput liar bagi kehidupan suami saya sendiri.

Contoh lain, adalah saya memberi banyak ‘excuse’ kepada diri saya ketika saya menemui hambatan. Saya sekian lama belajar untuk tidak menyalahkan sesuatu di luar diri saya sendiri, tapi saya terlalu banyak memberi ruang untuk diri saya mengingat kejadian yang sudah lewat dan menyesalinya berlarut-larut. Saya terlalu sering memberi kesempatan pada mental saya untuk berleha-leha dan menunda, dengan berbagai alasan yang semestinya tidak menjadi penghambat. Saya banyak berpikir tapi sering lambat action—buang waktu dan energi yang berharga.

Sudahlah. Cukup di sini saja saya menyesalinya, di usia saya yang menjelang 40. Saya harus menerapkan trik secara cerdik supaya diri saya mampu menyembuhkan diri sendiri. Usia 40 harus jadi tonggak baru dalam hidup saya: bebas dari jeratan self-pity yang sekian lama ada tanpa saya beri perhatian. Basmi akar rumput liar yang membuat saya lamban dan jadi perempuan dewasa yang tidak keren.

Semangat!





Senin, 26 Oktober 2015

Melawan Tumpul

Saya berusaha menjawab dengan jujur dan hati-hati ketika orang bertanya tentang alasan saya resign.
Berusaha jujur, karena saya tidak ingin membohongi diri sendiri. Tidak ingin membungkus alasan saya dengan ‘excuse’ yang saya ciptakan sehingga akhirnya saya percayai, saya bumbui berlapis-lapis hingga berakibat pada mental saya yang selalu cari alasan untuk menutupi kekurangan pribadi saya.

Berusaha menjawab dengan hati-hati, karena tidak ingin  ada salah paham dan memberi kesan mendiskreditkan siapapun, karena pilihan untuk resign adalah sepenuhnya sudah saya putuskan sendiri. Tidak ada siapapun yang sengaja menciptakan segala situasi yang berpengaruh pada keputusan saya. Semua berjalan sesuai apa adanya dengan segala baik-buruknya. Diri saya sendiri banyak kekurangan dan belum berusaha optimal untuk mengatasi situasi yang (kalau boleh saya keluhkan) tidak kondusif.

Jadi, saya memang “ja’im” kalau menjawab pertanyaan ‘kenapa resign’. Menjawab sesingkatnya, seperlunya, menahan diri menjadi manusia pengeluh, dan tetap memperlihatkan respek saya yang tidak dibuat-buat kepada perusahaan dan para pimpinannya. Karena secara sadar, saya tahu bahwa kepala saya ini belum cukup isi untuk selalu bisa menilai segala sesuatu secara adil dan netral.

Di sini, saya hanya ingin cerita sedikit saja mengenai alasan utama saya memilih menutup akhir tahun ini dengan menjadi ‘pengacara’—pengangguran banyak acara. Alasan saya banyak sekali. Mengatakan banyak sekali, saya bukan sekadar ingin memberi kesan bahwa saya sudah berpikir sedemikian matang. Lagi-lagi saya selalu berusaha jujur pada orang-orang, mengatakan bahwa saya sebenarnya galau meninggalkan kantor saya yang gagah itu. Terutama, saya galau memasuki masa tidak punya income dari hasil keringat sendiri. Galau karena masih tak rela disangka pemalas atau egois, tidak punya pekerjaan padahal saya tak punya anak untuk diurus di rumah. Jadi, gengsi itulah yang membuat saya paling tersiksa.

Oke, kembali kepada alasan saya yang sebenarnya banyak itu, yang pada akhirnya saya simpulkan menjadi satu kalimat saja: saya resign karena tidak mau menjadi tua di situ. Akhirnya, itulah yang saya katakan kepada orang lain. Entah, kalau saya dianggap sombong, bilang-bilang bahwa saya tidak mau tua di situ. Padahal banyak orang lain yang kerja di situ sampai tua dan baik-baik saja, senang-senang saja sepertinya.

Apakah saya tidak mau tua di situ karena jenuh?
Ya, saya memang jenuh. Tapi, jangan simpulkan rasa jenuh saya hanya sebatas kejenuhan dengan rutinitas dan tuntutan pekerjaan. Saya tahu, kalau saya mau, saya orang yang bisa bertahan dan mengatasi jenuh, dan saya sudah pernah menjalani.  Kalau saya sedang puncak-puncaknya tidak kuat dengan jenuh, paling-paling saya minta cuti sehari atau malah liburan beberapa hari, supaya bisa masuk kantor dengan tambahan semangat. Cuti saya selalu di-approve dengan baik-baik, karena saya dipercaya atasan dan dianggap tahu diri.

Kejenuhan saya lebih kepada jenuh dengan keseragaman pola berpikir. Saya sering mendadak takut mental saya ‘stucked’ dan tumpul karena banyak menjalani keseragaman. Andaikan harus pakai baju seragam, justru tak masalah bagi saya, karena letaknya hanya di luar. Tapi, penerapan keseragaman pola berpikir, karena ‘budaya’ mengikuti histori kemauan owner, mengikuti aturan-main yang seringkali berat-sebelah (tergantung dept head mana yang paling kuat berkoar complain—catat: kesalahan kecil department lain bisa jadi terlihat sebesar gajah), semakin lama semakin menakutkan bagi saya. Mental saya yang awalnya sudah diset ingin lebih ‘street smart’, lincah, kritis, jeli, berani (kerja seakan saya punya saham di perusahaan itu), bisa menumpul jika dipagari leader yang seringkali ragu-ragu mengambil langkah yang melenceng dari histori standar yang berlaku.

Pekerjaan saya sekretaris. Otomatis saya cuma bisa usul dengan niat baik, lalu kalau tidak digubris ya harus tahu diri untuk bersabar dan menjalani proses serba-lambat terkait apa yang sudah diseragam-seragamkan itu. Saya juga tidak punya spesialisasi dan cukup pintar untuk jadi manusia inspiratif beride-ide cemerlang yang bisa membongkar kacamata kuda banyak orang yang pola kerjanya bikin saya gerah. Karena keterbatasan saya, saya masih butuh arahan dari pemimpin inspiratif yang mendorong dan melincahkan pola pikir saya. Ketika arahan itu tidak saya temukan, saya takut menjadi tua di situ.

Saya tidak mau jadi tumpul di usia sekarang. Bukan hanya tumpul pikiran, tapi juga tumpul hati—membiarkan saja ‘keseragaman’ yang sudah dianggap nyaman. Saya masih mau berkembang. Saya haus dengan pengetahuan, baik dalam pengertian teori dan juga praktis ‘jalanan’. Saya sering menganggap diri saya ini minim pengetahuan akan banyak hal, dan menyesali kesalahan pola belajar saya waktu kecil yang banyak menghafal dan kurang menggali. Saya takut saat tuapun saya jadi terbiasa jadi manusia penghafal.

Umur ini entah sampai berapa tahun lagi. Entah berhasil atau gagal, saya ingin kerja dengan mental yang ‘street-smart’, lincah, kritis, jeli, berani. Karena itu saya putuskan untuk bekerja di luar perusahaan besar itu. Berusaha kembali menggali orisinalitas diri yang saya khawatir hampir terkubur oleh rasa puas diri menjadi seorang urban yang merasa sudah cukup berbuat sesuatu untuk hidupnya karena sudah lelah bekerja Senin sampai Jumat.

Kebetulan, saya punya kesempatan untuk memilih. Resiko memulai sesuatu dan gagal tentu masih menakutkan. Saya sedang terus mengumpulkan keberanian. Yang penting, saya harus memilih suatu pekerjaan yang saya yakini sesuai nurani, menekuninya dengan sabar, dan tetap bergerak—karena bisnis apapun yang nanti saya jalankan, di situ saya bukan sekedar punya saham—tapi juga ‘mengandung, melahirkan, dan harus membesarkannya’ dengan segenap upaya.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Ngantor


Sudah 6 bulan saya ngantor lagi di perusahaan tempat saya dulu pernah bekerja 6.5 tahun lamanya. Banyak orang bertanya kenapa saya mau kerja kantoran lagi. Mengikatkan diri dalam disiplin waktu Senin sampai Jumat, jam 8.30 sampai jam 5.30. Mau libur harus izin, belum tentu diberi izin.
Sebagian teman kantor sudah lama saya kenal. Tapi, saya menghadapi job baru. Asing buat saya. Baru masuk kerja, dengar-dengar sudah banyak rumor bertebaran di kantor, karena saya bekerja di bawah orang nomor 1 di perusahaan ini. Ada yang bilang saya masih ada hubungan saudara; dengan bos saya; ada yang bilang saya baru pulang dari studi di China sehingga saya punya skill yang dibutuhkan oleh bos saya di tempat sekarang. Padahal, boro-boro punya hubungan saudara. Bertemu bos saya saja tidak pernah selama hampir 7 tahun. Boro-boro pulang studi dari China. Saya ini cuma modal keyakinan waktu melamar kerja langsung dengan bos saya itu. 
Keyakinan saya sederhana: bahwa kalau saya kerja kantoran lagi, kualitas attitude saya semestinya jauh lebih baik dibanding dulu.
 Dulu saya penggerutu. Boro-boro berdedikasi, malah setiap bulan ambil tambahan libur 1 hari. Walaupun sebenarnya libur (tepatnya: bolos) 1 hari itu untuk men-charge fisik dan mental saya yang memang lelah.
Setelah 7 tahun melewati berbagai pekerjaan dan merasakan pula jadi pemilik bisnis kecil-kecilan, saya belajar untuk ‘tahu diri’. Ternyata, jadi business owner sering makan hati kalau karyawan kerja tanpa mau memutar otak dan berdedikasi. Dari situlah asal keyakinan yang tadi saya ceritakan.
Anggaplah saya sombong. Saya sering berpikir, bahwa pekerjaan apapun bisa dipelajari. Bisnis apapun bisa dibangun kalau ada modal yang cukup dan mau belajar. Yang paling sulit dalam berbisnis adalah kalau sedang capek hati menghadapi karyawan; yaitu karyawan yang curang, karyawan yang pembohong, karyawan yang malas, karyawan yang banyak tingkah dan selalu berhitung untung-rugi tenaga dan waktu.
        Saya tidak bilang bahwa sekarang ini saya karyawan yang sempurna baiknya. Karena perusahaan bukan punya saya, tetap saja saya masih bersuka-ria menyambut weekend, jam kerja masih normal-normal saja tidak sampai sering-sering mengorbankan waktu untuk diri sendiri dan keluarga, masih pula sesekali didera rasa malas ke kantor terutama kalau sedang galau menghadapi pekerjaan yang awalnya sering membingungkan.
Belum pula berdedikasi tinggi seperti senior saya dan dua orang rekan kerja saya sekarang. Tapi, saya yang sekarang berusaha memegang teguh prinsip untuk tidak mengambil lebih dari hak saya sebagai karyawan. Saya berusaha tidak menggunakan jam kerja dan menggunakan fasilitas kantor (bahkan penggunaan internet) untuk kepentingan pribadi; saya berusaha mengerjakan pekerjaan dengan sebaik saya bisa; saya tidak pernah bolos; dan tidak lagi memikirkan untung-rugi waktu dan tenaga.
Entah gaji naik atau tidak setelah 6 bulan bekerja, saya ikhlas karena saya percaya pada keputusan bos saya. Tidak apa dibilang naif, daripada saya kembali memelihara kebiasaan mental yang suka menggerutu.
Selain karena prinsip, motivasi saya mau kerja baik-baik juga karena bos saya itu. Saya sudah nekat melamar kerja langsung dengannya dan disambut dengan hangat. Mau ditaruh di mana muka saya, kalau saya kerja seenaknya.
Syukurlah, sampai saat ini saya cukup mendapat kepercayaan. Lagipula, saya sering merasa bahwa bos saya itu kalau sedang punya waktu senang mendidik orang supaya lebih pintar. Walau terlihat cerewet dan galak, dari dulu saya selalu yakin dia pribadi yang sungguh hangat. Sulit saya ungkapkan, seolah-olah ada yang ‘click’—terasa cocok—dengannya sehingga saya seakan cepat nyambung dan paham pada rentetan omelan yang sering dia lontarkan dengan tergesa-gesa. Dia tidak keberatan melihat kekurangan, asal bukan berupa ketidakjujuran dan kemalasan. Dan, menurut saya, ternyata pebisnis sukses itu nomor satu jagonya mendelegasikan pekerjaan dan keberanian menanggung resiko atas pemberian kepercayaan.
Alasan lain saya termotivasi untuk kerja baik-baik, karena saya ingin berguna untuknya.
Kalau melihat wajah bos saya lelah, sering timbul welas asih saya padanya. Walau dia bos dan uangnya berlimpah, tetap dia bekerja keras. Tidak banyak orang yang melihat dia dalam kesehariannya, bahwa sebenarnya dia bekerja tanpa henti dari pagi sampai malam seperti kami semua. Bahkan mungkin seringkali lebih lelah dibanding kami semua, karena saat kami semua sudah istirahat di rumah, dia masih harus dinner dengan tamu perusahaan. Saat kami sedang jalan-jalan di mall pada hari Sabtu siang, dia sedang menghadiri meeting khusus atau acara ramah-tamah dengan relasi bisnisnya. Belum lagi kalau memikirkan berapa puluh ribu orang—karyawan beserta keluarganya—yang bergantung hidup dari perusahaan yang ia pimpin. Tapi, tentunya dia pasti sudah biasa dan menghadapi semua itu dengan biasa-biasa saja--tidak selebay jalan pikiran saya ini.
 Kalau saya bisa jadi sebagian mata-telinga dan tangannya, melakukan pekerjaan yang ia delegasikan dan bisa dipercaya, saya berharap saya telah memberi manfaat untuknya. Saya percaya, pertemuan kami yang tak sengaja setelah 7 tahun tak bertemu, pasti ada maknanya. Minimal, untuk proses pendewasaan batin saya.
Tetap saja, saya ingat ada canda yang sesuai realita: "Cintai pekerjaan Anda, bukan bos Anda. Karena apa yang didapat dari pekerjaan tidak akan meninggalkan Anda, tapi bos Anda sewaktu-waktu bisa meninggalkan Anda." Yah, kira-kira begitu isinya. Intinya, saya mau bilang, saya tidak memuja bos saya. Saat ini saya memilihnya sebagai guru yang ingin saya serap 'ilmunya'.

Saya tidak menyangkal berbagai alasan manusiawi kenapa saya ingin ngantor lagi. Pertama, karena saya ini sebenarnya bermental mandiri. Saya tidak happy kalau hanya bisa menggunakan uang suami tanpa berusaha cari uang sendiri. Walau sedikit, cukuplah untuk saya merasa hidup saya ini tidak membebani siapa-siapa, walaupun itu suami yang sama sekali tidak pernah mengeluh dan membatasi pengeluaran pribadi isteri.
Kedua, karena saya belum punya ide dan cukup nyali untuk kembali memulai bisnis sendiri yang sesuai dengan modal dan minat. Kesenangan saya menulis juga belum tahu kapan bisa memberi penghasilan.
Ketiga, karena saya tidak ingin ketinggalan wawasan dan pergaulan. Saya ingin aktif menulis, tapi kalau saya kurang wawasan, tulisan saya akan seperti kulit tanpa isi. Bisa jadi, itu penyebab saya sering buntu menuangkan gagasan saya dalam tulisan.
Keempat, karena saya yakin suami saya lebih happy punya isteri yang aktif dan bisa berbagi wawasan dengannya. Saya juga lebih happy karena banyak bahan untuk cerita yang bukan hanya seputar gosip keluarga dan isi buku yang baru saya baca.
Kelima, karena saya sebenarnya memang senang bekerja. Kata psikolog yang pernah saya datangi: energi saya besar sekali, sehingga saya semestinya aktif berkegiatan.
Ada satu alasan lain yang selama ini hanya saya ceritakan habis-habisan pada suami saya: bahwa saya ingin menjadi bijak di dunia nyata. Bukannya tenang dan damai di dalam lingkungan yang aman, tetapi mudah depresi saat bertemu kekecewaan di luar zona nyaman.
Memang menyenangkan punya banyak waktu di rumah, baca buku-buku yang baik dan menginspirasi, banyak waktu bermeditasi…. Tapi, apalah gunanya kalau tidak menjalani praktik batin yang sesungguhnya.
Praktik batin yang sesungguhnya bagi saya adalah bagaimana kita menghadapi segala macam kekecewaan di luar zona nyaman. Bagaimana kita menghadapi hidup yang tak mulus-mulus saja. Bagaimana sikap kita ketika kekacauan sedang terjadi. Bagaimana kita melatih kebajikan ketika apa yang kita terima tidak seperti yang kita harapkan.
Menurut saya, dunia kantor adalah bagian dari dunia nyata yang baik untuk berlatih—tempat di mana kelelahan dan kejenuhan mudah memicu orang untuk berkonflik. Sebaliknya, juga tempat di mana welas asih bisa tumbuh subur karena perasaan senasib.
Beruntung, saya yang masih bermental lemah ini bekerja di bawah seorang bos yang bisa dijadikan panutan. Saya menambahkan 1 list lagi dalam hal yang harus saya tumbuhkan: mental rajin dan tak mudah menyerah. Seperti yang tadi saya bilang: bisnis apa saja saya yakin secara teknis bisa dipelajari. Tapi, keteguhan mental, itulah yang membedakan hasil yang dicapai. Semoga, seandainya suatu saat saya sudah punya nyali untuk bekerja mandiri, saya sudah tahu bagaimana cara menjaga mental saya tetap teguh dalam berbagai kesulitan.
Ini juga salah satu bentuk kesombongan. Tapi, memang saya hanya berharap bisa lebih bijak seiring usia saya bertambah.
Terima kasih pada suami dan Mama saya, juga pembantu di rumah. Karena merekalah saya punya energi dan kesempatan untuk bekerja.