Rabu, 02 Maret 2016

Menyusuri Ketulusan Yangon

Setelah tiba di Yangon, 8 Maret 2014, kami berjalan kaki menjelang jam 4 sore dari Park Royal Hotel ke arah Bogyoke Aung San Road. Kami kerap berhenti di tepi jalan untuk mengamati suasana kota yang jauh dari kondisi modern ini. Kabel listrik yang centang perenang menambah semrawut pemandangan di sekitar gedung-gedung tua bertingkat yang sebagian besar catnya telah luntur.

Pedagang kaki lima menggelar sayur-mayur, pakaian, film-film bajakan, serta aneka masakan dalam nampan-nampan aluminium. Niat kami mencicipi jajanan di tepi jalan telah pupus, melihat semua makanan digelar tanpa penutup di tepi jalan yang panas berdebu. Penjaja air dingin menenteng termos yang diganduli saringan kain berisi es balok dan gelas aluminium yang berpindah antar pembeli tanpa dicuci. Kami tak ingin mempertaruhkan trip singkat ini dengan resiko infeksi pencernaan, sehingga terpaksa memilih menu ayam goreng di gerai fast food yang terlihat bersih. Makanan asing jarang terlihat, sehingga banner penjual sushi di sebuah meja kecil di trotoar jadi menarik perhatian.
Saya sempat terkesima melihat banyaknya burung gagak yang berkaok-kaok lantang di deretan pohon yang meranggas di depan gereja cantik khas Inggris berdinding merah bata. Sesekali burung-burung hitam pekat berparuh kokoh itu hinggap di trotoar, seakan tak takut pada arus manusia di sekitar.
Hari sudah gelap ketika kami menghampiri deretan beragam jenis mobil yang difungsikan sebagai taksi untuk mengantar kami kembali ke hotel. Setelah bernegosiasi dengan beberapa sopir taksi, kami menyimpulkan bahwa mereka menawarkan tarif yang sama dan wajar, apalagi mengingat harga BBM lebih tinggi dibanding dengan di Indonesia.
Sarapan khas Myanmar sangat menggugah selera. Suami saya menyukai Ohn-Noh-Khauk-Swae, sejenis mie ayam berkuah santan; sedangkan favorit saya adalah Mont Hnin Gar, sejenis laksa. Setelah sarapan, kami naik taksi ke Chanmyay Yeiktha Meditation Centre untuk mengunjungi seorang guru meditasi berusia hampir 90 tahun yang pernah membimbing retret di Jakarta.
Tujuan utama kami hari itu adalah Shwedagon Pagoda. Pada hari Minggu, pagoda kebanggaan Myanmar ini sangat ramai dikunjungi untuk ibadah dan rekreasi. Nuansa emas mendominasi keindahan Shwedagon dan kuil di sekelilingnya. Sepanjang siang kami berkeliling tanpa alas kaki di bawah terik matahari; asyik memotret badan kuil yang kaya ornamen, langit-langit kayu berukir, pilar kaca mozaik yang berkilauan, patung-patung Buddha berukuran besar, serta kisah-kisah zaman Buddha yang terpahat di dinding.
Esok paginya, kami mendapati bahwa Bogyoke Aung San Market tutup setiap Senin. Sebagai gantinya, kami beralih menyusuri pasar tradisional. Di deretan pertokoan yang padat, seorang lelaki bule gempal, bertato, dan beraksen Perancis, yang sedang menggosok batu cincin dengan gerinda sederhana, memanggil kami mampir melihat-lihat koleksinya. Kami ikut berdesakan di antrian gerobak penjual sirih, yang membungkus campuran rempah dengan daun sirih dan mengemasnya dengan plastik. Kami berfoto di mana saja yang kami anggap menarik—termasuk di depan billboard iklan dan poster film komedi dan action lokal yang mengingatkan pada poster film zaman dulu.
Senja terasa berbeda di Maha Bandoola Park, alun-alun yang dikelilingi gedung-gedung tua cantik berarsitektur khas Inggris seperti Gereja Baptist Emmanuel dan Supreme High Court. Alun-alun ini juga dekat dengan Masjid Jami Bengali Sunni dan Sule Pagoda.
Pagi hari sebelum trip singkat ini berakhir, saya melesat ke Bogyoke Aung San Market. Saya mencari patung gajah kecil dari kayu untuk koleksi pribadi, memilih souvenir dari pahatan kayu, kuningan, dan kulit kerang, serta lukisan batu. Saya sangat gembira menemukan beberapa lukisan dari alang-alang, karya seorang kakek yang ramah dan lancar berbahasa Inggris. Sebagian besar karyanya tanpa menggunakan pewarna, melainkan tersusun dari gradasi warna alami alang-alang yang dirangkai dengan sangat hati-hati.
Keramahan Yangon memberi kesan yang jauh dari bayang-bayang peristiwa kekerasan dalam perjalanan sejarah Myanmar. Di kota yang taraf hidupnya masih miskin ini bahkan tak terlihat pengemis dan pengamen. Saya merasa aman menyusuri Yangon.

Pernah dikirim untuk kontes National Geographic (Januari 2016).

Senin, 29 Februari 2016

Self-Pity

Menjelang 40, saya ingin menuntaskan apa yang semestinya dituntaskan dan mulai bertransformasi.

Usia 40 mungkin sudah lebih dari separuh masa hidup saya. Seharusnya usia ini menjadi tonggak kematangan pribadi yang tak lagi goyah. Kematangan pribadi adalah hal terpenting yang harus diurus. Selebihnya, mengenai pekerjaan yang belum mantap berjalan adalah hal lain yang bagi saya saat ini tak sepenting tujuan untuk jadi manusia yang sehat mental. Apapun yang akan saya kerjakan butuh mental yang sehat untuk bisa berkembang. 

Berbekal perjalanan hidup sebelumnya: 
Pertahankan sikap dan kebiasaan yang baik. 
Tumbuhkan kebaikan yang belum sempurna. 
Sisihkan akar rumput liar yang mengganggu pertumbuhan.

Saat ini, kecenderungan untuk mengasihani diri sendiri (self-pity) adalah rumput liar yang paling merusak. Bagian dari akar kehidupan di masa lalu yang entah dari mana asalnya. Penyakit mental ini sudah cukup lama menjerat. Yang bisa mengobati adalah diri sendiri. Diawali dengan kemampuan menerima bahwa penyakit ini bercokol dalam diri; kemampuan untuk menyaksikan akibatnya yang menghambat dan merusak kualitas pikiran; serta kemauan untuk berusaha mengenali ketika gejalanya muncul, menghentikan jeratannya, dan menggantikannya dengan pikiran yang positif.

Rumput liar ini berakibat mentalitas yang ‘jomplang’ antara saya dan suami. Yang satu begitu dewasa, ringan, positif, efisien, dan semakin maju berkembang. Sedangkan saya, sering menyesali diri sendiri, menghukum diri, dan menuduhnya menghukum diri saya pula. Jika dibiarkan lebih lama lagi, hubungan kami akan jauh dari sukacita, persabahatan kami akan terganggu, bahkan saya bisa jadi tumbuh menjadi rumput liar bagi kehidupan suami saya sendiri.

Contoh lain, adalah saya memberi banyak ‘excuse’ kepada diri saya ketika saya menemui hambatan. Saya sekian lama belajar untuk tidak menyalahkan sesuatu di luar diri saya sendiri, tapi saya terlalu banyak memberi ruang untuk diri saya mengingat kejadian yang sudah lewat dan menyesalinya berlarut-larut. Saya terlalu sering memberi kesempatan pada mental saya untuk berleha-leha dan menunda, dengan berbagai alasan yang semestinya tidak menjadi penghambat. Saya banyak berpikir tapi sering lambat action—buang waktu dan energi yang berharga.

Sudahlah. Cukup di sini saja saya menyesalinya, di usia saya yang menjelang 40. Saya harus menerapkan trik secara cerdik supaya diri saya mampu menyembuhkan diri sendiri. Usia 40 harus jadi tonggak baru dalam hidup saya: bebas dari jeratan self-pity yang sekian lama ada tanpa saya beri perhatian. Basmi akar rumput liar yang membuat saya lamban dan jadi perempuan dewasa yang tidak keren.

Semangat!





Senin, 26 Oktober 2015

Melawan Tumpul

Saya berusaha menjawab dengan jujur dan hati-hati ketika orang bertanya tentang alasan saya resign.
Berusaha jujur, karena saya tidak ingin membohongi diri sendiri. Tidak ingin membungkus alasan saya dengan ‘excuse’ yang saya ciptakan sehingga akhirnya saya percayai, saya bumbui berlapis-lapis hingga berakibat pada mental saya yang selalu cari alasan untuk menutupi kekurangan pribadi saya.

Berusaha menjawab dengan hati-hati, karena tidak ingin  ada salah paham dan memberi kesan mendiskreditkan siapapun, karena pilihan untuk resign adalah sepenuhnya sudah saya putuskan sendiri. Tidak ada siapapun yang sengaja menciptakan segala situasi yang berpengaruh pada keputusan saya. Semua berjalan sesuai apa adanya dengan segala baik-buruknya. Diri saya sendiri banyak kekurangan dan belum berusaha optimal untuk mengatasi situasi yang (kalau boleh saya keluhkan) tidak kondusif.

Jadi, saya memang “ja’im” kalau menjawab pertanyaan ‘kenapa resign’. Menjawab sesingkatnya, seperlunya, menahan diri menjadi manusia pengeluh, dan tetap memperlihatkan respek saya yang tidak dibuat-buat kepada perusahaan dan para pimpinannya. Karena secara sadar, saya tahu bahwa kepala saya ini belum cukup isi untuk selalu bisa menilai segala sesuatu secara adil dan netral.

Di sini, saya hanya ingin cerita sedikit saja mengenai alasan utama saya memilih menutup akhir tahun ini dengan menjadi ‘pengacara’—pengangguran banyak acara. Alasan saya banyak sekali. Mengatakan banyak sekali, saya bukan sekadar ingin memberi kesan bahwa saya sudah berpikir sedemikian matang. Lagi-lagi saya selalu berusaha jujur pada orang-orang, mengatakan bahwa saya sebenarnya galau meninggalkan kantor saya yang gagah itu. Terutama, saya galau memasuki masa tidak punya income dari hasil keringat sendiri. Galau karena masih tak rela disangka pemalas atau egois, tidak punya pekerjaan padahal saya tak punya anak untuk diurus di rumah. Jadi, gengsi itulah yang membuat saya paling tersiksa.

Oke, kembali kepada alasan saya yang sebenarnya banyak itu, yang pada akhirnya saya simpulkan menjadi satu kalimat saja: saya resign karena tidak mau menjadi tua di situ. Akhirnya, itulah yang saya katakan kepada orang lain. Entah, kalau saya dianggap sombong, bilang-bilang bahwa saya tidak mau tua di situ. Padahal banyak orang lain yang kerja di situ sampai tua dan baik-baik saja, senang-senang saja sepertinya.

Apakah saya tidak mau tua di situ karena jenuh?
Ya, saya memang jenuh. Tapi, jangan simpulkan rasa jenuh saya hanya sebatas kejenuhan dengan rutinitas dan tuntutan pekerjaan. Saya tahu, kalau saya mau, saya orang yang bisa bertahan dan mengatasi jenuh, dan saya sudah pernah menjalani.  Kalau saya sedang puncak-puncaknya tidak kuat dengan jenuh, paling-paling saya minta cuti sehari atau malah liburan beberapa hari, supaya bisa masuk kantor dengan tambahan semangat. Cuti saya selalu di-approve dengan baik-baik, karena saya dipercaya atasan dan dianggap tahu diri.

Kejenuhan saya lebih kepada jenuh dengan keseragaman pola berpikir. Saya sering mendadak takut mental saya ‘stucked’ dan tumpul karena banyak menjalani keseragaman. Andaikan harus pakai baju seragam, justru tak masalah bagi saya, karena letaknya hanya di luar. Tapi, penerapan keseragaman pola berpikir, karena ‘budaya’ mengikuti histori kemauan owner, mengikuti aturan-main yang seringkali berat-sebelah (tergantung dept head mana yang paling kuat berkoar complain—catat: kesalahan kecil department lain bisa jadi terlihat sebesar gajah), semakin lama semakin menakutkan bagi saya. Mental saya yang awalnya sudah diset ingin lebih ‘street smart’, lincah, kritis, jeli, berani (kerja seakan saya punya saham di perusahaan itu), bisa menumpul jika dipagari leader yang seringkali ragu-ragu mengambil langkah yang melenceng dari histori standar yang berlaku.

Pekerjaan saya sekretaris. Otomatis saya cuma bisa usul dengan niat baik, lalu kalau tidak digubris ya harus tahu diri untuk bersabar dan menjalani proses serba-lambat terkait apa yang sudah diseragam-seragamkan itu. Saya juga tidak punya spesialisasi dan cukup pintar untuk jadi manusia inspiratif beride-ide cemerlang yang bisa membongkar kacamata kuda banyak orang yang pola kerjanya bikin saya gerah. Karena keterbatasan saya, saya masih butuh arahan dari pemimpin inspiratif yang mendorong dan melincahkan pola pikir saya. Ketika arahan itu tidak saya temukan, saya takut menjadi tua di situ.

Saya tidak mau jadi tumpul di usia sekarang. Bukan hanya tumpul pikiran, tapi juga tumpul hati—membiarkan saja ‘keseragaman’ yang sudah dianggap nyaman. Saya masih mau berkembang. Saya haus dengan pengetahuan, baik dalam pengertian teori dan juga praktis ‘jalanan’. Saya sering menganggap diri saya ini minim pengetahuan akan banyak hal, dan menyesali kesalahan pola belajar saya waktu kecil yang banyak menghafal dan kurang menggali. Saya takut saat tuapun saya jadi terbiasa jadi manusia penghafal.

Umur ini entah sampai berapa tahun lagi. Entah berhasil atau gagal, saya ingin kerja dengan mental yang ‘street-smart’, lincah, kritis, jeli, berani. Karena itu saya putuskan untuk bekerja di luar perusahaan besar itu. Berusaha kembali menggali orisinalitas diri yang saya khawatir hampir terkubur oleh rasa puas diri menjadi seorang urban yang merasa sudah cukup berbuat sesuatu untuk hidupnya karena sudah lelah bekerja Senin sampai Jumat.

Kebetulan, saya punya kesempatan untuk memilih. Resiko memulai sesuatu dan gagal tentu masih menakutkan. Saya sedang terus mengumpulkan keberanian. Yang penting, saya harus memilih suatu pekerjaan yang saya yakini sesuai nurani, menekuninya dengan sabar, dan tetap bergerak—karena bisnis apapun yang nanti saya jalankan, di situ saya bukan sekedar punya saham—tapi juga ‘mengandung, melahirkan, dan harus membesarkannya’ dengan segenap upaya.

Sabtu, 19 Oktober 2013

Ngantor


Sudah 6 bulan saya ngantor lagi di perusahaan tempat saya dulu pernah bekerja 6.5 tahun lamanya. Banyak orang bertanya kenapa saya mau kerja kantoran lagi. Mengikatkan diri dalam disiplin waktu Senin sampai Jumat, jam 8.30 sampai jam 5.30. Mau libur harus izin, belum tentu diberi izin.
Sebagian teman kantor sudah lama saya kenal. Tapi, saya menghadapi job baru. Asing buat saya. Baru masuk kerja, dengar-dengar sudah banyak rumor bertebaran di kantor, karena saya bekerja di bawah orang nomor 1 di perusahaan ini. Ada yang bilang saya masih ada hubungan saudara; dengan bos saya; ada yang bilang saya baru pulang dari studi di China sehingga saya punya skill yang dibutuhkan oleh bos saya di tempat sekarang. Padahal, boro-boro punya hubungan saudara. Bertemu bos saya saja tidak pernah selama hampir 7 tahun. Boro-boro pulang studi dari China. Saya ini cuma modal keyakinan waktu melamar kerja langsung dengan bos saya itu. 
Keyakinan saya sederhana: bahwa kalau saya kerja kantoran lagi, kualitas attitude saya semestinya jauh lebih baik dibanding dulu.
 Dulu saya penggerutu. Boro-boro berdedikasi, malah setiap bulan ambil tambahan libur 1 hari. Walaupun sebenarnya libur (tepatnya: bolos) 1 hari itu untuk men-charge fisik dan mental saya yang memang lelah.
Setelah 7 tahun melewati berbagai pekerjaan dan merasakan pula jadi pemilik bisnis kecil-kecilan, saya belajar untuk ‘tahu diri’. Ternyata, jadi business owner sering makan hati kalau karyawan kerja tanpa mau memutar otak dan berdedikasi. Dari situlah asal keyakinan yang tadi saya ceritakan.
Anggaplah saya sombong. Saya sering berpikir, bahwa pekerjaan apapun bisa dipelajari. Bisnis apapun bisa dibangun kalau ada modal yang cukup dan mau belajar. Yang paling sulit dalam berbisnis adalah kalau sedang capek hati menghadapi karyawan; yaitu karyawan yang curang, karyawan yang pembohong, karyawan yang malas, karyawan yang banyak tingkah dan selalu berhitung untung-rugi tenaga dan waktu.
        Saya tidak bilang bahwa sekarang ini saya karyawan yang sempurna baiknya. Karena perusahaan bukan punya saya, tetap saja saya masih bersuka-ria menyambut weekend, jam kerja masih normal-normal saja tidak sampai sering-sering mengorbankan waktu untuk diri sendiri dan keluarga, masih pula sesekali didera rasa malas ke kantor terutama kalau sedang galau menghadapi pekerjaan yang awalnya sering membingungkan.
Belum pula berdedikasi tinggi seperti senior saya dan dua orang rekan kerja saya sekarang. Tapi, saya yang sekarang berusaha memegang teguh prinsip untuk tidak mengambil lebih dari hak saya sebagai karyawan. Saya berusaha tidak menggunakan jam kerja dan menggunakan fasilitas kantor (bahkan penggunaan internet) untuk kepentingan pribadi; saya berusaha mengerjakan pekerjaan dengan sebaik saya bisa; saya tidak pernah bolos; dan tidak lagi memikirkan untung-rugi waktu dan tenaga.
Entah gaji naik atau tidak setelah 6 bulan bekerja, saya ikhlas karena saya percaya pada keputusan bos saya. Tidak apa dibilang naif, daripada saya kembali memelihara kebiasaan mental yang suka menggerutu.
Selain karena prinsip, motivasi saya mau kerja baik-baik juga karena bos saya itu. Saya sudah nekat melamar kerja langsung dengannya dan disambut dengan hangat. Mau ditaruh di mana muka saya, kalau saya kerja seenaknya.
Syukurlah, sampai saat ini saya cukup mendapat kepercayaan. Lagipula, saya sering merasa bahwa bos saya itu kalau sedang punya waktu senang mendidik orang supaya lebih pintar. Walau terlihat cerewet dan galak, dari dulu saya selalu yakin dia pribadi yang sungguh hangat. Sulit saya ungkapkan, seolah-olah ada yang ‘click’—terasa cocok—dengannya sehingga saya seakan cepat nyambung dan paham pada rentetan omelan yang sering dia lontarkan dengan tergesa-gesa. Dia tidak keberatan melihat kekurangan, asal bukan berupa ketidakjujuran dan kemalasan. Dan, menurut saya, ternyata pebisnis sukses itu nomor satu jagonya mendelegasikan pekerjaan dan keberanian menanggung resiko atas pemberian kepercayaan.
Alasan lain saya termotivasi untuk kerja baik-baik, karena saya ingin berguna untuknya.
Kalau melihat wajah bos saya lelah, sering timbul welas asih saya padanya. Walau dia bos dan uangnya berlimpah, tetap dia bekerja keras. Tidak banyak orang yang melihat dia dalam kesehariannya, bahwa sebenarnya dia bekerja tanpa henti dari pagi sampai malam seperti kami semua. Bahkan mungkin seringkali lebih lelah dibanding kami semua, karena saat kami semua sudah istirahat di rumah, dia masih harus dinner dengan tamu perusahaan. Saat kami sedang jalan-jalan di mall pada hari Sabtu siang, dia sedang menghadiri meeting khusus atau acara ramah-tamah dengan relasi bisnisnya. Belum lagi kalau memikirkan berapa puluh ribu orang—karyawan beserta keluarganya—yang bergantung hidup dari perusahaan yang ia pimpin. Tapi, tentunya dia pasti sudah biasa dan menghadapi semua itu dengan biasa-biasa saja--tidak selebay jalan pikiran saya ini.
 Kalau saya bisa jadi sebagian mata-telinga dan tangannya, melakukan pekerjaan yang ia delegasikan dan bisa dipercaya, saya berharap saya telah memberi manfaat untuknya. Saya percaya, pertemuan kami yang tak sengaja setelah 7 tahun tak bertemu, pasti ada maknanya. Minimal, untuk proses pendewasaan batin saya.
Tetap saja, saya ingat ada canda yang sesuai realita: "Cintai pekerjaan Anda, bukan bos Anda. Karena apa yang didapat dari pekerjaan tidak akan meninggalkan Anda, tapi bos Anda sewaktu-waktu bisa meninggalkan Anda." Yah, kira-kira begitu isinya. Intinya, saya mau bilang, saya tidak memuja bos saya. Saat ini saya memilihnya sebagai guru yang ingin saya serap 'ilmunya'.

Saya tidak menyangkal berbagai alasan manusiawi kenapa saya ingin ngantor lagi. Pertama, karena saya ini sebenarnya bermental mandiri. Saya tidak happy kalau hanya bisa menggunakan uang suami tanpa berusaha cari uang sendiri. Walau sedikit, cukuplah untuk saya merasa hidup saya ini tidak membebani siapa-siapa, walaupun itu suami yang sama sekali tidak pernah mengeluh dan membatasi pengeluaran pribadi isteri.
Kedua, karena saya belum punya ide dan cukup nyali untuk kembali memulai bisnis sendiri yang sesuai dengan modal dan minat. Kesenangan saya menulis juga belum tahu kapan bisa memberi penghasilan.
Ketiga, karena saya tidak ingin ketinggalan wawasan dan pergaulan. Saya ingin aktif menulis, tapi kalau saya kurang wawasan, tulisan saya akan seperti kulit tanpa isi. Bisa jadi, itu penyebab saya sering buntu menuangkan gagasan saya dalam tulisan.
Keempat, karena saya yakin suami saya lebih happy punya isteri yang aktif dan bisa berbagi wawasan dengannya. Saya juga lebih happy karena banyak bahan untuk cerita yang bukan hanya seputar gosip keluarga dan isi buku yang baru saya baca.
Kelima, karena saya sebenarnya memang senang bekerja. Kata psikolog yang pernah saya datangi: energi saya besar sekali, sehingga saya semestinya aktif berkegiatan.
Ada satu alasan lain yang selama ini hanya saya ceritakan habis-habisan pada suami saya: bahwa saya ingin menjadi bijak di dunia nyata. Bukannya tenang dan damai di dalam lingkungan yang aman, tetapi mudah depresi saat bertemu kekecewaan di luar zona nyaman.
Memang menyenangkan punya banyak waktu di rumah, baca buku-buku yang baik dan menginspirasi, banyak waktu bermeditasi…. Tapi, apalah gunanya kalau tidak menjalani praktik batin yang sesungguhnya.
Praktik batin yang sesungguhnya bagi saya adalah bagaimana kita menghadapi segala macam kekecewaan di luar zona nyaman. Bagaimana kita menghadapi hidup yang tak mulus-mulus saja. Bagaimana sikap kita ketika kekacauan sedang terjadi. Bagaimana kita melatih kebajikan ketika apa yang kita terima tidak seperti yang kita harapkan.
Menurut saya, dunia kantor adalah bagian dari dunia nyata yang baik untuk berlatih—tempat di mana kelelahan dan kejenuhan mudah memicu orang untuk berkonflik. Sebaliknya, juga tempat di mana welas asih bisa tumbuh subur karena perasaan senasib.
Beruntung, saya yang masih bermental lemah ini bekerja di bawah seorang bos yang bisa dijadikan panutan. Saya menambahkan 1 list lagi dalam hal yang harus saya tumbuhkan: mental rajin dan tak mudah menyerah. Seperti yang tadi saya bilang: bisnis apa saja saya yakin secara teknis bisa dipelajari. Tapi, keteguhan mental, itulah yang membedakan hasil yang dicapai. Semoga, seandainya suatu saat saya sudah punya nyali untuk bekerja mandiri, saya sudah tahu bagaimana cara menjaga mental saya tetap teguh dalam berbagai kesulitan.
Ini juga salah satu bentuk kesombongan. Tapi, memang saya hanya berharap bisa lebih bijak seiring usia saya bertambah.
Terima kasih pada suami dan Mama saya, juga pembantu di rumah. Karena merekalah saya punya energi dan kesempatan untuk bekerja.

Selasa, 19 Juni 2012

Lima Belas Tahun

Lima belas tahun kita bersama bukanlah waktu yang lama. Ia hanya sekitar 5475 hari, yang tak setiap harinya diisi dengan hubungan yang damai-damai saja. Adakalanya kita bertengkar. Hari-hari selebihnya datar, manis, membosankan, lucu, menggelisahkan, dan sebagian di antaranya sangat istimewa.

Lima belas tahun kita bersama bukanlah waktu yang lama. Ia seolah belum cukup bagi kita untuk saling mengerti; masih sering kuanggap kau tak mengerti aku, dan kau anggap aku tak mengerti kamu. Lalu, kita berdebat atau kadang diam dalam rasa sebal. Masih pula kutemukan pengetahuan baru tentangmu, seolah tak terduga, seakan kau belum lama kukenal; atau mungkin sebenarnya karena aku mudah lupa. Sebenarnya, semua itu biasa saja, hanya bagian dari hidup yang terus-menerus bergulir dan berubah.

Lima belas tahun kita bersama bukanlah waktu yang lama. Ia masih menggelitik hari-hari kita. Kau masih kerap membuatku tertawa oleh lelucon yang tak disangka-sangka; atau masih saling terbahak mendapati kebodohan yang tak pernah kita kira.

Lima belas tahun kita bersama bukanlah waktu yang lama, karena ia tetap tak dapat menuliskan masa depan kita. Setiap pagi yang baru seperti hamparan kanvas kosong belaka, siap menampung pilihan-pilihan dan ketidakpastian. Tak mampu membuat kita meramal apakah lima belas tahun itu akan berlanjut menjadi lima puluh tahun, atau akan berhenti seketika jika kita mau.

Tetapi...

Lima belas tahun kita bersama juga bukanlah waktu yang sebentar. Ia sudah banyak menggulirkan mimpi kita; yang menjadi nyata maupun yang tidak. Yang menjadi nyata sebenarnya mencatat timbunan bahagia (yang sering kita lupakan). Yang tidak teraih mencatat pelajaran kedewasaan (yang mendorong pertumbuhan).

Lima belas tahun kita bersama juga bukanlah waktu yang sebentar. Ia cukup lama untuk lambat-laun membuat kita mampu menularkan sikap hidup satu sama lain: membuat yang berlebih menjadi seimbang; membuat yang kurang menjadi memadai.

Lima belas tahun kita bersama juga bukanlah waktu yang sebentar. Ia akhirnya membuatku terkejut memandang rangkaian foto-foto, surat-surat kita, dan diariku tentangmu. Betapa banyak kejadian yang pernah kulupakan, sekaligus betapa banyak pula yang tetap kuingat.

Lima belas tahun yang lalu kau menghentikan kata-kataku dengan sebuah kecupan.
Hari ini, cinta membuat ribuan kata terhenti, menjadi tak berdaya. Itu saja.

Sabtu, 16 Juni 2012

Mama dalam Hidupku


~Untuk Kontes Cerita Ibu Tercinta (Gramedia)~


Bicara tentang Mamaku, adalah bicara tentang semangat, perjuangan, dan pelayanan tanpa henti pada keluarga, hingga kini usianya 73 tahun. Aku ingin mencoba menceritakan beberapa hal tentang Mama dalam hidupku. Bukan hanya apa yang Mama lakukan untukku saja, tapi juga untuk Papa dan kami sekeluarga.


Mama memegang kebiasaannya sembahyang untuk leluhur atau kerabatnya yang sudah meninggal, dengan serangkaian makanan di atas meja, batang-batang hio wangi, dan kertas-kertas sembahyang. Ia tak pernah lupa melaksanakan itu pada hari-hari khusus. Ia sibuk sejak sehari sebelumnya untuk berbelanja dan memasak. Ada sekitar 10 mangkuk nasi yang ia sediakan, mewakili satu porsi sajian untuk Papaku, kakek-nenek, dan kerabat lain yang ia sayangi. Pastinya selalu ada sayur kuah mendampingi setiap mangkuk nasi. Lauk-pauk wajib berupa bakso (lambang kebersatuan keluarga), rebung/bambu muda (lambang pertumbuhan), kue mangkuk merah (lambang kemekaran hidup), mie (lambang panjang umur). Mama bilang, selain ia melakukannya untuk Papa dan para leluhur, juga untuk melindungi kehidupan anak-cucunya.


Kami –6 anaknya–dan keluarga kami masing-masing, berusaha menyempatkan diri untuk berkumpul pada hari sembahyang, demi menghargai tradisi dan sekaligus berkumpul makan bersama. Kami mengambil masing-masing 3 batang hio dan sembahyang dengan cara kami masing-masing di depan meja sembahyang.


Beberapa tahun yang lalu, aku sering protes melihat kesibukan Mama mempersiapkan makanan untuk sembahyang. Aku merasa ia berlebihan, membuat lelah dirinya sendiri; sepanjang hari di dapur masak bermacam-macam makanan, yang lebih praktis jika dibeli saja. Tapi Mama tak pernah mendengar protesku. Ia tetap masak sebanyak ia mau.


Hingga suatu hari aku sadar, Mama melakukan semua itu sebagai wujud kenangannya untuk Papa dan cintanya pada kami semua. Sambil mempersiapkan masakannya, ia kadang bergumam dengan logat Palembang-nya, tentang makanan-makanan kesukaan Papa yang sedang ia buat. Hari itu, aku sadar tentang sisi melankolis dari tradisi sembahyang ini bagi Mama. Sejak saat itu, kubiarkan Mama sibuk masak apa pun yang ia mau pada setiap hari sembahyang. Masakan Mama pun cepat ludes disantap bersama oleh anak-cucunya.


Mama sopan dan ramah pada semua orang. Pada para penjual sayur di pasar, tukang sampah, pembantu rumah tangga, siapapun yang ia temui. Waktu kami tinggal di Bandar Lampung, ia mungkin adalah orang yang paling ramah pada seorang kenalan Mama, kakek-kakek yang tak dipedulikan oleh keluarganya sendiri. Kakek ini walaupun punya anak, menantu, dan cucu, tetapi sering jalan kaki berkilo-kilo dan minta makan di rumah-rumah kenalannya. Rumah kami di Lampung waktu itu, mungkin adalah rumah yang paling sering ia kunjungi. Mama tak pernah tega menolak membuka pintu untuknya, walaupun kakek satu ini sering berlama-lama bersantai di rumah kami, minta dilayani mengobrol tak penting, dan minta uang saku. ‘Itu pacarmu datang,’ demikian ledek Papaku kalau kakek itu muncul di gerbang rumah kami.


Memikirkan tentang Mama, tak pernah lepas dari kenangan tentang Papa. Papa sering meledek kebiasaan Mama dari dulu hingga sekarang, yaitu menyimpan uang koin dalam celengan. Kata Papa, ‘Mama banyak uang dolar,’ sambil tertawa-tawa, yang sebenarnya bukan uang dolar, hanya koin ratusan rupiah. Celengan yang Mama gunakan biasanya terbuat dari wadah bedak bayi merk Johnson&Johnson bekas pakai, karena Mama hampir tak pernah langsung membuang benda-benda bekas dan mendaur ulangnya sendiri untuk berbagai keperluan. Menurut Mama, ia suka mengumpulkan koin yang logamnya tebal dan berat, karena adanya cerita bahwa banyak orang yang mau menukarnya dengan nilai yang lebih tinggi untuk dijadikan bahan baku berbagai benda seni. Walaupun sejauh yang aku tahu, pada akhirnya Mama tak pernah menukarkannya lebih dari nilai uang itu. Selain itu, celengan itu tak terasa, lambat-laun terasa manfaatnya sebagai tabungan cadangan dalam masa-masa sulit. Tak terasa, jumlahnya menjadi banyak. Mama bisa menyimpan hingga berbotol-botol bedak berisi koin.


Tapi, di balik ledekannya, Papa sangat memuji kepandaian Mama menyimpan uang dan mengatur pengeluaran rumah tangga dalam kondisi ekonomi keluarga yang sangat sederhana. Waktu masih bekerja, Papa menyerahkan seluruh gajinya kepada Mama untuk pengeluaran rumah tangga. Ia hanya mengambil sedikit-sedikit untuk uang saku. Mama tak memperbolehkan Papa membawa uang terlalu sedikit ketika keluar rumah, karena khawatir Papa memerlukan uang dalam kondisi tak terduga. Setiap kali Papa mengatakan perincian uang saku yang terpakai, Mama selalu menukas, ‘Kau tak perlu cerita. Aku tidak bertanya. Pakailah, belilah apa yang kau suka. Yang penting kau jangan kekurangan uang di kantong.’ Sebaliknya, Papa tidak pernah menghalangi Mama membeli apa saja yang ia mau. Mama hobi membeli patung-patung keramik kecil untuk dipajang di lemari. Itulah koleksinya, yang ia beli dari kelebihan uang belanja.


Masa-masa paling berat untuk kondisi ekonomi keluarga adalah ketika 4 orang kakakku kuliah di Jakarta. Biaya kuliah dan tempat tinggal begitu berat dan menggerus tabungan Papa dan Mama. Seberat apapun, Papa dan Mama bertekad untuk menyekolahkan kami hingga sarjana. Mereka sendiri hanya berpendidikan Sekolah Dasar. Ketika itu Papa sudah tidak kerja. Mama sering membuat kue-kue kering, duduk di depan oven yang panas sampai menjelang tengah malam, untuk dititipkan di toko-toko kue. Sering aku dan kakak lelakiku duduk di dapur untuk membantunya, berkali-kali menyuruh Mama segera istirahat. Biasanya dijawab dengan bentakan oleh Mama, karena ia tak pernah mau istirahat sebelum pekerjaannya selesai.


Masa-masa sulit berlalu setelah kakak-kakakku selesai kuliah. Papa dan Mama pindah ke Jakarta, mewariskan rumah kami di Lampung untuk kakak lelakiku. Tak banyak tabungan tersisa untuk membiayai kuliahku dan hidup sehari-hari. Di tahun 1998, masa krisis ekonomi, Papa sakit. Papa juga penuh kekhawatiran, tahu bahwa biaya obat dan rumah sakit tidak murah. Papa dirawat selama beberapa hari, dan diteruskan dengan berobat jalan. Walau kakak-kakakku yang sudah menikah membayar sebagian besar biaya rumah sakit dan obat-obatan, tapi rasa khawatir Papa masih ada.

Suatu hari, Mama menunjukkan buku tabungan bersampul merah pada Papa: Prima Dollar, Bank Danamon. Papa terkejut melihat Mama punya tabungan beberapa ribu dolar Amerika yang ia sisihkan sedikit demi sedikit dari hasil menitipkan kue-kue kering di toko. Mama membeli mata uang dolar sejak lama, yang nilainya melonjak berkali-kali lipat di masa krismon. Papa tertawa senang. ‘Ternyata Mama punya dolar betulan!’

Mama bilang pada Papa, ‘Makanya, kau tenang saja, harus berobat dengan baik. Kita masih punya sedikit uang. Yang penting, kau berobat tenang-tenang dan sebaik-baiknya.’


Cuma kepada Mama aku paling berani meminta sesuatu perlukan. Memasuki semester ke-7, aku bilang padanya bahwa aku perlu komputer untuk mengerjakan tugas-tugas. Papa menyuruh Mama untuk meminta kakak-kakakku patungan untuk membelikanku komputer. Mama menolak. Baginya, aku masih menjadi tanggungannya, dan tidak seharusnya memberatkan kakak-kakakku yang baru beranjak mandiri. Tak lama kemudian aku mendapat kiriman komputer dan monitor second, yang kusambut dengan sangat senang. Pentium 1. Dengan komputer itu aku menyelesaikan tugas-tugas akhir di bangku kuliah.

Komputer itu kemudian menjadi kuno dan semakin kuno. Tergantikan dengan komputer baru yang aku miliki bersama dengan suamiku. Tapi Mama bersikeras tak boleh melenyapkan komputer itu. Dia menyebutnya itu adalah kenang-kenangan dari Papa dan Mama untukku. Suamiku mempreteli sebagian komponen yang masih bisa dipakai. Dan, aku lalu membiarkan Mama menyimpan casing yang hampir kosong itu di gudang rumah.


Mengingat masa kuliah, aku sering teringat Mama mengantarku ke Bandung ketika aku pertama kali pindah ke sana, menjelang mulainya semester pertamaku di Univ. Parahyangan. Kami naik travel, duduk di sebelah sopir, menuju rumah kost di jalan Cihampelas yang sudah kami booking. Hanya 1 kamar kost yang tersisa, kata Tante pemilik kost. Kami sungkan mengatakan pada Tante Kost, bahwa kamar yang ia tunjukkan lebih layak disebut gudang –yang sangat-sangat kotor. Karena sahabatku ada di kost itu, pindah mencari kost lain bukanlah pilihan yang ‘aman’ menurut Mama. Sementara aku harus tinggal di kamar itu, sebelum ada kamar lain yang kosong.

Mama membeli sapu, tongkat dan kain pel, dan lain-lain di minimarket dan bersiap-siap untuk membersihkan kamar. Tapi, Mama mengusirku keluar kamar, dan tetap menyuruhku menunggu di luar sementara ia sendirian menyapu, mengepel, mengelap lantai, dinding dan semua perabot yang luar biasa kotor. Lantainya yang hanya diplester terasa tak pernah bersih walau dilap berkali-kali. Besok kita beli karpet plastik, kata Mama. Aku tak tahu, apakah aku bisa menjadi ibu seperti Mama –walau aku tak pernah membenarkan Mama yang tak mau membiarkan aku ikut bersusah-payah membersihkan kamar yang akan aku tempati sendiri.


Seumur hidupku, Mamaku adalah orang yang kusaksikan paling banyak merawat orang lain. Ia menerima dan merawat kakekku, ayah Papaku yang datang dari Kupang, NTT, dalam keadaan mulai sakit-sakitan. Mungkin kakekku pun tak pernah mengira dalam hidupnya, bahwa ia akan dirawat oleh menantunya hingga meninggal. Membuatkan makanannya pagi, siang, dan malam. Merawatnya ketika sakit. Membersihkan muntahnya. Meladeni kecerewetannya. Memandikan dan membersihkan kotorannya di tempat tidur ketika ia terkapar tak bisa lagi berbuat apa-apa. “Nona Mantu,” demikian kakekku memanggil Mama, “Papa ingin Nona Mantu tahu, Papa sayang sekali sama Nona Mantu.” Demikian kata kakekku dengan dialek bahasa daerah NTT, menjelang akhir hidupnya. Mama tak pernah melupakan kata-kata itu, dan sering mengingatnya dengan puas dan bangga.


Mama merawat Papa yang berkali-kali masuk rumah sakit. Operasi usus buntu akut 3 kali, stroke dua kali (yang kedua kalinya cukup parah, Papa bahkan tak bisa duduk). Pernah sekali waktu Papa bilang padaku, ‘Mama sangat tidak penjijik ketika membersihkan kencing dan kotoran.’ Saat itu aku merasa, Papa mengatakan itu dengan rasa haru luar biasa.

Mama adalah orang yang paling sering menginap di rumah sakit. Ia tak mau mengaku kalau capek dan badannya pun sakit semua, ketika ia tidur di rumah sakit, meringkuk di sofa atau hanya duduk tegak di kursi pengunjung, untuk menemani siapapun yang sakit dalam keluarga.


Menemani orang tua kita di hari tua, biasanya membuat hidup kita dibanjiri kisah-kisah kehidupan mereka di masa lampau yang diceritakan berulang-ulang. Kakak lelakiku berkata, ‘Begitulah orang tua, saat ia bercerita, ia mengenang kisah lama yang terasa hidup dalam ingatannya.’

Suamiku bilang, ‘Seperti itulah orang tua, karena mereka tak lagi memikirkan masa depan, sehingga yang teringat adalah masa lalu; berbeda dengan kita yang masih muda, yang banyak membicarakan angan-angan di masa depan.’ Aku merasa kedua-duanya benar.


Aku mengagumi memori Mama yang tajam dan ceritanya yang detail. Nama kerabat, teman-teman, silsilah, rangkaian kejadian, ucapan-ucapan berbagai orang di masa lalu, yang terasa rinci dan menyusup kuat dalam memorinya. Ia sering menangis mengingat cerita sedih di masa lalu. Ia puas atas hidupnya yang lurus dan kehidupan yang telah berusaha ia jalankan sebaik-baiknya. Juga menangis haru ketika mengenang cinta dan kebaikan almarhum ayahnya, neneknya, dan Papaku. Mereka adalah orang terdekat, tersayang, dan dikagumi oleh Mama.


Kini Mama di usia 73 tahun, masih sehat dan masih giat beraktifitas di dalam rumah. Masih memasak makanan sehari-hari, masih senang mengumpulkan patung-patung keramik dan merawat tanaman hias dan buah-buahan di halaman belakang. Memilih menikmati malam hari dengan tayangan sinetron televisi. Masih pula mengisi sebagian waktunya dengan membantu pekerjaanku mensuplai makanan kecil ke jaringan sebuah hypermarket. Aku tak ingin membuatnya lelah, tapi Mamaku marah jika dilarang membantu. Dan, dengan kecekatan Mama, aku memang sangat terbantu. Kadang-kadang kami juga berselisih pendapat di rumah karena hal-hal sepele, yang segera reda begitu saja.


Dan satu lagi, Mama sesekali masih menjahit baju untukku. Mama menyuruhku memilih modelnya. Ia memilih kainnya, kancingnya, rendanya, pitanya.... Tertawa senang dan menatapku terus-menerus ketika aku memakai baju-baju yang ia buat.


Mama adalah wujud cinta tanpa batas yang aku kenal. Cintanya tiada banding.



Tangerang, 17 November 2011

Kamis, 29 Maret 2012

Teori tentang Menjaga Suami


Gambar diambil dari: http://joyfulweddingsandevents.com/blog/2009/12/01/ynes-and-ryan-at-the-westin-south-coast-plaza/

Akhir-akhir ini, banyak sekali dapat berita tentang perselingkuhan tentang teman dan kerabat dekat di sekitar saya. Bahkan, beberapa dari suami-suami yang diceritakan telah selingkuh itu, tidak disangka-sangka bagi saya. Bukan hanya karena reputasinya yang selalu baik dan saya hormati, keluarganya yang terlihat harmonis, aktif dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga karena usia mereka sudah ‘kepala 5’ dan anak-anaknya sudah dewasa.

Kenyataan itu membuat saya berpikir-pikir tentang lelaki dan kualitas hubungan antara suami-isteri, dan kenyataan bahwa saya pun tidak dapat meramal masa depan keluarga saya sendiri. Apakah nanti suami saya juga akan puber ke-2 dan punya pacar lagi? Punya isteri lagi? Weleh…, tentu kalau memikirkan hal seperti itu, membuat hidup saya malah jadi kacau, tidak tenteram, jadi paranoid, dan malah jadi isteri yang menyeramkan.

Saya pikir-pikir, saya punya beberapa teori sendiri tentang menjaga keharmonisan hubungan rumah tangga yang ingin saya catat di sini sebagai pengingat untuk saya, dan mungkin berguna untuk orang lain. Terserah, kalau ada yang mencibir, karena saya toh belum menunjukkan pembuktian apa-apa, karena saya menikah baru hampir 9 tahun. Belum tahu nantinya nasib pernikahan saya seperti apa. Saya sendiri pun sadar, bahwa saya dan suami saya seakur sekarang mungkin terutama karena sifat suami saya yang seperti air yang tenang. Saya mudah meledak-ledak (walaupun juga mudah memaafkan), dan suami saya tipe yang bisa tetap kalem menghadapi tipe petasan banting seperti saya.

Saya masih jauh dari kualitas isteri ideal, melainkan isteri yang 50% baik dan 50% buruk. Tapi saya bersyukur bahwa saya adalah orang yang senantiasa ingin belajar dan berbagi dengan siapapun. Terserah kalau mau dibilang saya ‘sok menggurui’. Bagi saya sendiri, ‘guru’ bisa ditemui di mana saja. Siapapun yang berniat baik untuk menghalau kegelapan dan berbagi manfaat dengan orang lain, entah dia sampaikan lewat buku-buku, secara lisan, dalam ceramah, dia guru dalam kehidupan.

Begini teori yang ingin saya jalankan, demi keharmonisan rumah tangga saya sendiri. Semoga saya mampu dan seharusnya bisa.

  1. Berusaha Jadi Orang Baik

Setiap hari kita bertemu suami. Kita orang terdekat baginya, lebih dekat dibandingkan dia dengan orang tua dan saudara kandungnya. Tanpa kita sadari, kita dan suami kita akan semakin saling mempengaruhi satu sama lain.

Bagaimana kalau kita jadi orang yang tidak jujur pada orang lain di sekitar kita? Kalau kita tak peduli pada orang tua kita, mertua dan keluarga? Kalau kita suka mengerjai orang lain demi keuntungan pribadi? Kalau kita menipu dalam pekerjaan? Kalau kita egois terhadap teman? Kalau kita suka berbohong perihal uang? Kalau kita kasar pada sopir atau pembantu di rumah dan tidak memperhatikan hidup mereka yang melayani kita? Kalau kita membiarkan suami kita bekerja tidak jujur di kantor?

Saya rasa, walaupun kita menyayangi suami kita dan melayaninya dengan sangat baik di rumah, tetap saja dia adalah pribadi yang bisa memilih untuk respek/hormat kepada kita atau tidak, dari tindakan kita sehari-hari terhadap orang lain.

Jika kita berusaha baik kepada orang lain, kepada keluarganya, kepada teman-temannya, kepada pembantu rumah tangga, dan bersikap jujur dalam pekerjaan, dan mengingatkannya supaya kerja dengan jujur, gelombang pengaruh itu akan merambat juga kepadanya. Tanpa disadari, lama-kelamaan kebiasaan baik yang kita jaga akan jadi ‘rem’ baginya ketika ia ingin bertindak keluar jalur atau merugikan pihak lain. Dia akan berpikir lebih panjang kalau tergoda melakukan tindakan amoral.

Walaupun pada kenyataannya, jadi baik itu kadang-kadang sulit. Kita tidak harus pakai topeng dan tersiksa berusaha jadi malaikat di depan suami kita. Malah sikap yang tidak alami itu terasa palsu, menjemukan, kaku, dan lama-lama mengerikan. Sekali-sekali toh kita marah-marah, ngomel-ngomel, mengeluh di depan wajah suami yang pasti sebal melihat kita…. Kan kita pada umumnya 50% baik dan 50% buruk. Tapi, semarah apapun, prinsip-prinsip yang penting harus dijaga.

Suami saya jarang sekali omong bermanis-manis. Pernah saya tanya, hal apa yang membuatnya nyaman dengan saya, dia jawab: karena dia percaya sama saya. Trust. Dia percaya saya berusaha tidak jadi pembohong, berusaha adil pada orang lain, berusaha tidak berniat buruk mencelakakan orang lain. Walau saya masih jauh dari kualitas orang baik, melainkan masih dalam taraf senantiasa berusaha jadi orang yang lebih baik, tapi saya senang dipercayai. Karena bagi saya, percaya itu landasan utama dalam persahabatan, dalam setiap hubungan.

  1. Sering-seringlah Berbagi Inspirasi dengan Suami

Karena kita butuh banyak belajar dari orang lain, teori saya berikutnya adalah tetap banyak-banyaklah membaca yang baik-baik/bagus-bagus, banyak nonton film, dan kadang-kadang ngobrol dengan keluarga dan teman-teman tentang berbagai masalah kehidupan (jiaaah…). Ini supaya jadi banyak bahan mengobrol dengan suami (obrolan kita tentu biasanya seputar pekerjaan, uang, anak, gossip tentang teman kerja, tetangga, keluarga…). Kalau kita banyak baca dan nonton film yang bagus, mendengar ceramah inspiratif dari orang-orang pintar, ngobrol dengan orang yang kita hormati, kita terbiasa berpikir untuk memetik pelajaran dan mengambil hikmah dari setiap kejadian.

Buku-buku dan film-film yang bagus bukan sekadar menggurui. Tapi, cerita yang baik bisa sangat menginspirasi kita untuk kepingin jadi orang yang lebih bijak. Sharing dengan suami tentang setiap inspirasi yang kita dapat, bahkan diskusi dan berdebat tentang itu, akan membuat dia mempelajari hal-hal yang baik juga bersama-sama kita. Dan, saya rasa ini efektif untuk ‘mendidik’ diri sendiri dan suami kita.

Saya terbiasa bawa buku ke mana-mana. Kalau sedang tidak ngobrol di jalan, saya baca. Saya pikir, bagus juga kalau kadang-kadang saya memilih untuk diam dan baca, untuk mengurangi kecerewetan saya yang memang senang cerita panjang-lebar; yakni demi untuk memberi dia juga privacy untuk nyetir dengan hening, atau sibuk dengan pikirannya sendiri.

Kalau sedang di perjalanan, apalagi di tol yang panjang atau jalan yang macet, kadang-kadang saya tawarkan suami saya, apakah dia mau saya bacakan artikel-artikel singkat atau cerpen yang bagus yang baru saja saya temui. Kadang-kadang dia mau. Jadi, saya beralih fungsi jadi ‘audiobook player’, supaya dia juga ‘hemat’ waktu untuk baca buku.

Dia dapat manfaat, saya dapat sisi pandang yang berbeda dalam melihat hikmah suatu cerita, dan kami sama-sama belajar dari kehidupan orang lain.

  1. Mendekatkan Diri dengan Keluarga

Kalau kita dekat dengan keluarga kita dan keluarga suami, mungkin bisa menambah pakem ‘rem’ suami kita. Kalau suami kita juga sayang dengan keponakan-keponakan kita, orang tua kita, menghargai saudara kandung kita, dia akan berpikir lebih panjang seandainya ingin selingkuh. Karena dia tahu, bukan hanya kita yang akan kecewa, tapi juga anggota keluarga kita yang menyayangi dia.

Sebaliknya, kalau kita sebagai isteri dekat dan sayang dengan ayah/ibu/adik-kakaknya, dia pun tahu bahwa bertambah satu pasukan besar lagi yang akan dia kecewakan seandainya dia merusak hubungan dengan isterinya.

Anggaplah ini teori ‘polos’. ‘Lugu’. ‘Naif’. Tidak apa-apa kalau dibilang kita memanfaatkan kedekatan untuk ‘mengikat’. Yang penting, kan bukan hanya itu tujuan kita. Membuat suami kita menghormati orang tua dan seluruh keluarga kita (apapun kondisinya) akan memberi banyak keuntungan dan keharmonisan. Berusaha menyayangi dan bersikap baik pada keluarga suami pun akan memberi kita banyak kebahagiaan dan keharmonisan, dan jauh dari masalah (apapun kondisinya). Minimal hidup kita tenang, karena tidak punya musuh dalam lingkungan keluarga sendiri. Dan, jauh dari sakit hati, karena suami kita tidak dibiasakan untuk bersikap meremehkan keluarga kita sendiri. Sering-seringlah bertemu keluarga. Tumbuhkan pikiran positif tentang keluarga kita sendiri, dengan cara belajar menerima dan memahami dari sudut pandang yang berbeda. Pikiran positif itu pun akan menular kepada orang terdekat.

Suami saya mengenal 11 orang keponakan saya sejak mereka masih batita (di bawah umur 3 tahun). Karena pada dasarnya dia juga suka pada anak-anak kecil, dia sayang pada keponakan-keponakan saya, dan mereka juga sayang pada suami saya yang sudah mereka kenal dan tinggal berdekatan dengannya seumur hidup mereka.

Saya pun bersyukur karena saudara-saudara kandung saya cukup akrab dengan suami saya. Dan, saya punya mertua yang sangat mudah akrab dengan siapa saja, termasuk dengan keluarga saya.

  1. Berusaha Ringan, Relaks, dan Riang

Ini teori yang sangat tidak mudah untuk diri saya sendiri. Saya yang mudah panik, sering banyak berpikir menjelimet, dan sulit riang di saat seperti itu dan di saat PMS.

Tapi, saya tahu, bahwa saya harus selalu belajar untuk berpikir ringan, relaks, dan riang dalam menghadapi setiap masalah atau situasi yang tidak diinginkan. Kalau saya bisa riang di saat sulit, tentu suami pun akan lebih relaks. Kalau dia relaks, dia akan nyaman. Kalau dia nyaman, pikirannya lebih jernih. Kalau pikirannya jernih, dia akan lebih mudah mencari jalan keluar. Kalau dia merasa didukung dalam menemukan jalan keluar, dia tak merasa perlu mencari ‘penghibur’ lain di luar rumah yang membuatnya ringan, relaks, dan riang.

Lagi-lagi, boleh menganggap ini teori naïf. Itu rangkaian sebab-akibat yang saat ini saya percaya sebagai teori ke-4.

Untuk ini, saya berusaha sering-sering membaca dan membaca lagi buku seri Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya yang ditulis oleh Ajahn Brahm, seorang bhikkhu Inggris. 108 cerita pendek dalam satu buku yang ditulis dengan ringan, kocak, dan sangat cerdas. Buku ini sangat menginspirasi saya, menjadi bagian penting dalam proses belajar saya sebagai manusia yang ingin semakin bahagia dari waktu ke waktu. Mengajarkan saya untuk belajar berpikir positif, ringan, relaks, dan riang menghadapi kehidupan yang tak terduga dan seringkali tak sesuai harapan.

  1. Sesekali Baca Majalah Wanita

Dunia ini ladang pembelajaran. Banyak orang yang murah hati berbagi tips tentang berbagai hal. Petiklah pelajaran. Baca buku akan menghemat waktu kita untuk mencari tahu tentang apa saja yang kita belum tahu dari pengalaman orang lain.

Sesekali baca majalah wanita, supaya kita memahami lelaki (suami kita), mendapat inspirasi bagaimana menjadi pasangan yang menyenangkan, bagaimana merawat diri, tentang komunikasi yang efektif, tentang apa yang bisa kita lakukan untuk seks yang saling menghibur. Dan, berusaha praktekkan.

Inspirasi yang didapat dari majalan wanita, juga menjadi pereda kejengkelan kita pada suami. Pernah suatu waktu dalam keadaan jengkel pada suami, saya baca-baca online magazine Cosmopolitan, pada banyak artikel tentang memahami sifat dan perilaku laki-laki dan bagaimana menjadi pasangan yang menyenangkan. Dan, ketika itu, saya jadi diingatkan tentang kekurangan-kekurangan saya sebagai pasangan, sekaligus fakta-fakta tentang laki-laki yang mungkin sudah ‘bawaan dari sononya’ yang perlu saya pahami dan terima. Emosi saya nyeeesss…, reda seperti disiram air. Sejak saat itu, saya tahu perlunya membaca majalah wanita. Saring yang cocok dan penting untuk kebahagiaan rumah tangga kita.

  1. Tips-tips tambahan lainnya:

- Menghargai privacy, tidak buka-buka HP dan dompetnya. Hargai dia sebagai pribadi yang bebas, seperti juga kita ingin bebas.

- Tidak menguasai uang suami. Pastikan suami selalu bawa uang yang cukup, sehingga dia tidak malu dan tertekan dalam pergaulan dengan teman-teman di kantor.

- Jangan sering mengecek suami ada di mana, sedang apa…, padahal dia juga banyak pekerjaan, dan mungkin malu dan tertekan kalau teman-temannya tahu kita terlalu sering mengecek keberadaannya.

- Jangan terlalu ikut campur dengan keputusannya terkait pekerjaannya sendiri.

Malu dan tertekan adalah penderitaan. Kalau dia menderita, dia akan cepat muak melihat sumber derita (isterinya) dari waktu ke waktu.

Sekali lagi, ini adalah teori yang berusaha saya jalankan sebagai isteri. Hasil dari cara saya menjalankan, tentunya belum tahu. Kehidupan ini belum diketahui akhirnya kalau belum final.


Tentang “BAGIAN TERBAIK”

Sering terjadi, suami-suami selingkuh di saat sudah punya banyak uang. Mungkin karena merasa kepercayaan diri meningkat, mencari “mainan” baru dan segar, atau karena cenderung selalu tidak puas. Saya pernah 'menyindir' suami, dengan bilang bahwa seandainya dia selingkuh di masa dia sudah sukses, berarti saya dapat “susahnya” di masa muda, dan setelah dia “hidup senang” dia nikmati bersama orang lain.

Tapi, dalam suatu perenungan, mendadak saya tersadar. Seandainya pun suatu hari nanti ternyata suami saya juga akhirnya selingkuh dan memilih perempuan lain sebagai pasangan yang dia cintai, bukan berarti saya mendapat “susahnya.” Tetapi, saya tetap telah mengalami “BAGIAN TERBAIK” dari kehidupan suami saya. Bagian terbaik itu bukanlah masa ketika dia sudah punya banyak uang, melainkan masa-masa bersama saya dalam kemudaannya, dalam kerja kerasnya membayar cicilan rumah, mobil, berusaha menambah tabungan…; dan berusaha memberi saya hiburan, liburan dan hadiah di tengah keterbatasan.